Tips Memilih Kampus Tujuan Beasiswa LPDP

Memilih kampus sebagai tujuan untuk melanjutkan studi S2 memang cukup tricky alias susah-susah gampang. Bagi sebagian orang, mungkin memilih kampus adalah hal yang tinggal menjentikkan jari, tetapi bagi sebagian lainnya memilih kampus itu bagaikan memilih jodoh. Harus tepat dan sesuai dengan visi di masa depan.

Saya pun memiliki cara sendiri untuk memilih kampus tujuan studi. Banyak jalan yang saya lalui hingga akhirnya memilih University of Birmingham. Ditolak dan menolak sudah pernah dirasakan. Aplikasi saya sudah direject oleh University of Glasgow, beberapa aplikasi ke universitas di Belanda, UK, dan Swedia tidak berhasil diselesaikan, dan saya pun terpaksa menolak Conditional Offer dari salah satu universitas di UK.

Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menentukan universitas mana yang akan menjadi rumah kedua selama satu atau dua tahun menimba ilmu. Apalagi, untuk Beasiswa Pendidikan Indonesia LPDP memiliki kriteria sendiri kampus mana yang bisa dituju bagi para calon penerima beasiswa.

dscf8567Jangan lupa, kepentingan pribadi juga sangat lekat dalam hal pemilihan universitas ini. Misalnya saja, saya sengaja memilih universitas di UK karena jangka waktu belajarnya yang singkat yakni hanya satu tahun. Ada juga teman saya yang memilih universitas di Belanda karena dia memang tergila-gila dengan negara kincir angin tersebut.

Namun, sebisa mungkin kepentingan-kepentingan tersebut tidak menutup mata kita untuk memilih jurusan dan universitas yang berkualitas, sehingga kita bisa menempuh pendidikan yang optimal. Apalagi jika belajar dengan menggunakan biaya negara yang berasal dari uang masyarakat (bukan pesan sponsor).

Nah, berdasarkan hasil ngobrol-ngobrol serta melihat dari pengalaman pribadi, berikut ini langkah-langkah untuk memilih kampus yang tepat bagi para pemburu beasiswa LPDP:

1. Tentukan jurusan yang akan diambil

Hal pertama yang harus ditentukan adalah jurusan/course yang akan diambil, bukan universitas terlebih dulu. Pasalnya, jurusan yang akan diambil belum tentu tersedia di semua universitas. Jika jurusan yang akan dipilih sudah tersedia, baru masuk ke tahap selanjutnya: berburu universitas.

2. Mendaftar universitas

Langkah selanjutnya ada mendaftar universitas mana saja yang memiliki jurusan yang kita minati. Caranya, bisa melalui website findmaster.com atau website sejenis yang bisa ditemui di google. Buatlah daftar sebanyak-banyaknya universitas yang prospektif sebagai tujuan belajar kita.

3. Menyaring universitas

Setelah mendaftar universitas dengan jurusan yang kita minati, selanjutnya adalah menyaring universitas mana yang terbaik dan masuk dalam kriteria LPDP yakni masuk rangking 500 besar dunia. Carilah nama universitas yang ada di daftar di website QS World Universities, dan coret nama-nama universitas yang tidak masuk ke dalam daftar tersebut.

4. Kerucutkan pilihan

Jika sudah menemukan universitas mana saja yang masuk dalam top 500, selanjutnya adalah mengerucutkan pilihan, misalnya dengan menyaring berdasarkan negara yang ingin kita tuju. Sebagai contoh, jika ingin kuliah di Eropa, maka coret universitas-universitas yang ada di luar Eropa.

Di sisi lain, kita juga harus cermat melihat modul atau course yang ditawarkan oleh universitas, meskipun jurusannya sama, tetapi masing-masing universitas memiliki modul unggulan yang bisa menjadi daya tarik dan pembeda dari universitas lainnya.

Selain itu, syarat-syarat pendaftaran juga menjadi hal yang bisa menjadi pertimbangan untuk menyortir kembali daftar universitas kita. Misalnya, untuk jurusan X universitas A meminta nilai IELTS 7.5, Sedangkan di universitas B hanya 6.5. Bagi orang dengan kemampuan bahasa Inggris pas-pasan, universitas B tentunya menjadi hal yang sangat realistis dan bisa menjadi fokus utama.

Oh ya, menjadi realistis dan keinginan mengikis gengsi juga sangat penting. Bukan berarti saya mengajak untuk pesimistis terhadap kemampuan diri, tetapi kita harus benar-benar bisa menakar kemampuan akademik yang kita miliki.

