Apresiasi

Setelah membutuhkan waktu beberapa lama untuk memutuskan apa atau siapa yang kepadanya saya ingin mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya.

Setelah harus mengeliminasi orang-orang yang berada di top-of-mind saya karena hampir setiap hari berjumpa, atau yang tak pernah luput untuk bertukar sapa, meme, sticker dan obrolan yang random dan tidak jelas.

Akhirnya, postingan apresiasi ini dengan tulus saya berikan kepada orang yang selama ini tidak pernah mendapatkan apresiasi yang cukup dari saya.

Orang yang bahkan fotonya saja tidak ada di galeri foto handphone saya. Orang yang pesannya seringkali saya balas dengan ogah-ogahan.

Orang yang berada di daftar terbawah untuk dikabari saat saya mengalami peristiwa buruk dan kesedihan.

Orang yang saya tahu selalu bangga atas pencapaian saya sekecil apa pun itu. Orang yang saya tahu selalu mendoakan yang terbaik untuk saya.

Dia adalah Mamah, ibu saya. Perempuan yang melahirkan saya tiga dekade lalu. Perempuan paling kuat dan paling tegar yang pernah saya tahu.

Selama 15 tahun menjadi orangtua tunggal, berjuang sendiri untuk membesarkan dan menghidupi keempat anaknya. Selalu berusaha memberikan yang terbaik untuk hidup saya.

Mungkin Mamah bukan ibu terbaik sedunia, tapi sudah pasti yang terbaik dalam hidup anak-anaknya.

Tidak, kami tidak punya masalah apa-apa. Hanya saja, saya bukan orang yang ekspresif dalam menunjukkan perasaan saya. Saya lebih senang berdiam diri, dan berupaya membuatnya bangga.

Meskipun sudah 12 tahun saya tidak hidup di rumah, dan seringkali enggan pulang ke rumah. Tapi, pesannya “Kapan pulang ke Cianjur?” tetap selalu masuk ke WhatsApp.

So, terima kasih Mamah. Maaf belum bisa mengabulkan semua keinginan Mamah. Semoga Mamah terus bahagia 🙏🏽

@30haribercerita #30HBC20 #30HBC20apresiasi
#latepost #betterlatethannever #appreciationpost