nendensan

The Coffee Shop Effect

Dari sepanjang pengalaman karirku, hanya sekitar 8.3% yang saya habiskan bekerja 9 to 5 dan di belakang meja, sisanya atau sekitar 91.7% saya bekerja dengan format flexi-hours dan flexi-working place. Bisa dibilang juga, fleksibilitas dalam jam dan tempat kerja merupakan `syarat` utama saat saya mencari dan menerima tawaran pekerjaan.

Karena kondisi kerja yang demikian pula, mengantarkan saya sebagai orang yang hobi bekerja di coffeeshop atau cafe. Sebisa mungkin saya menghindari kerja dari rumah, karena godaannya sangat tinggi (lihat kasur dikit rasanya pengen rebahan terus). Selain itu, saya juga selalu merasa lebih produktif kalau bekerja di kedai kopi.

Dulu saya merasa akal-akalan kepala saya saja soal produktivitas itu, supaya ada justifikasi jajan di coffee shop terus. Eh ternyata, beneran dong suasana coffee shop itu bisa merangsang kreativitas dan produktivitas.

Hasil riset Emily G. Nielsen yang dipublikasikan pada 2015 dengan judul The Coffee Shop Effect: Investigating the Relationship between Ambient Noise and Cognitive Flexibility menunjukkan bahwa kebisingan di coffee shop ikut mempengaruhi kinerja yang berhubungan dengan kreativitas.

Saking berdampak positifnya ambience di coffeeshop ini, sampai ada inisiatif yang membuat Coffitivity, sebuah platform yang menyajikan coffee shop ambience playlist untuk meningkatkan kinerja, dan ada juga artikel jurnal yang spesifik membahas soal Soundscapes of Productivity.

Selain soal ambience, berdasarkan beberapa sumber lainnya juga bilang bahwa ada beberapa faktor lain yang membuat kerja di kedai kopi lebih fokus, antara lain karena variasi atmosfer dan lingkungan yang tidak membuat bosan (bahkan fasilitas yang lebih baik daripada kerja di rumah atau kantor), kurangnya gangguan internal, serta ada perasaan terkoneksi dengan orang lain karena memberikan rasa sosial tanpa mengganggu pekerjaan.

Meskipun milenial dan gen Z sering dinyinyirin tidak mampu beli rumah karena kebanyakan beli kopi, tapi kita perlu melihat lebih lanjut dalam soal fenomena `coffice` alias coffee shop office ini.

Cianjur, 5 Januari 2024

REVISI KEDUA UU ITE RESMI BERLAKU

Headline di kanal-kanal berita hari ini bikin kepala pusing. Hasil revisi kedua UU ITE yang fenomenal itu akhirnya diundangkan sebagai UU No.1 Tahun 2024. Katanya sih, revisi kedua ini demi menjaga ruang digital Indonesia yang bersih, sehat, beretika, produktif, dan berkeadilan.

Tapi rasanya kok kaya ga mungkin gitu, soalnya pembahasan revisi keduanya aja diem-diem sok misterius. Mana kita tahu gimana Panja DPR dan Pemerintah memformulasikan pasal-pasalnya, jangan-jangan kaya revisi pertama di 2016, bukannya tambah baik, eh tuh pasal-pasal karet malah lebih rajin dipake buat mengkriminalisasi orang-orang yang mengritik pemerintah.

Pemerintah sih bangga nyebut-nyebut kalau pasal soal pencemaran nama dan ujaran kebencian sudah direvisi. Tapi kan dari dulu masyarakat mintanya #REVISITOTALUUITE dan 2 pasal itu harusnya dihapus, bukan cuma direvisi. Oke lah, rumusan pasalnya sekarang sedikit lebih baik dari yang sebelumnya.

Tapi hati-hati, ada pasal baru yang perlu diwaspadai, yakni pasal 28 ayat 3 soal informasi bohong. Ini pasal karet yang ga dijelaskan lebih rinci apa yang dimaksud dengan informasi bohong di mana ancaman pidananya 6 tahun pula, alias kalau kalian dilaporin bisa langsung dipenjara. 😰

Belom lagi pasal 40a ayat 2 soal pembatasan akses masih dipertahankan. Kasus internet shutdown di Papua pada 2019, dan pemblokiran situs seperti di 2022 sangat bisa terulang lagi di masa depan.

Kalau kaya begini, tujuan awal UU ITE yang seharusnya melindungi warga agar bisa bebas beraktivitas di dunia maya, kok malah jadi aturan yang bisa bikin netizen bungkam, ya?

Ah, tampaknya peribahasa ‘terlepas dari mulut buaya masuk ke mulut harimau’ cocok menggambarkan kondisi netizen Indonesia saat ini.

Cianjur, 4 Januari 2024

Hati-hati dengan Konten Kocheng

Saya bukan penggemar kucing, atau makhluk hidup lainnya secara umum. Sebisa mungkin saya menghindari berinteraksi dengan mereka, dan beruntungnya seringkali tidak didekati juga (mungkin karena bisa merasakan energi buruk saya). Meski demikian, saya sering juga berbagi konten kocheng kepada kawan yang saya ketahui menyukai dan memiliki kucing.

