Jendela Rumah

Hari ini, saya sempat ‘berdiskusi’ dengan seorang teman tentang eksistensi seorang istri di dalam rumah tangga. Teman saya bersikukuh bahwa seorang istri sebaiknya diam di rumah, dan menjadi ibu rumah tangga penuh waktu.

Saat mendengar hal tersebut, sontak saya bersuara. Jelas-jelas saya tidak sepakat dengan pendapat tersebut. Saya berkeyakinan, bahwa seorang istri harus tetap memiliki ruang untuk mengaktualisasikan dirinya di luar rumah (memiliki pekerjaan dan berpenghasilan). Berbagai alasan saya lontarkan, salah satunya adalah sebagai bekal jika di tengah pernikahan si suami meninggalkan si istri, entah karena ajal, celaka, atau cerai.

Poin tersebut benar-benar saya yakini, karena melihat ibu saya yang kemudian menjadi single parent dan harus mengurus keempat anaknya. Mungkin, saya tidak akan sampai pada kondisi seperti saat ini jika ibu saya tidak memiliki ‘penghasilan’ dan hanya mengandalkan uang pensiun ayah saya yang tidak penuh pula.

Saat memaparkan jawaban-jawaban tersebut, saya menggunakan nada yang cukup tinggi, sedikit terbawa emosi. Tapi untungnya kami tidak sampai kelahi.

Kemudian malam tiba, dan saya sempat berpikir ulang. Hal yang saya katakan dan saya yakini di atas, memang tidak bisa dipaksakan. Kita harus belajar melihat segala sesuatu melalui jendela dari rumah yang berbeda.

Apa yang diyakini teman saya, tentunya beralasan dan memiliki dasar, serta niat yang baik. Itu yang paling penting, karena niat baik seringkali memiliki banyak jalan. Kadang sesuai dengan apa yang kita anggap ideal, atau bahkan sebaliknya.

Kemudian hal penting lainnya adalah jangan pernah memaksakan apa yang kita anggap benar pada orang lain, karena benar-salah itu relatif dan kita tidak pernah tahu bagaimana kondisi di dalam ‘rumah’ orang lain.

Demikian.