GEREJA

Apakah teman-teman non-kristiani pernah masuk ke gereja dan ingat seperti apa detailnya?

Saya ingat secara jelas kapan dan bagaimana pertama kali masuk gereja. Saat itu, perayaan Jumat Agung pada 2012. Saya ditugaskan untuk meliput perayaan paskah di sebuah gereja Katolik di Solo yang pernah diancaman bom saat perayaan natal.

Saya ingat betul, ada keraguan dan ketakutan yang cukup besar ketika harus masuk ke dalam gereja. Pasalnya, saya seorang bigot pada saat itu (sedih). Di gereja pertama, saya merasa’aman’, karena banyak teman-teman reporter lain yang saya kenal yang juga liputan di sana. Kemudian, saya mengunjungi gereja kedua. SENDIRIAN. Saya bingung, dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Beruntung, saya bertemu dengan Pastor Teddy yang bersedia menemani saya masuk ke gereja.

Saat menginjakkan kaki ke gereja, beberapa jemaat melirik kepada saya dan Pastor Teddy. Kalau boleh menduga dari raut wajah, pasti mereka bingung kenapa ada perempuan berkerudung masuk ke tempat peribadatan mereka.

Saya hanya 5 menit di dalam gereja, setelah itu keluar dan mengobrol panjang lebar dengan Pastor Teddy. Ia bercerita banyak hal tentang kegiatan yang dilakukan gereja untuk masyarakat sekitar.

Saya menyimak, mendengarkan, dan mengajukan beberapa pertanyaan. Pastor Teddy menjawab dengan nada bersahabat dan hangat. Jujur, sejak saat itu, pandangan saya terhadap kaum Nasrani berubah 180 derajat.

Dulu, saya sangat anti pada orang yang tidak beragama Islam, bahkan saya merasa berdosa untuk hanya sekadar berteman dengan mereka. Mungkin itu karena saya dibesarkan di lingkungan homogen, yang populasi muslimnya 99,8%. Kurangnya interaksi dengan teman-teman nonmuslim, membuat saya tidak mengenal agama lain, ketidaktahuan itulah yang membuat saya berpikiran dangkal.

Untungnya, menjadi wartawan memaksa saya harus bisa masuk ke semua lapisan masyarakat tanpa sekat; membuat saya belajar banyak dan menghargai perbedaan. Bahkan sejatinya hal itu menguatkan iman.

#30hbc1811
#30haribercerita
@30haribercerita