“Lemu”

Seorang kawan lama tiba-tiba mengirim pesan singkat. Hanya satu kata itu di Instagram, mengomentari foto yang aku post di instastory.⁣⁣
⁣⁣
Aku tahu, dia bercanda. Aku juga suka bercanda, makanya kubalas pesan itu dengan bercandaan yang serius. “Body shaming ya Anda” – balasku singkat.⁣⁣
⁣⁣
“Terus kudu piye?”⁣⁣
“Ya ga usah komen”⁣⁣
“PMS kayanya,” balasnya lagi.⁣⁣
“Ya itu enggak berlaku cuma buat aku saja,” kataku.⁣⁣
“Bisa ga sih kalau perempuan dikomen kaya gitu, balasannya kaya laki-laki: ah kumaha urang weh, badan-badan urang” tanyanya.⁣⁣
“Ya bisa, aku bisa banget bales dan komen kaya gitu. Tapi kan enggak semua orang –bukan cuma perempuan– punya kondisi yang sama”.⁣⁣
Lebih panjang aku pun menulis: kamu kan engga pernah tahu apa yang sudah dilalui oleh orang itu sebelum dia ngepost fotonya itu.⁣⁣
Bisa jadi, orang itu sedang insecure dengan tubuhnya, sehingga komentar bercandamu itu bisa jadi pemicu depresi.⁣⁣
⁣⁣
Atau, bisa jadi orang itu sudah mati-matian menurunkan berat badan karena disarankan oleh dokter untuk kondisi kesehatannya. Dia sudah menempuh usaha berat untuk mencapai bentuk tubuh seperti itu, dan komentar satu katamu bisa meruntuhkan semangatnya.⁣⁣
⁣⁣
Atau, bisa saja orang itu baru saja kena ghosting orang yang disayanginya, jadi kondisinya lagi sangat rapuh. Komentar singkatmu bisa jadi luka di hatinya.⁣⁣
⁣⁣
Kita enggak pernah tahu kalau komentar bercanda sesederhana satu kata itu bisa berdampak besar bagi orang lain.⁣⁣
⁣⁣
Padahal, bisa banget kita ngendaliin jempol, menghapus empat huruf itu dan menggantinya dengan satu emoji senyum, sudah cukup untuk mengubah mood orang lain. Sesederhana itu.⁣⁣
⁣⁣
“Tara komen padahal, sekalinya komen dicarekan,” ujarnya.⁣⁣
⁣⁣
“Nah, itu bisa enggak komentar dan baik-baik saja, kan? Daripada ambil risiko melukai orang, mending tahan aja jempolnya. Jangan dibiasain ya komen isengnya :)”⁣⁣
⁣⁣
Kemudian dia menutup percakapan itu dengan mengirim gif Leo DiCaprio yang sedang melambaikan tangan.⁣⁣
⁣⁣
⁣⁣
@30haribercerita @atirecrebirah03 #30hbc20 #30hbc2014