Misalnya saja saya, kalau saya mengejar gengsi, tentu saya akan memilih Universitas ranking 1-3 dunia, tetapi karena saya sadar tidak memiliki kemampuan yang mumpuni, maka saya tidak memilih MIT atau Harvard menjadi kampus pilihan saya, meskipun jurusan yang saya minati ada di kampus tersebut.

Hal ini akan berkaitan dengan kemampuan kita dalam ‘menikmati hidup’, dan mengelola stres. Jangan sampai hanya karena gengsi, kita malah menjadi tertekan karena tidak bisa mengikuti ritme dan pola belajar di universitas top tersebut. (konon ada kasus awardee yang terpaksa menghentikan studi karena tidak bisa menyesuaikan diri dengan iklim belajar di universitas tujuannya).

5. Fokus

Setelah mendapatkan daftar yang semakin pendek, sekarang saatnya fokus. Pilihlah maksimal tiga universitas yang akan menjadi sasaran pendaftaran studi master kita. Susunlah nama universitas itu sesuai dengan peringkatnya di QS World, atau susun berdasarkan ranking jurusan tujuan di universitas tersebut di dunia.

Meskipun kita bisa melempar banyak umpan sekaligus, alias bisa mendaftar ke banyak universitas dalam satu waktu, tetapi memiliki prioritas universitas tujuan akan memudahkan kita ke depannya untuk fokus dalam mengejar aplikasi ke universitas. Pasalnya, ada kasus salah satu teman saya malah kebingungan ketika mendapatkan tawaran dari banyak universitas, dan hingga akhir waktu dia tetap tidak bisa menentukan pilihannya.

Sampai langkah ini, kita sudah bisa mulai mengirim lamaran atau mendaftar secara online ke universitas yang jadi fokus tujuan studi. Jangan lupa, sertakan semua persyaratan yang diminta, seperti dokumen-dokumen, motivation letter, hingga surat rekomendasi.

Sekarang, PR selanjutnya yang bikin lebih galau adalah menentukan universitas mana yang akan dimasukan saat pendaftaran online LPDP. Dari ketiga universitas yang menjadi fokus itu, kita harus rela hanya memasukan satu universitas saja yang menjadi tujuan BPI LPDP. Saya pun perlu beberapa kali menggagalkan pendaftaran online beasiswa LPDP karena tarik ulur terkait universitas mana yang akan didaftarkan.

Setelah melihat situasi dan kondisi serta kebijakan terkini, saya selalu memberikan saran kepada teman saya untuk memasukan nama universitas dengan ranking tengah antara tiga pilihan. Misalnya, jika tiga universitas yang menjadi fokus kita adalah University A dengan rank 5 dunia, University B dengan rank 25 dunia, serta University C dengan rank 63 dunia, maka yang akan saya mengusulkan untuk memasukan University B di aplikasi LPDP.

Kenapa saya menyarankan hal tersebut? Karena saya orangnya realistis. Berdasarkan hitung-hitungan, tentunya akan lebih mudah mendapatkan Universitas B daripada A, dan lebih bergengsi jika beneran dapat Universitas B daripada C.

Di sisi lain, hal itu didasarkan pada kebijakan LPDP yang memperbolehkan awardeenya mengubah universitas tujuan dengan syarat universitas yang baru memiliki ranking yang lebih tinggi dari sebelumnya. Jadi, jika misalnya kita bisa mendapatkan Unconditional Offer dari tiga-tiga universitas tujuan, maka kita yang awalnya memasukan University B di aplikasi, bisa mengajukan perpindahan ke University A yang rankingnya lebih tinggi, atau ke universitas yang ranking jurusannya lebih tinggi.

Seperti di tulisan saya sebelum ini, pastikan kalian sudah mendapatkan minimal Letter of Acceptance Conditional dari universitas saat mendaftar di LPDP, supaya galaunya tidak terlalu kronis dan berkepanjangan yang bisa menyebabkan waktu satu tahun maksimal dalam menentukan universitas setelah mendapatkan beasiswa terbuang sia-sia.

Jadi, simpan dulu galaunya, sekarang saatnya berburu universitas terbaik demi masa depan yang lebih baik!

Share This:

Published by

6 Replies to “Tips Memilih Kampus Tujuan Beasiswa LPDP

  1. Kak, sorry mau nanya.. surat rekomendasi yg dimaksud, itu dari mana ya? Dari dosen yang di kampus skrg atau tokoh masyarakat?

    1. kalau untuk universitas biasanya rekomendasi dari kampus sebelumnya, atau kalau jurusannya berhubungan sama pengalaman kerja kita, bisa dari kantor atau yang berhubungan dengan profesi.

Leave a Reply