Riset soal konten kocheng di media sosial sebetulnya sudah banyak dilakukan setidaknya dalam satu dasawarsa terakhir. Dalam penelusuran singkat di Google Scholar dengan kata kunci cat content social media, muncul sekitar 1,67 juta hasil riset yang berhubungan.

Hasil pencarian teratas merupakan riset terkait The Meow Factor yang dipublikasikan Edith Podhovnik pada 2016, menunjukkan bahwa kucing memliki kehadiran yang kuat dalam seni dan budaya populer, periklanan, media dan internet. Hal inilah yang kemudian terus dijaga oleh industri.

Saking kuatnya konten kocheng, bahkan dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan lainnya, mulai dari penyebaran misinformasi, hingga propaganda politik. Epoch Media menyebutkan bahwa strategi dengan menggunakan konten kucing sangat efektif untuk mempublikasikan konten yang salah dan misleading karena digital platform akan terus mempertahankan konten yang memiliki engagement tinggi.

Soal politik juga banyak contohnya, misalnya Wakil Perdana Menteri sayap kanan Italia yang menggunakan gambar kucing untuk memperhalus postingan anti-migran di Facebook pada 2018. Sementara itu, di Amerika Serikat pemilik kucing atau anjing diasosiasikan dengan kelompok partai tertentu.

Kalau di Indonesia gimana? Ah kalian pasti tahu sendiri jawabannya 😀

Karena engagement yang tinggi dan bisa memberikan cuan, kucing jadi sangat rentan mengalami eksploitasi demi views yang meroket. Cats Protection—lembaga kesejahteraan kucing di UK—menyoroti video di mana pemilik memprovokasi hewan peliharaannya dengan berbagai cara dan tak jarang membuat mereka stress untuk mendapatkan reaksi dalam upaya membuat konten tersebut menjadi viral.

Jadi, sebaiknya kita semakin mindfull saat menikmati konten kocheng, lihat lebih dalam narasi apa yang ada di baliknya, dan mungkin bisa bantu melaporkan konten yang mengeksploitasi dan menyakiti si kucing.

Cianjur, 3 Januari 2024

Ribetnya WordPress versi terbaru

Mengawali tahun baru 2023 dengan menengok kembali resolusi yang selalu hadir di tiap pergantian tahun: belajar menulis. Kali ini lebih niat karena mengaktifkan lagi domain blog lama yang dulu sempat dijahili, di-deface dan akhirnya tidak terselamatkan (termasuk konten-kontennya yang juga tidak pernag diback-up).

Continue reading…

Apa yang Saya Dapatkan dari Sekolah di Luar Negeri?

Semenjak menyelesaikan studi magister di Inggris dan kembali ke Indonesia, banyak rekan-rekan yang bertanya tentang pengalaman hidup di Inggris dan apa saja yang saya dapatkan selama satu tahun belajar di University of Birmingham.

Jika boleh jujur, saya merasa kebingungan untuk menjawab hal-hal tersebut. Pasalnya, saya merasa kehidupan saya di Inggris tidak begitu wow dan tidak penuh perjuangan seperti rekan-rekan yang lain. Bisa dibilang flat atau biasa-biasa saja, jadi rasanya tidak akan menarik untuk diceritakan.

Namun, rekan saya tetap memaksa agar saya bisa menceritakan apa saja yang menurut saya menarik, karena katanya tidak mungkin hidup setahun di luar negeri dan tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, saya pun memutar ingatan dan mencoba mencomot apa-apa saja yang bisa didramatisasi agar jadi cerita yang menarik.

Sistem Pendidikan

Narasi yang selalu saya bangun adalah bahwa saya tidak mendapatkan ilmu apa-apa di bangku kuliah. Semua yang saya pelajari di kelas bisa ditemukan dengan mudah di kelas-kelas online gratisan yang tersebar di Internet. Bahkan, jika sekarang saya ditanyai hal-hal yang berkaitan dengan bidang keilmuan program magister saya, kemungkinan besar jawaban saya cuma geleng-geleng kepala. Kemudian, saya mencoba membandingkan sistem pendidikan di kampus Inggris dengan sistem pendidikan yang saya dapatkan waktu kuliah S1 di Indonesia.

Hal yang paling terasa berbeda adalah posisi dosen dan mahasiswa yang sejajar. Egaliter. Serta para akademisi yang tidak direpotkan dengan hal-hal keformalan. Dosen, mahasiswa boleh ke kelas dengan menggunakan kaos dan celana training. Saya punya dosen favorit, namanya Peter Tino, dia profesor di Intelligent Data Analysis. Sepanjang ingatan saya, dia selalu pakai kaos oblong ke kelas, dan beberapa kali menggunakan celana pendek dan sepatu trainer. Kelasnya yang berada di ruang teater selalu penuh, dan dia selalu menjelaskan materi secara sabar, runtut dan telaten.

Dosen sangat terbuka untuk diajak diskusi, bahkan mereka menyediakan waktu khusus dalam setiap pekannya agar mahasiswa bisa mengetuk pintu ruangannya dan bertanya tentang materi kuliah yang tidak dimengertinya, atau diskusi via surel juga sangat diterima. Pokoknya, atmosfir yang terbangun adalah memungkinkan mahasiswa untuk tidak segan dalam menyampaikan pendapat dan pertanyaan.

