Integrasi Pengelolaan Sampah dan Kesejahteraan Masyarakat

Belakangan ini, masyarakat Indonesia mulai sadar bahwa sampah bukan lagi sebagai sebuah musuh yang harus dihindari, melainkan bisa berubah menjadi berkah yang mampu memperbaiki perekenomian bangsa.

Berbagai macam inovasi pengolahan sampah terus dikembangkan, mulai dari mengubah sampah organik menjadi pupuk kompos, hingga pembentukan bank sampah yang bisa menjadi alternatif untuk mengumpulkan pundi-pundi uang.

Konsep terakhir yang disebut tampaknya tengah moncer di kalangan masyarakat dalam empat tahun terakhir dan sedang digarap serius oleh pemerintah supaya bisa menyelesaikan dua persoalan bangsa: kebersihan dan kemiskinan.

Potret keberhasilan dari konsep bank sampah ini dirasakan langsung oleh Erna Bidol, ibu rumah tangga berusia 37 tahun yang saat ini mampu menghasilkan pendapatan tambahan hingga Rp700.000 dari menjual hasil kreasi dari sampah setelah enam bulan bergabung menjadi pengurus Bank Sampah Sukses Abadi di Kelurahan Bara Baraya Selatan, Makassar. Jumlah tersebut dinilai cukup signifikan dibandingkan sebelumnya yang tidak berpenghasilan sama sekali.

sumber gambar: antarasumut.com
sumber gambar: antarasumut.com

 

“Kami memilah bahan-bahan apa saja yang bisa diolah dari sampah yang ditabung oleh masyarakat, hasilnya bisa dibuat menjadi kerajinan tangan dan aksesori yang dijual mulai dari harga Rp55.000 hingga Rp250.000,” paparnya.

Cerita tersebut hanya sebagian kecil dari kesuksesan bank sampah di Makassar yang mampu mengumpulkan omzet lebih dari Rp600 juta dan mereduksi 700 ton sampah sepanjang tahun lalu.
Hal itu pula yang berhasil menjadikan Ibu Kota Sulawesi Selatan tersebut menjadi kota percontohan pengelolaan bank sampah nasional, dan Makassar menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang memiliki regulasi yang mengatur harga sampah dengan pemisahan empat jenis sampah yakni sampah plastik, kertas, logam dan botol kaca.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya mengakui budaya pemilahan sampah dan menilai sampah sebagai sumber daya perkembangannya sangat pesat. Hal tersebut bisa dilihat dari data jumlah bank sampah yang tercatat, pada Desember 2014 jumlah bank sampah secara nasional mencapai 2.800 unit dan pada akhir 2015 meningkat hingga 3.900 unit. Begitu pula di Makassar, dari 110 unit pada 2014 meningkat hingga tiga kali lipat pada 2016.

“Bank sampah merupakan gerakan masyarakat bernilai budaya dan ekonomi, karena menciptakan budaya kebersihan dan bisa menghasilkan uang,” paparnya.

Supaya konsep yang mampu memberdayakan masyarakat di kawasan padat penduduk itu bisa lebih bernilai ekonomis, perlu dibentuk sebuah badan usaha dan hal tersebut ditangkap oleh Kementerian Koperasi dan UMKM dengan memberikan Izin Usaha Mikro dan Kecil (IUMK) kepada unit bank sampah sehingga jenis usaha ini lebih mudah mendapatkan akses pembiayaan dari perbankan.

Bak gayung bersambut, pihak perbankan pun tak menyia-nyiakan peluang dari bentuk usaha baru ini. Sebagai bentuk partisipasi, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk., menginisiasi penyaluran kredit usaha rakyat (KUR) kepada delapan unit bank sampah yang beroperasi di Makassar dengan nilai mulai dari Rp5 juta hingga Rp25 juta.

Dengan penyaluran kredit tersebut, diharapkan bank sampah yang dikelola masyarakat bisa meningkatkan skala bisnisnya, sehingga manfaatnya bisa dirasakan lebih luas untuk kebersihan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di masa depan.

Share This:

Published by

Leave a Reply