Sop matahari

“Kamu masih sering main ke Solo?” tanyanya.
“Enggak, udah jarang. Udah enggak ada yang dikunjungi,” jawabku.
“Sama, sekarang kalau aku ke Solo rasanya sudah beda, udah gak kaya dulu lagi,” timpalnya.
“Sekarang, aku ke Solo palingan cuma buat kulineran saja,” imbuhku.

***

Solo, yang konon merupakan Ibu Kota Batik dunia itu, belakangan wajahnya semakin berubah. Meskipun kenangan tetap ada setiap jengkal jalannya, tapi suasana yang terbangun sudah tidak memberikan kesan yang sama.

Setiap kali ke sana, semakin aku tidak mengenali kota itu. Pembangunan di sana-sini, atau bisa jadi karena sudah bisa move-on, sehingga romantisasi atas kota yang kutinggali lebih dari setengah dekade itu semakin menipis.

Meskipun demikian, masih ada beberapa kawan yang tetap setia menjaga ingatan kami. Masih ada beberapa memoar kecil yang sengaja tetap kusimpan di hati agar tidak pergi. Salah satunya adalah Sop Matahari.

Menikmati sop matahari di dekat Stasiun Balapan selalu menjadi ritual perpisahaan sebelum meninggalkan Solo setiap akhir dari kunjungan singkat. Menikmati sop matahari menjadi pertanda aku akan pergi dari Solo sekali lagi.

***
Maret 2013

“Kamu mau aku ajak makan di mana sebelum kamu pergi meninggalkan Solo dan aku?,” katanya.

“Terserah, yang penting denganmu,” jawabku sambil tercekat.

Kemudian dia membawaku untuk menikmati Sup Matahari Viens kesukaanku, sebelum mengantarku ke terminal bus Kartasura dan memberikan pelukan terakhir sambil berucap “selamat tinggal” tanpa “sampai jumpa”.

@30haribercerita
#30hbc20 #30hbc2010
#kejarsetoran #betterlatethannever