Senja warna coral

“Sabarlah, tunggu sampai senja selesai. Dan kau boleh tak mencintaiku lagi setelah ini.”

***

Tadi siang, dia tiba-tiba meneleponku. Tak seperti biasanya yang selalu diawali sebuah pesan.

Dia berbicara dengan jeda yang sangat panjang di setiap kalimatnya. Suaranya juga bergetar. Aku tahu dia menahan marah dan tangis. “Nanti sore aku jemput ya, kita bicara langsung,” selaku.

Aku tahu, hal ini pasti bakal terjadi. Cepat atau lambat. Tapi tak pernah terbayangkan akan terjadi hari ini.

Selama kami bersama setahun terakhir ini, kami tahu tidak pernah benar-benar saling mencintai.

Kami berjumpa tiga tahun lalu. Dia baru saja berpisah dengan suaminya, dan aku baru putus dengan kekasihku yang sudah kucintai sejak masa kuliah.

Aku suka dia.

Dia perempuan yang menarik, tidak terlalu cantik tapi pintar dan sangat perhatian. Tampaknya, dia juga menyukaiku. Dia selalu bilang kalau aku sangat bisa diandalkan dan tidak pernah mengecewakannya.

Pertemuan yang sangat intens, serta ketidakbiasaan kami terhadap kesendirian, membuat kami memutuskan untuk bersama.

Jam 17.13 aku sudah berada di lobi gedung kantornya. 11 menit kemudian, dia sudah duduk di sampingku. Sabuk pengaman sudah terpasang, pun lipstik warna coral kesukaannya tampak baru terpulas di bibirnya.

“Kita sambil cari makan malam ya, aku lagi pengen seafood,” ujarku yang tidak diresponsnya.

Akupun memacu mobil ke arah barat, ke arah di mana mentari akan tenggelam.

“Aku mencintaimu,” katanya sambil terisak. “Ini tidak akan berhasil,” lanjutnya.

Jeda dan kesunyian menyapa beberapa detik.

“Kamu lihat, senja hari ini sangat cantik, sebentar lagi akan serupa dengan warna bibirmu” tuturku, menyingkirkan sepi yang aku benci.

@30haribercerita
#30hbc #30hbc2009
#kejarsetoran #betterlatethannever