Strategi Memikat Investor Saat Pitching Idea Start-up

Puluhan pemilik start-up di bidang teknologi tampak bersiap-siap untuk mengikuti kompetisi bisnis yang diselenggarakan Seedstars World Jakarta pada 13 September 2015. Sebagian besar mengenakan pakaian rapi dan hampir secara berkala membuka gadgetnya untuk memastikan materi yang akan mereka sampaikan di depan ratusan orang hadirin.

Mereka akan berkompetisi dalam mempresentasikan bisnis kepada investor yang biasa disebut pitching, untuk mewakili Indonesia dalam ajang kompetisi bisnis global di Swis pada tahun depan, serta mendapatkan pendanaan untuk pengembangan start-up sebesar US$500.000.

Satu per satu, perwakilan tiap start-up menjelaskan model bisnis dan produk atau aplikasinya yang dirancangnya. Mulai dari penjelasan fungsi dan tujuan aplikasi, potensi pasar dan proyeksi pertumbuhan bisnis di masa depan. Semuanya disampaikan menggunakan Bahasa Inggris dan dibantu tayangan presentasi yang telah disiapkan sebelumnya.

Setelah selesai menyampaikan paparan dalam waktu sekitar enam menit, beberapa pertanyaan diajukan oleh dewan juri terkait detail dan tujuan bisnis dari aplikasi yang dibangun, serta hal-hal lainnya yang menyangkut manajemen bisnis saat ini dan di masa yang akan datang.

Salah seorang juri pada kegiatan tersebut adalah Ivan Sandjaja Direktur Ciputra Incubator & Accelerator Ciputra Entrepreneuership Foundation. Dia menjelaskan, pada sesi pitching tersebut, masih ada beberapa pemilik start up yang belum fokus saat memaparkan bisnisnya. “Ada beberapa peserta khususnya yang masih mahasiswa belum bisa fokus untuk mempresentasikan bisnisnya. Masih ngawang-ngawang,” katanya.

Menurutnya, hal itu karena beberapa di antara peserta masih belum terbiasa melakukan presentasi bisnis. Padahal, dia mencontohkan di luar negeri siswa SMA sudah dibiasakan untuk berbicara di depan umum, sehingga tidak akan memiliki masalah ketika harus membawakan presentasi.

“Itu yang masih menjadi kelemahan orang Indonesia saat presentasi bisnis, karena tidak terbiasa sehingga agak sedikit canggung ketika harus berhadapan dengan investor apalagi dengan berbahasa Inggris,” katanya.

Untuk itu, saat ini tak jarang banyak ditemukan berbagai jasa pelatihan atau kursus presentasi bisnis atau public speaking dengan tarif yang lumayan tinggi. Tetapi, menurutnya kendala tersebut sebenarnya bisa diakali oleh para pemilik start-up dengan beberapa strategi saat menyampaikan presentasi bisnis, mulai dari bahan apa saja yang harus dipaparkan, hingga penampilan saat pitching.

spurce: goalcast.com/ shutterstock

Pertama, pemilik start-up harus bisa membayangkan dirinya tengah menghadapi para calon pembeli saat akan melakukan pitching di depan investor, sehingga harus mampu meyakinkan bahwa produk yang diusungnya bagus dan bermanfaat. “Jangan terlalu fokus pada hal-hal teknis, karena tidak semua orang mengerti, yang penting tunjukan masalah apa yang akan dipecahkan dengan solusinya,” katanya.

Adapun, garis besar poin-poin apa saja yang harus disampaikan oleh presenter saat menjabarkan konsep bisnis dan produknya antara lain, presenter harus bisa menjelaskan bahwa produk atau bisnisnya merupakan sebuah solusi dari masalah yang tengah dihadapi oleh masyarakat.

Dengan menciptakan inovasi untuk solusi dari sebuah masalah, maka potensi pasar untuk produk tersebut juga semakin besar. Namun, hal itu saja tidak cukup, investor membutuhkan kepastian bahwa bisnis yang dikembangkan tersebut mampu dikomersialkan dan menghasilkan uang.

“Ada dua tipe investor, yakni angel investor dan venture capital. Untuk angel, relatif lebih baik karena dia akan mendanai jika bisnis yang dijalankan disukai dan cocok dengannya, sedangkan venture capital semuanya benar-benar tentang bisnis,” katanya.

Untuk itu, sangat penting pada paparan dijelaskan juga bagaimana sebuah start-up bisa menghasilkan uang, bukan sekadar untuk meraih banyak keuntungan, tetapi juga untuk mengover biaya operasional yang dikeluarkan, sehingga kelangsungan bisnis bisa terjamin.

Selanjutnya, presenter juga harus menjelaskan strategi apa saja yang akan dilakukan demi meningkatkan atau scaling-up bisnisnya, supaya investor yakin bahwa start-up tersebut sudah memiliki roadmap dan langkan strategis pengembangan bisnis di masa depan.

“Lebih baik memaparkan presentasi dengan singkat tetapi jelas, dilengkapi dengan angka-angka, perhitungan dan ilustrasi. Sehingga investor dapat membayangkan seberapa besar sebenarnya potensi dari sebuah produk,” katanya.

Dia mencontohkan, start-up yang masih berada dalam tahap awal bisa melengkapi presentasinya dengan hasil survei sederhana, misalnya tren pertumbuhan pengguna aplikasi dibandingkan dengan jumlah masyarakat, dan data lainnya. Fungsinya sebagai backup dan validasi data. “Investor sangat senang sebuah start-up memiliki kekuatan dalam analisis bisnis melalui riset atau survei,” imbuhnya.

Ivan menegaskan, hal penting lainnya adalah si pemilik start-up harus terlihat meyakinkan saat mempresentasikan produknya. Anggap semua yang hadir dan investor tidak tahu apa-apa, dan hanya dia yang mengenali seluk-beluk bisnisnya.

Jika saat mempresentasikan produk terlihat ragu atau malah bingung meskipun sedikit, maka investor biasanya akan langsung mundur, apalagi kalo si presenter tidak mengetahu apa yang sebenarnya sedang dijual oleh mereka.

“Yang penting yakin saat pitching, jangan takut pake Bahasa Inggris meskipun logatnya sangat Indonesia, yang penting paparan bisa dimengerti investor asing, salah satunya dengan ilustrasi,” imbuhnya.

 

Share This:

Published by

Leave a Reply