Kedua, hal lain yang mencolok adalah soal fasilitas. Ehem. Kayanya kalau ini memang tidak mudah untuk diperdebatkan. Selama kuliah di University of Birmingham, setiap mahasiswa aktif memiliki akses tidak terbatas pada jurnal-jurnal internasional. Koneksi internet yang super kencang juga menjadi nilai tambah dan memudahkan kami untuk mengakses bahan-bahan pelajaran. File sebesar apapun bisa diunduh dalam hitungan detik. Menonton video kuliah pun bebas buffering dan ini penting bagi mahasiswa seperti saya yang enggak cukup sekali dengar agar paham materi yang disampaikan. Untungnya, setiap perkuliahan di kelas direkam, sehingga semua mahasiswa bisa mengunjungi lagi penjelasan dosen jika ada yang kurang jelas setelah keluar dari kelas.

Selain itu, akses perpustakaan kampus yang 24 jam merupakan berlian di antara tumpukan emas. Saya selalu bangga menceritakan bagaimana saya selalu menginap di perpustakaan kampus, bahkan punya rekor menghabiskan waktu lebih dari 48 jam nonstop di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas yang dikejar tenggat. Selama bergadang di perpustakaan pun saya tidak pernah sendirian, karena banyak mahasiswa lain yang juga memaksimalkan fasilitas kampus ini.

Selanjutnya, menurut saya, konsep pendidikan di Inggris lebih menjunjung tinggi pemahaman ketimbang teknis dan hasil akhir. Hal ini dibuktikan dengan bagaimana perlakuan departemen saya (School of Computer Science) terhadap tugas akhir/disertasi. Sepengetahuan saya, mereka tidak menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan proyeknya dengan sukses. Maksudnya, selama mahasiswa bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipahami saat mengerjakan tugas akhirnya, itu sudah cukup. Tapi dengan catatan, nilai yang didapatkan akan sekadarnya.

Saya jadi ingat waktu project inspection, saat itu saya mempresentasikan kemajuan tugas akhir yang saya kerjakan dalam 1,5 bulan. Dosen ‘penguji’ saya menyatakan bahwa proyek saya cukup ambisius untuk diselesaikan dalam waktu yang singkat. Dia bilang, bukan berarti mematahkan semangat saya, tetapi semuanya memang harus realistis. Dia melanjutkan, jika memang kemudian saya tidak berhasil menyelesaikan proyek saya tepat waktu, saya cukup menjelaskan dalam laporan saya kenapa kemudian saya tidak dapat menyelesaikannya, kendala apa saja yang saya dapatkan, dan bagaimana menurut saya hal tersebut bisa diantisipasi. Intinya, laporan proyek itu harus memuat hal-hal apa yang saya dapatkan, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi, untungnya saya bisa menyelesaikan proyek tugas akhir dengan hasil yang cukup memuaskan.

Bahkan, pada saat demo and presentation (ini tahap akhir sebelum submit laporan dan penilaian atau semacam sidang tesis kalau di Indonesia), dosen penguji saya tidak menguji dengan pertanyaan-pertanyaan yang intimidatif, mereka malah mengajak berdiskusi tentang apa yang saya temukan, dan memberikan saya masukan tentang apa yang sebaiknya saya lakukan agar nilai saya lebih maksimal. Ujiannya pun tidak dilakukan di kelas dan disidang seperti terdakwa, melainkan kami (saya dan dua dosen penguji) sama-sama duduk di satu meja di communal room.

Kehidupan Sehari-hari

Kalau berbicara tentang kehidupan sehari-hari, terutama bagi muslim yang tinggal di negara ‘kafir’, Birmingham tidak memberikan pengalaman yang dramatis. Pasalnya, 44% dari populasinya adalah imigran dan 21% dari total penduduknya merupakan muslim. Hal itu membuat fasilitas untuk muslim dengan mudah ditemukan. Ada masjid, tempat salat di tempat-tempat umum, bahkan makanan halal pun banyak dijajakan. Ya, jadi memang tidak menantang hidup di Birmingham, tidak seperti orang-orang yang tinggal di kota yang populasi muslimnya benar-benar minoritas.

Meskipun demikian, tinggal di luar negeri membuat saya dapat berinteraksi dengan berbagai macam manusia yang berasal dari berbagai belahan dunia. Hal ini membuat pengetahuan saya bertambah dan pemahaman saya terhadap berbagai hal sedikit banyak berubah. Saya memiliki teman dari China hingga Urugay, dari Karachi hingga New York. Saya berkesempatan untuk berinteraksi dan berdiskusi dengan orang ateis, agnostik, komunis(?), dan lain-lain. Pokoknya semua jenis manusia yang tidak bisa ditemukan di Indonesia bisa di temukan di benua biru. Dari hasil interaksi itu, saya belajar untuk tidak mudah melabeli orang dengan prasangka, karena misalnya orang-orang ateis yang pernah saya anggap biadab, nyatanya mereka sangat peduli pada lingkungan, orang agnostik yang awalnya saya duga bajingan yang tidak beragama, nyatanya lebih relijius dan peduli terhadap sesamanya. Saya jadi melihat dunia tidak hanya hitam dan putih.

