Minggu Pagi – Tiang Listrik – Dangdut

Minggu pagi ini, aku bangun di sampingmu yang sepagi ini telah sibuk dengan bacaanmu. Aku bertanya apa yang sedang kau baca? Kau hanya diam, sambil sesekali membenarkan letak kacamata dan menyeruput teh. Lalu aku mencoba memelukmu, tapi kau hanya bergeming, seakan aku sedang memeluk tiang listrik.

Pasti ada yang salah. Tak seperti biasanya dia hanya membisu dan sok sibuk seperti itu. Tiba-tiba, seseorang mengetuk pintu kamar. ‘Housekeeping…’ terdengar dari luar. Aku membalik badan dan menutup badanku dengan selimut. Memberikan sinyal bahwa aku enggan turun dari kasur.

Mau tak mau, dia yang akhirnya beranjak menuju pintu dan membukanya. Secara sayup, terdengar nyanyian Happy Birthday dari pintu. Sial! Aku lupa! Ternyata hari ini dia ulang tahun, dan pegawai hotel lebih tahu daripada aku.

Pantas dia hanya diam, dan sekarang aku kalang kabut berkutat dengan pikiran tentang apa yang harus kulakukan supaya perasaannya membaik. Dia kembali ke kamar sambil membawa piring dan sepotong kue — komplimen dari hotel tempat kami menginap.
.
“Selamat ulang tahun ya. Sorry keduluan petugas hotel,” ungkapku sambil memasang senyum paling ramah dan tak lupa menguncir rambutku. Aku tau, dia paling suka melihatku dengan rambut ekor kudaku. Tapi, dia masih saja memasang muka datar.
.
“Jangan marah dong sayang. Ayo bilang, aku harus ngapain supaya kamu seneng?” pintaku.
.
“Beneran? Aku mau kamu nyanyi.”
.
“Mau aku nyanyi apa?” Jawabku.
.

Lalu sebuah senyuman jahil terbit di wajahnya. Aku mulai tidak enak hati.
.
Senyum kemenangan muncul, saat dia bilang: “Apapun, asalkan diiringi musik dangdut”.
.
#30HBC1821
#30hbcmengarang
#30haribercerita