Antisipasi

“Hoping for the best, prepared for the worst, and unsurprised by anything in between.” Dulu, saya sempat menjadi orang yang –bisa dibilang, terlalu– optimistis. Memiliki mimpi-mimpi yang sangat indah dan ideal. Mempunyai rencana yang cukup detail untuk mencapai semua yang dicita-citakan.

Sayangnya, saya alpa pada hal yang sangat penting: mengkalkulasi risiko kegagalan. Sehingga saya tidak punya rencana B apalagi Z, dan strategi untuk mengantisipasi hal-hal di luar plan.

Akibatnya, saya dihancurkan ekspektasi sendiri. Saya tersungkur karena angan-angan dan harapan pribadi. Dan itu sering terjadi berkali-kali.

Setelah belasan musim hujan berlalu, pengalaman mengajarkan: tak masalah punya harapan, tapi jangan lupa persiapan. Persiapan atas semua hal yang mungkin melempar kita dari zona aman.

Sekarang, cara berpikir saya terbalik. Ketika merencanakan sesuatu, yang pertama dieksplorasi adalah hal paling buruk apa yang mungkin terjadi. Dari situ, saya langsung memetakan plan B-Z, serta menyusun alternatif strategi.

Misalnya saja, saat jalan-jalan bareng seseorang, sebelum berangkat ke suatu destinasi, saya selalu bilang: “Kalau nanti kita kepisah, kamu bakal bisa nemuin aku di A”. Bahkan, sebisa mungkin melatih partner saya untuk mempersiapkan hal itu: “Eh, kalau misalnya kita ketinggalan pesawat, apa yang bakal kamu lakuin?”. Cara seperti itu sangat-sangat-sangat efektif melepaskan saya dari rasa stress dan kecewa saat hal buruk terjadi pada hidup saya, karena kondisi mental memang sudah dipersiapkan untuk mengatisipasi kejadian-kejadian buruk.

Bagi sebagian orang, hal itu mungkin disebut kontraoptimis dan suudzon, atau dibilangin: “ih, kamu kok mikirnya malah yang buruk-buruk sih”. Padahal, kalau tidak bisa bersiap menghadapi hal buruk, maka hal yang lebih buruk akan terjadi pada diri kita.

@30haribercerita #30HBC20 #30HBC2007
#latepost #betterlatethanneve