Saya juga jadi mempertanyakan kembali apa-apa yang pernah saya yakini. Pertanyaan-pertanyaan tentang Islam yang dilontarkan oleh rekan-rekan saya pun membuat saya harus belajar lagi, dan memaksa saya membaca banyak referensi demi menemukan jawabannya. Hal ini rasanya tidak akan pernah saya lakukan jika saya hanya tinggal di Indonesia, karena saya sudah merasa puas dengan Islam dan keilmuannya yang saya pelajari selama ini dan tidak akan ada orang yang bertanya mengenai hal itu.

Di sisi lain, kemajuan peradaban di luar negeri juga berhasil membuat saya mengimplemetasikan kebiasaan-kebiasaan baik, seperti malu untuk membuang sampah sembarangan, menaati peraturan lalu lintas, menghargai privasi orang lain, membawa tas belanja sendiri untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik, tidak segan mengucapkan maaf dan terima kasih, dan selalu mencoba menekan jumlah sampah makanan dengan mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan semua yang ada di piring.

Mungkin banyak anggapan bahwa orang yang pulang dari sekolah di luar negeri akan menjadi liberal dan lebih banyak mengeluh dan mencerca saat kembali ke Indonesia, karena menemukan cuaca yang lebih panas, jalanan yang macet, tingkat polusi yang tinggi, hingga budaya antre yang sangat kacau. Tidak bisa dipungkiri, saya pun merasakan hal tersebut dan sempat ‘jet lag’ atau ‘reverse culture shock’, tapi bagi saya yang memang belajar untuk tidak mengeluh sejak lama, melihat hal tersebut bukan sebuah masalah, tapi malah menjadi tantangan agar saya bisa berkontribusi untuk memecahkan hal tersebut.

Saya juga yakin, tujuan LPDP mengirimkan banyak mahasiswa ke luar negeri bukan hanya untuk agar kami pintar karena belajar dan mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik, tetapi agar kami bisa lebih berempati dan melihat masalah dari akarnya, serta berusaha untuk memecahkannya. Menurut hemat saya, akan sangat berbeda seseorang yang melihat permasalah di Indonesia dari dalam Indonesia, dan melihat Indonesia dari luar Indonesia. Perbedaan perspektif itulah yang kemudian diharapkan dapat dikolaborasikan untuk membangun Indonesia menjadi negeri dan bangsa yang lebih baik di masa depan.

Jadi, kurang lebih itulah apa-apa yang saya dapatkan selama kuliah di Inggris, ya sebenarnya masih banyak yang lainnya juga, tapi rasanya yang bagian itu cukup ditinggal di Birmingham saja dan tidak perlu diceritakan ke banyak orang ;).

Demikian.

Yogyakarta, 24 Februari 2018

#MIWF2016: Menyanyikan Puisi Bersama AriReda dan Joko Pinurbo

Mengintepretasikan dan menghidupkan setiap rangkaian kata dari puisi bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari membaca perlahan dalam hati, mendeklamasikannya dengan berapi-api, hingga menyanyikannya lewat musikalisasi puisi.

Cara terakhir yang disebut di atas saat ini mulai kembali dikenal oleh masyarakat, sejak awal kali diperkenalkan pada tahun 1980-an oleh penyair Sapardi Djoko Damono dan Fuad Hasan. Musikalisasi puisi muncul karena kegelisahan atas sedikitnya karya-karya penyair Indonesia yang dikenal oleh mahasiswa sastra dan masyarakat Indonesia secara umum.

“Masyarakat lebih mudah menghafal lirik saat menyukai sebuah lagu, maka ide untuk menyanyikan puisi diambil oleh Sapardi dan Fuad Hasan,” ujar Reda Gaudiamo, vokalis duo musikalisasi puisi AriReda saat memberikan materi pada sesi workshop: Singing Your Poetry di Makassar International Writers Festival 2016, Mei lalu.

(ki-ka) Reda Gaudiamo, Ari Malibu, Joko Pinurbo, Khrisna Pabichara

Gitaris dan vokalis AriReda Ari Malibu mengatakan musikalisasi puisi muncul dengan cukup berbeda dibandingkan dengan musik folk dan musik populer lainnya. Hal itu sempat membuatnya agak canggung saat pertama kali membawakan aransemen dari musik-musik musikalisasi puisi. “Saya awalnya tidak ngeh dengan yang namanya puisi, setelah diberi melodi dan semakin sering dimainkan, semakin terasa menyentuh,” katanya.

Dia menambahkan, dengan penghayatan yang baik pada sebuah puisi, bisa membuat melodi musik tiba-tiba muncul, dan hal itu bisa menjadi inspirasi untuk membuat musik dalam mengiringi musikaliasi puisi.

Sementara itu, penyair Joko Pinurbo menilai musikalisasi puisi telah melewati interpretasi ganda terhadap puisi. Interpretasi pertama dilakukan oleh penggubah lagu kepada puisi, dan kedua dilakukan oleh penyanyi terhadap lagu tersebut. “Puisi awalnya adalah bunyi yang dibekukan menjadi kata, kemudian dicairkan lagi dengan musik,” ujarnya.

Dia menambahkan, seseorang yang mendengarkan musikalisasi puisi memiliki kesempatan untuk mempunyai interpretasi baru terhadap puisi yang sama. Selain itu, musikalisasi puisi juga bisa memberikan nyawa dan menghidupkan puisi-puisi yang akan terasa kering dan datar jika hanya dibaca biasa.

