Hoaks dan Autokritik Untuk Media Massa

Beberapa hari ke belakang, di dunia Twitter yang saya ikuti ramai akan hujatan dan cibiran terhadap salah satu media online di Indonesia. Pasalnya, media tersebut dianggap menyebar berita palsu atau hoaks akibat keliru mencatut akun Twitter seseorang dan mengaitkannya dengan tersangka gerombolan penyebar hoaks yang ditangkap baru-baru ini. Hal ini menjadi ironi, mengingat media massa yang seharusnya menjadi tempat untuk memverifikasi sebuah informasi, nyatanya malah menegaskan ketidakpercayaan masyarakat terhadapnya melalui konten-konten yang tidak akurat. Untuk itu, sebaiknya media massa harus mulai berbenah jika ingin tetap menjadi sumber informasi yang valid dan dicari oleh pembaca.

Benang merah antara hoaks dan media sebenarnya bukan barang baru dan sudah berlangsung sejak lama. Salah satu contoh yang populer adalah yaitu serangkaian artikel tentang ditemukannya kehidupan di bulan yang diterbitkan oleh The New York Sun pada 1835. Namun, fenomena hoaks di media pada era digital meningkat sangat drastis dan signifikan. Selain karena peran media sosial, hal ini juga bisa terjadi karena wartawan dituntut untuk menghasilkan berita secara cepat, sehingga lalai dalam menjalankan tugas jurnalistik dan kurang melakukan riset terhadap tema yang diangkat, sehingga menghasilkan berita yang tidak akurat.

Di Indonesia, jumlah aduan terhadap berita palsu tercatat meningkat terutama pada setiap gelaran tahun politik. Pada periode Januari-September tahun lalu, Kementerian komunikasi dan informatika menerima aduan konten negatif berupa berita palsu sebanyak 6.973 aduan, dengan puncak jumlah aduan pada Januari 2017 seiring dengan pelaksanaan pilkada di DKI Jakarta. Fenomena tersebut diprediksi akan terus meningkat pada waktu dekat ini menjelang Pilkada di beberapa daerah dan pemilihan presiden pada tahun depan. Jika hal ini terus dibiarkan, akan menjadi gelagat buruk bagi industri media.

Dalam riset yang berjudul Social Media and Fake News in the 2016 Election oleh Allcott dan Gentzkoew dari Stanford University (2017) menyebutkan salah satu dampak dari beredarnya berita palsu dan hoaks adalah membuat tingkat kepercayaan menurun dan masyarakat semakin skeptis terhadap media massa karena semakin sulit dibedakan dengan produsen hoaks. Konsekuensi yang dihasilkan dari merebaknya berita palsu ini pun tak kalah mengkhawatirkan, yakni dapat membuat masyarakat menjadi terpolarisasi dan mudah terpecah belah dengan isu-isu yang dilemparkan secara terus menerus. Oleh karena itu, gerakan memberantas hoaks pun mulai digalakkan oleh banyak pihak di seluruh dunia.

Meskipun memberantas hoaks adalah tugas bersama, media massa sepatutnya berada di garda paling depan karena memiliki fungsi dan tanggung jawab untuk mengedukasi masyarakat dengan memberikan berita dan fakta yang akurat dan dapat dipercaya. Adapun, peran yang dapat dilakukan oleh media adalah dengan memproduksi karya jurnalistik yang presisi dan valid, sesuai dengan prinsip-prinsip jurnalisme.

Salah satu tren positif di dunia media adalah dengan berkembangannya jurnalisme berbasis data. M Badri dalam riset yang berjudul Inovasi Jurnalisme data Media Online di Indonesia (2017) memaparkan, semenjak kasus Panama Paper mencuat ke publik, ditambah dengan semakin populernya konsep big data di tengah tsunami informasi, beberapa media di Indonesia mulai menerapkan praktik inovasi data jurnalisme. Hasil riset tersebut juga menunjukkan tiga media online nasional yakni Katadata, Tirto, dan Beritagar telah menerbitkan laporan khusus yang diciptakan melalui analisis data dan riset yang mendalam. Penyajian visualisasi data pun membuat pembaca dapat memahami data yang rumit dan mudah mendapatkan insight dari fakta-fakta yang disajikan.

Dalam laporan Reuters Institute tentang Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2018 disebutkan bahwa hingga saat ini jurnalisme data adalah salah satu cara untuk menangkal problem hoaks. Hal tersebut dinilai bisa menjadi cara untuk membangun kembali kepercayaan publik terhadap media. Walaupun membutuhkan kerja keras karena skeptisme publik yang besar terhadap fakta yang disajikan, hal itu dinilai tidak akan menjadi masalah selama didukung oleh eskalasi terhadap kualitas karya jurnalistik dan peningkatan literasi masyarakat terhadap berita dan media.

Jika media massa di Indonesia sudah mulai berbenah dengan mengedepankan penyajian fakta dengan data yang valid, hal itu bisa ikut menekan jumlah berita hoaks yang tersebar. Pasalnya, masyarakat akan kembali mempercayai media dan mulai bisa memilah mana berita yang layak untuk dikonsumsi. Hal itu kemudian tak hanya untuk menunaikan tanggung jawab media terhadap publik, tapi akan ikut berdampak pada internal perusahaan media itu sendiri. Saat masyarakat kembali percaya dan media tersebut, maka traffic dan keuntungan juga akan kembali ke tangan pemilik media. Win-win solution.

 

Referensi:

Allcott dan Gentzkoew. 2017. Social Media and Fake News in the 2016 Election. Stanford University. https://web.stanford.edu/~gentzkow/research/fakenews.pdf

Badri. 2017. Inovasi Jurnalisme data Media Online di Indonesia. Serikat Perusahaan Pers. http://id.m.spsindonesia.org/file/_/arh2fqc0c4k4314

Newman. 2017. Journalism, Media, and Technology Trends and Predictions 2018. Reuters Institute. https://reutersinstitute.politics.ox.ac.uk/sites/default/files/2018-01/RISJ%20Trends%20and%20Predictions%202018%20NN.pdf

 

 

Share This:

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.