Mengaplikasikan Tuma’ninah di 2019

Tuma’ninah: diam sejenak sebelum berpindah ke gerakan shalat selanjutnya.

Selamat datang 2019!

Ini merupakan tahun yang saya nanti-nanti, setelah melewati 2018 yang cukup terjal dan melelahkan. Mungkin hampir sama dengan sebagian orang lainnya, tahun baru artinya harapan baru. Banyak hal-hal baru yang ingin segera saya laksanakan di tahun ini. Beberapa resolusi juga sudah saya susun.

Memang, resolusi tahun ini bukan hal baru, dan bahkan sudah ada sejak beberapa tahun sebelumnya. Tapi, ya sudah rahasia umum bahwa resolusi 2019 adalah menyelesaikan apa-apa yang telah direncanakan di tahun-tahun sebelumnya.

Jika menilik ke belakang, 2018 membuat saya ngos-ngosan karena haru berlari sangat kencang. Memiliki tiga pekerjaan sekaligus, bahkan merasakan kerja 18 jam sehari dan tujuh hari dalam sepekan, serta harus bepergian rutin ke negeri jiran dalam beberapa bulan, membuat kesehatan mental saya terganggu.

Di tambah, dengan kesibukan tersebut membuat saya tak sempat bersenang-senang. Saya lupa jalan-jalan, bahkan tak ada waktu menulis untuk diri saya sendiri. Ya, bisa dibilang 2018 saya lalui dengan sprint dan tergesa-gesa.

Untuk itu, pada tahun ini rasanya saya harus mengerem kecepatan hidup. Saya ingin mendedikasikan tahun terakhir saya di usia 20-an ini untuk hidup secara tuma’ninah atau slow living kalau bahasa kerennya.

Saya ingin menikmati setiap detik di tahun ini, dan mengabadikannya sebisa mungkin. Mengambil jarak sejenak untuk melihat kemana saya harus melangkah di tahun-tahun selanjutnya. Umur memang tak ada yang tahu, tapi mempersiapkan rencana masa depan tak ada salahnya.

Beberapa orang terdekat saya mungkin sudah dengar keinginan saya untuk pindah ke Bali tahun ini. Saya ingin merasakan suasana baru dan kehidupan yang belum pernah saya jalani sebelumnya. Bahkan, saya terpikir untuk berganti karir dengan sesuatu yang tidak ada hubungannya dengan tulis-menulis. Dunia yang telah membentuk saya hingga saat ini.

https://www.instagram.com/p/BrfZJNWhBC4/?utm_source=ig_web_copy_link

Intinya, saya tengah merasa payah. Rasanya lelah terus menulis, apalagi hanya menulis hobi saya satu-satunya yang bisa menjadi pelepas penat. Saat sehari-hari sudah disibukkan oleh menulis, yang dikarenakan harus dan bukan karena suka, rasanya saya sudah tidak ada tenaga untuk menulis lagi di waktu luang. Ya jadinya saya enggak punya pelarian lain dari stres.

Mudah-mudahan di tahun ini, yang diharapkan saya dapat mengambil jeda, akan ada semangat-semangat baru yang tumbuh. Saya bisa tuma’ninah sambil mempersiapkan diri untuk menjalani marathon panjang kehidupan di usia saya yang baru.

Sebagai pengingat, saya menulis beberapa hal yang ingin saya lakukan di tahun ini. Semoga semuanya tidak sekadar wacana dan bisa dilaksanakan dalam tempo sesegera mungkin.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.