“Salah satu cara untuk mengubah puisi menjadi lagu yang baik adalah dengan melakukan penghayatan yang intens serta memiliki hubungan yang intim dengan puisinya.”

Intim yang dimaksud Joko Pinurbo adalah seorang penggubah lagu harus bisa mengenal bentuk dan karakter masing-masing kata, sehingga bisa memiliki interpretasi yang tepat terhadap setiap kata dalam puisi tersebut.

Dia juga mengatakan, musikalisasi puisi adalah paduan dari dua bahasa yang universal, yakni puisi dan musik. Kedua hal tersebut bisa diterima oleh masyarakat dan mendengarkannya sebagai manusia, bukan sebagai bagian dari kelompok tertentu. “Saya percaya, puisi dan musik yang bagus bisa mendamaikan dunia.”

catatan:

Duo AriReda merupakan pasangan musikalisasi puisi yang sudah saya kenal lebih dari setengah dekade lalu. Perkenalan kami pertama kali diawali saat saya tengah menggandrungi puisi-puisi Sapardi, dan tanpa sengaja saya terdampar di sebuah video Youtube yang menampilkan mereka tengah menyanyikan karya-karya SDD.

Sejak saat itu, saya mengoleksi hampir semua video penampilan mereka dan menikmatinya nyaris tiap hari. Karena rutin mendengarkan musikalisasi yang merdu dan teduh itu, membuat saya bisa menghapal setiap baris puisi-puisi SDD, yang saya yakin tidak akan pernah bisa saya lakukan jika sekadar membaca tulisannya saja.

Bagi yang belum tahu tentang AriReda, berarti kalian katrok! bisa dilihat penampilan mereka di video Youtube berikut:

Mencari Alasan Kenapa Surga Diciptakan

“Setelah puluhan tahun kau menunggu, kini kau telah berjalan ke surga. Ketika hampir tiba, ketika kutanyakan ‘kenapa surga diciptakan?’ kau hanya bisa diam. Untuk apa kau berjalan? Kau juga tidak tahu. Dasar manusia!”

Kisah dalam novel ini berawal dari kematian Rante Ralla, seorang pemimpin adat di Desa Kete’. Kematian tersebut bisa dibilang membawa banyak persoalan bagi keluarga yang ditinggalkan, khususnya Allu Ralla yang merupakan keturunannya.

Malang tidak bisa ditolak, lahir sebagai keturunan bangsawan, maka saat mati pun harus memiliki tempat tertinggi, dengan upacara kematian paling sempurna. Mengorbankan puluhan kerbau dan ratusan babi, yang diharapkan bisa menjadi tunggangan dan pengiring saat berjalan ke puya. Ke surga.

Untuk merayakan kematian tersebut, sudah pasti memerlukan dana yang sangat besar. Hal itulah yang membuat Allu Ralla dan keluarganya susah, karena Rante tidak meninggalkan harta yang banyak. Sebagai mahasiswa di Makassar, dan telah terpapar modernitas, Allu berinisiatif untuk menguburkan ayahnya di Makassar, tanpa adat. Lebih hemat, tidak perlu menghamburkan uang banyak.

Namun, ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh keluarga Ralla. Mereka menganggap hal itu bisa mencoreng nama baik mereka sebagai bangsawan. Selain itu, mereka yakin tanpa adanya upacara kematian maka Rante Ralla tidak akan pernah sampai ke puya.

Menghadapi banyak problema, membuat Allu harus putar otak demi mempertahankan ide-nya, atau mencari uang untuk mengupacarakan ayahnya. Dari sini, kisahnya berlanjut hingga polemik dengan perusahaan tambang yang ingin menguasai tanah warisan keluarga Ralla, hingga kisah asmara Allu dan intrik picik yang mengantarkan Desa Kete’ harus ‘diadzab’ oleh para leluhur di puya.

Hal yang paling kentara adalah novel ini memiliki latar kebudayaan Toraja yang sangat kuat, tentang adat Rambu Solo: pesta kematian — yang selama ini menjadi daya tarik utama Tana Toraja –, serta bagaimana kritik terhadap budaya leluhur itu muncul di zaman modern.

Entah beruntung atau malah sebaliknya, sebelum membaca novel ini, saya sudah dua kali menyambangi Toraja, sehingga kepala saya bisa dengan jelas menggambarkan bagaimana setting tempat dan ritual yang dideskripsikan si penulis.

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini karena ide cerita yang diangkat, serta gaya bahasa yang digunakan sangat beragam seiring dengan penokohan yang dihidupkan. Bagaimana gaya bahasa dan pilihan kata yang digunakan saat Allu Ralla ambil bagian, berbeda dengan saat Maria Ralla ditampilkan. Melalui novel ini, saya pun ‘dipaksa’ untuk mempelajari tradisi setempat.

Meski demikian, kesalahan-kesalahan minor yang hadir di buku cetakan pertama ini cukup bikin badmood, seperti beberapa typo yang saya temukan, kesalahan penulisan nama, serta ada dua kata yang sama saling berdampingan.

Misalnya saja, di buku tertulis Boni, padahal yang dimaksud Bumi. Juga, saat kisah Maria yang sedang berjalan menuju puya, tertulis: “Aku berjalan, aku segera menemui Ambe dan memulai penantian kedatangan Allu.” (hal. 204). eharusnya, bukan Allu yang tertulis di situ, melainkan Bumi yang merupakan kekasih Maria di passiliran.

Selain itu, hal lainnya yang cukup mengganggu saya adalah kesan penulis yang ingin tampak pintar dengan menyisipkan info-info yang kurang relevan dan terlalu jauh. Misalnya, saat Allu tengah memimpin rapat keluarga tentang pelaksanaan rambu solo untuk ayahnya, penulis memaksa untuk menyisipkan info tentang Operasi Overlord tahun 1944.

“Saya memutuskan membayar kesalahan saya pada Ambe, pada Indo, dan pada Maria, adik saya. Kesalahan kecil kadang harus dibayar dengan hal besar. Misalnya, 6 Juni 1944, Operasi Overlord bisa menjatuhkan Jerman hanya kesalahan kecil Hitler; ia tertidur dan tidak mengetahui ketibaan sekutu di Pantai Normandia, waktu itu.” (hal. 120).

Di balik itu semua, tidak membuat saya surut untuk membuka peluang mengidolai penulis muda asal Sulawesi Selatan ini. Apalagi, modalnya yang cukup besar dengan pernah menjadi penulis cerpen terbaik Kompas 2014, dan Asean Young Writers Award 2014.

Oh ya, belum lama ini Faisal juga baru saja meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Pertanyaan Kepada Kenangan, sepertinya cukup sayang jika dilewatkan. Terus berkarya generasi baru sastra Indonesia!

Puya ke Puya
Faisal Oddang
Cetakan Pertama, Oktober 2015.
Kepustakaan Populer Gramedia
xii+218 halaman.
ISBN-13: 9789799109507

Kisah Tentang Burung yang Tertidur Panjang

Setelah sekian lama, akhirnya bisa membaca dan menyelesaikan karya Eka Kurniawan. Ini karyanya yang ketiga yang saya baca setelah Corat-coret di Toilet dan Cantik itu Luka. Hampir sama seperti dua karyanya itu, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas memberikan saya perspektif baru terhadap gaya bahasa dan diksi.

Eka selalu memberikan kesan yang lugas, serta narasi dan deskripsi yang detail, sehingga berhasil menghadirkan pembacanya untuk menyaksikan langsung cerita yang ditulisnya.
Jalan cerita buku ini juga membuat saya berdecak, karena alur yang disusun cerdik maju-mundur, penokohan yang kuat, serta dialog yang menarik. Ada satu kata yang bisa menggambarkan keseluruhan isi novel ini: menegangkan.

Tak heran jika keterangan untuk buku ini adalah 21+, alias novel untuk dewasa. Karena banyak sekali kata-kata vulgar dan adegan seks yang sangat gamblang. Selain itu, banyak juga penggambaran kekerasan mulai dari berkelahi hingga saling membunuh.

Buku ini sebenarnya mengisahkan tentang seorang pria bernama Ajo Kawir yang tititnya tidak mau berdiri semenjak dia diancam oleh dua orang oknum polisi yang memerkosa seorang janda gila. Ajo dipaksa untuk memerkosa juga, tetapi saat itu tiba-tiba tititnya menciut, padahal sebelumnya dia merupakan pria yang penuh hasrat.

Sejak saat itu, Ajo sekali tidak bisa melampiaskan hasrat sex-nya, sehingga menjadikan kekerasan sebagai pelariannya. Dia bersama karibnya Si Tokek kemudian terkenal sebagai `jagoan` yang pandai berkelahi, hingga mampu membunuh seorang yang paling ditakuti bernama Si Macan.

Di tengah-tengah perjalanan hidupnya, dia jatuh cinta kepada seorang pendekar wanita bernama Iteung. Akhirnya mereka menikah meskipun awalnya Ajo menolak karena merasa tidak akan bisa membahagiakan Iteung dalam urusan kebutuhan biologis.

Hingga suatu masa Iteung ketahuan berselingkuh dan memiliki anak dari teman seperguruannya bernama Budi Baik. Sejak saat itu Ajo kabur dari kampung dan dijebloskan ke dalam penjara. Selama di penjara itu, Ajo belajar menahan api amarahnya dan dia berubah menjadi orang yang sangat tenang seperti burungnya yang selalu damai dalam tidurnya.

Setelah keluar dari penjara, Ajo menjalani profesi sebagai sopir truk yang sering mengantarkan barang lintas provinsi hingga lintas pulau. Dalam beberapa bulan terakhir dia ditemani seorang kenek bernama Mono Ompong, seorang remaja yang gejolaknya masih meletup-letup.

Selama menjalani pekerjaannya sebagai sopir tersebut, Ajo dan Mono mengalami banyak peristiwa hingga akhirnya Mono harus tumbang setelah menang berduel dengan Si Kumbang, seorang sopir truk lainnya yang terkenal sering cari masalah.

Karena tidak bisa menemani Ajo dalam perjalanan, akhirnya posisi kenek digantikan oleh Jelita, seorang perempuan yang digambarkan tidak rupawan yang ketahuan menjadi penumpang gelap di truk beberapa hari sebelumnya.

Saat bersama Jelita itu lah, diam-diam hasrat Ajo terhadap sex kembali muncul, dan hingga pada suatu ketika Jelita menggoda Ajo dan mereka pun berhubungan badan di dalam toilet pom bensin. Saat itulah, pertama kalinya dalam puluhan tahun, burung Ajo Kawir akhirnya terbangun dari tidur panjangnya.

Bukan sekadar mengekspos kekerasan dan seks, novel ini sebenarnya menyiratkan hal-hal yang kontemplatif, misalnya di tengah kehidupan yang keras dan brutal, si burung tidur merupakan alegori tentang kehidupan yang tenang dan damai, meskipun semua orang berusaha membangunkannya.

Meratapi Jiwa yang Merindukan Nanti

Sepertinya sebuah kesalahan besar bagi saya karena membaca novel Aan Mansyur yang berjudul Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi ini. Di tengah upaya untuk menghindar dari masa lalu, Aan malah menyarankan untuk hidup dan berdamai dengan kenangan.

Sudah tidak perlu diragukan, bahasa-bahasa puitis ala Aan Mansyur membanjiri sekujur novel ini. Banyak kalimat-kalimat yang layak dikutip dan akan tampak keren jika diposting di media sosial sebagai status.

Ada beberapa hal yang menurut saya sedikit mengganggu dari novel setebal 260 halaman ini, yakni tambahan catatan kaki dalam novel ini dari tokoh bernama Nanti. Catatan-catatan itu cukup menggelitik untuk dilirik, tapi sukses membuat saya kehilangan ritme dalam membaca, hingga akhirnya saya putuskan untuk tidak menghiraukan footnotes hingga novel ini tandas dinikmati.

Selain itu, munculnya tokoh Aan yang menyelip di cerita juga sempat membuat saya bingung. Karena sejak pertama kali berkenalan dengan tokoh utama bernama Jiwa, saya langsung menginterpretasikannya sebagai wujud dari Aan, ketika Aan lainnya muncul itu yang membuat saya harus mengalibrasi persepsi tentang tokoh Jiwa.

Secara keseluruhan, novel ini cukup menarik dengan permainan kata yang cantik, kontradiktif, disertai analogi-analogi yang membuat pembacanya bisa mendeskripsikan secara lebih luas. Namun, ide ceritanya memang terlampau sederhana; mengisahkan seorang pria bernama Jiwa yang patah hati karena ditinggal menikah oleh kekasihnya Nanti.

Sosok Jiwa digambarkan sebagai seorang penulis puisi dan cerita pendek yang lemah karena penyakit jantung, tetapi kaya warisan kebijaksanaan dari nenek dan ibunya yang ditinggal pergi suaminya. Dia menjalin cinta dengan Nanti, setelah 3 tahun 9 bulan, mereka kemudian berpisah dan Nanti memutuskan untuk menikah dengan orang lain.

Jiwa berupaya keras untuk menyembuhkan patah hatinya, bertualang dan mencoba membangun kisah dengan perempan lain. Tetapi Jiwa tak sanggup keluar dari belenggu masa lalu yang diciptakan dari kenangan antara dia dan Nanti, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak menikah sejak Nanti menikah.

Tapi, dari kesederhanaan itu Aan mampu merangkum semua hal yang menarik untuk diceritakan, menggambarkan bagaimana sebuah kenangan bisa tercipta, dan menunjukan bagaimana cara menuliskan dan mengumpamakan sebuah kebahagiaan dan kemalangan dengan cara yang indah. (bagian ini mungkin sangat subjektif, karena pada beberapa bagian saya merasakan ada ‘kisah’ yang sama, dan mau tidak mau membuat saya sedikit sentimentil saat membacanya)

Di sisi lain, Aan juga tak segan menggambarkan secara eksplisit hal-hal yang masih tabu di tengah masyarakat, yakni tentang hubungan seksual. Beberapa kali adegan intim antara Jiwa dan Nanti diceritakan dalam beberapa bab di bukunya.

Buat yang penasaran kenapa judul novel ini adalah Lelaki Terakhir yang Menangis di Bumi, hal itu diambil dari tekad Jiwa yang tidak ingin menyia-nyiakan air matanya dan tidak akan menangis hingga dunia berakhir, termasuk saat kematian orang-orang yang dicintainya. Dia menilai, kematian adalah hal yang sangat lumrah dan sangat dinantikan oleh dirinya sendiri.

Hampir sama seperti buku kumpulan cerpennya yang belum lama saya baca; Kukila, Aan memberikan saya khazanah lebih luas bahwa Indonesia tak hanya Jawa. Saya jadi tak sabar untuk segera menginjakkan kaki di Makassar, di kota yang menjadi latar cerita novel ini :).

Saya berikan skor 5/5 untuk novel ini, serta tak sabar untuk melumat karya sastra Aan lainnya.

Berlatih Sabar di Papua: Dari Carstensz hingga Trigana

17 Agustus 2015.

Ini merupakan hari ke-9 saya di Papua, tepatnya di Timika, Kabupaten Mimika. Saya bersama rombongan awalnya berencana melakukan ekspedisi menaklukan puncak gunung tertinggi di Indonesia: Carstensz Pyramid.

Entah ada tulah apa, sejak pertama kali menapakan kaki di tanah cenderawasih ini, semua rencana yang telah disusun tak ada satu pun yang berjalan lancar.

Berawal dari kasus penembakan helikopter di Papua pada beberapa hari sebelum keberangkatan kami, membuat dua menteri membatalkan rencana upacara 17-an di Zebra Wall, yang seharusnya menjadi basecamp pendakian kami untuk naik ke puncak.

Karena gagal rencananya itu, membuat akses menuju basecamp Lembah Danau hilang, pasalnya PT Freeport Indonesia tidak memberi kami izin masuk untuk menggunakan trem menuju lokasi tujuan.

Sebagai catatan, selama ini jalur pendakian ke Carstensz yang paling ideal adalah lewat Tembagapura, yang notabene merupakan wilayah tambang Freeport, sehingga para pendaki perlu izin khusus untuk bisa melewati jalur tersebut.

Berbagai cara masih diupayakan panitia supaya kami tetap bisa melalui jalan yang hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 3-4 hari. Tapi, setelah 6 hari yang penuh drama, izin tetap tak kunjung keluar.

Hingga akhirnya tim harus memilih alternatif jalur Sugapa-Ugimba-Carstensz yang membutuhkan waktu sekitar 14 hari.

Dari situ, rencana berubah kembali. Hingga ada beberapa anggota tim yang memutuskan untuk mundur dan tidak melanjutkan ke puncak, termasuk saya. Tapi, kami tetap berencana untuk tetap pergi ke Sugapa dan Ugimba.

Untuk menuju Sugapa di Kabupaten Intanjaya dari Timika, harus menggunakan pesawat terbang kecil dengan kapasitas sekitar 1,5 ton.

Karena banyaknya barang bawaan berupa logistik, ditambah 18 orang pendaki, membuat kami harus mencarter dua pesawat.

Tim pun dibagi dua kelompok. Kelompok pertama diisi 13 orang ditambah beberapa tas perlengkapan pribadi, sisanya diisi 5 orang dan kebutuhan logistik. Saya masuk daftar manifest penerbangan kedua.

Sabtu, 15 Agustus 2015, pukul 05.30 WIT kami semua sudah berkumpul di bandara Mozes Kilangin, karena penerbangan dijadwalkan pukul 06.00 WIT. Kami akan naik pesawat Trigana Air bekas penerbangan Nabire-Timika.

Hingga pukul 08.00 WIT, belum ada tanda-tanda kami akan berangkat, karena cuaca yang tidak mendukung. Sekitar pukul 09.30 WIT, pesawat pertama siap untuk terbang.

Tak berselang lama, kami dapat kabar bahwa pesawat kedua tidak bisa terbang ke Sugapa karena radio komunikasi rusak, dan penerbangan selanjutnya paling cepat hanya ada pada Senin, karena Minggu tidak ada penerbangan.

Akhirnya, formasi sedikit berubah, ada beberapa orang dan barang yang ditukar demi ‘menyelamatkan’ para pendaki yang duluan sampai ke Sugapa dan akan melanjutkan perjalanan ke puncak.

Tim pertama pun dengan selamat sampai di Sugapa. Tapi karena tidak ada perlengkapan dn logistik, rencana perjalan mereka ke Carstensz pun ikut terhambat, dan harus menunggu pesawat kedua sampai di Sugapa pada Senin.

Sementara, saya dan keempat rekan lainnya terpaksa harus menunggu lagi dua hari. Baiklah, kami sudah terbiasa menunggu, sehingga waktu dua hari tidak menjadi masalah.

Tak disangka, dalam waktu kurang dari 12 jam jadwal kami berangkat ke Sugapa, insiden penerbangan kembali terjadi di Papua. Pesawat Trigana penerbangan dari Sentani menuju Oksibil hilang kontak, dan diduga jatuh menabrak gunung.

Kejadian itu membuat Trigana memutuskan untuk tidak melakukan penerbangan pada Senin, sebagai bentuk belasungkawa. Dengan kata lain, penerbangan ke Sugapa pun otomatis hilang.

Sudah tahu kan itu artinya apa? Ya, penantian kami ternyata belum berakhir. Hati kami harus dipompa lagi supaya lebih besar, apalagi karena ditambah rumor bahwa Bandara Mozes Kilangin akan ditutup hingga tangga 19 Agustus karena ada demo besar-besaran yang biasanya memang terjadi setiap Hari Kemerdekaan RI.

Mengetahui hal itu, saya tidak bisa berpikir lagi, dan hanya bisa tersenyum. Jadwal penerbangan saya kembali ke Jakarta masih Jumat, 21 Agustus 2015. Ada beberapa hari lagi untuk melanjutkan menunggu sambil tetap memupuk harapan dan pikiran positif.

Selama di Papua dan mengalami semua kejadian ini, saya benar-benar mengimani kalimat ‘manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang menentukan’, juga anekdot yang sering disebutkan: ‘Selamat datang di Papua, di mana ketidakpastian adalah kepastian”.

Jadi, trik terbaik untuk menjalani hidup di sini adalah jangan terlalu banyak berencana, cukup lewati semua kejadian satu per satu. Setelah melangkah dan melewati satu hal, baru pikirkan hal lainnya.

Dan, saya masih memiliki lima hari lagi untuk menikmati rollercoaster perasaan di Papua, sekarang tanpa rencana jangka panjang. Cukup berharap sepanjang hari cuaca cerah. 🙂

Selamat dini hari dari Timika.

00.32 WIT