Kadangkala kamu harus bersyukur jika memiliki sifat impulsif dan spontan.

"Nden, enaknya ngapain ya? Liburan ke mana gitu..."
"Hmmm... Ngambil license diving aja yuk!"
"Eh, bener juga! Ayo, ni gw cariin divecourse-nya ya"
"Sip!"

Percakapan itu tiba-tiba muncul saat saya tengah nongkrong bareng seorang teman main di Starbucks Lotte Shopping Avenue. Beberapa pekan kemudian, saya dan dia sudah mendapatkan sertifikasi Open Water Diver, alias kami sudah punya izin untuk menyelam dengan kedalaman maksimal 18 meter.

Sebenarnya, keinginan untuk memiliki lisensi menyelam sudah saya miliki sejak 5 tahun lalu. Hanya saja, hobi mahal ini memang membutuhkan modal yang tidak sedikit. Hal itu membikin niat untuk ikut kursus menyelam selalu maju mundur.

Begitu pula di tahun ini, meskipun sudah masuk ke dalam resolusi tahun 2019, tetapi niat untuk ambil lisensi menyelam tersebut tak kunjung muncul hingga 2019 sudah berjalan setengahnya. Mungkin lisensi diving yang saya miliki sekarang juga tidak akan ada kalau teman main saya itu tidak sama-sama impulsif.

Nah, perjalanan yang sangat spontan ini dimulai dari perburuan mencari dive course yang sesuai dengan keinginan kami. Awalnya kami berniat untuk mengambil kursus menyelam langsung di Bali, biar sekalian tripnya di laut-laut Bali yang cantik itu.

Tetapi, ternyata tidak ada kursus diving yang menawarkan paket yang cukup ramah di kantong. Rata-rata mereka menawarkan harga kursus di sekitaran Rp7 juta, tentu saja harga itu di luar tiket pesawat PP Jakarta-Denpasar. Mana pula saat itu tiket pesawat sedang mahal-mahalnya.

Akhirnya, ide ambil kursus di Bali langsung dicoret dan kami beralih untuk mencari yang di Jakarta. Setidaknya bisa berhemat harga tiket pesawat pikir kami. Perburuan pun berlanjut. Selain faktor harga, yang jadi pertimbangan kami lainnya adalah pilihan sekolah selamnya.

Ada tiga diving agency yang memberikan lisensi menyelam yang pernah mampir di telinga saya, dan merupakan yang terbesar di dunia, yaitu Professional Association of Dive Instructors (PADI), National Association of Underwater Instructors (NAUI) dan Scuba Schools International (SSI). Untuk cari tahu perbedaan dan masing-masing kelebihannya, bisa dicek di tautan ini.

Setidaknya ada lima sekolah selam di Jakarta yang sudah coba kami kontak mulai dari FB, Instagram, hingga e-mail. Sayangnya, rata-rata sangat kurang responsif. Akhirnya, ada satu sekolah selam yang berhasil kami kontak saat itu juga, dan sekolah selam inilah yang mengantarkan kami menjadi SCUBA certified diver (biar kaya Brie Larson, ha ha).

Akhirnya, kami menjadi siswa SSI dengan Sahabat Selam Indonesia sebagai training centernya. Kami mendapatkan informasi tersebut dari Instagram dan langsung mengontak nomor yang tersedia di sana untuk bertanya dan mengonfirmasi perihal kursus dan kawan-kawannya.

Nah, biaya mengikuti kursus selam di Sahabat Selam adalah Rp5,5 juta (kamu bisa dapat diskon khusus kalau pakai referral atas nama saya :p). Harga tersebut sudah termasuk untuk biaya kelas teori sebanyak 2-3 kali pertemuan, biaya sesi di kolam sebanyak 2 kali, serta ujian di laut selama 2 hari 1 malam dengan 4 kali penyelaman di Kepulauan Seribu.

Selama mengikuti kursus, ada tiga hal yang terus ditekankan oleh istruktur kami terkait penyelaman yang aman: tidak menahan nafas, tidak panik saat ada masalah dan naik ke permukaan secara perlahan, dan jangan pernah menyelam sendirian.

Selain itu, kami juga belajar filosofi yang disebut sebagai SSI Diver Diamond, yakni Knowledge, Skills, Equipment, dan Experience. Knowledge atau pengetahuan menjadi penting karena bisa menghalau kecemasan dan ketakutan dengan informasi yang benar. Skills atau keterampilan wajib dimiliki dengan gol untuk bisa merasa nyaman di dalam air.

Equipment atau peralatan juga merupakan hal penting karena keselamatan dan kehidupan kita di dalam air ditunjang oleh alat bantu bernafas, itulah mengapa disebut sebagai SCUBA Diving (Self-Contained Underwater Breathing Apparatus). Hal terakhir adalah Experience atau pengalaman, sama seperti olahraga atau keterampilan lain, menyelam juga membutuhkan pengalaman agar kemampuan dan kenyamanan di dalam air bisa terus terasah. (Lebih lengkap bisa cek tautan ini)

Selain belajar teori di kelas (yang ternyata banyak rumus fisikanya), kami juga bisa belajar secara online melalui aplikasi MySSI atau melalui website divessi.com dengan memasukan credential yang sudah diberikan saat registrasi kursus. Nah, aplikasi MySSI ini juga sangat memudahkan kehidupan para diver, selain ada materi untuk belajar, di situ juga kami bisa mencatat divelog sekaligus sebagai tempat untuk menyimpan kartu sertifikasi kami, jadi tidak perlu ribet-ribet membawa dalam bentuk fisik.

Setelah mendapatkan cukup teori terkait dasar-dasar ilmu menyelam dan teknik penyelaman, saatnya belajar di kolam. Selama dua kali kelas kolam, kami melakukannya di Kolam SEPOLWAN. Pada sesi kolam, kami belajar untuk menyiapkan, menggunakan dan melepaskan peralatan selam. Semuanya sudah disediakan, jadi kami cuma perlu mambawa dan mengenakan pakaian renang.

Kolam renang SEPOLWAN di Pondok Pinang

Selain berurusan dengan peralatan SCUBA yang cukup banyak dan ribet, kami juga belajar soal keterampilan di dalam air, seperti membersihkan masker, ekualisasi, teknik berbagi udara dengan buddy, hingga bagaimana mengatasi keram kaki. Oh ya, kami juga belajar bahasa isyarat penyelaman, karena kan memang ga bisa bicara di dalam air, sulitnya seperti bernafas dalam kubur #eh.

Setelah kelas teori dan sesi kolam selesai, jika kami dianggap layak untuk ikut ujian di laut lepas sebelumnya harus melewati ujian tulis terlebih dulu, dengan batas minimal skor 75. Syukurlah, kami berdua bisa lolos melewati ujian tersebut.

Lumayan dapat skor 80 😐

Akhirnya, ujian di laut lepas yang dinanti-nanti datang juga! Pada akhir Juli lalu kami melakukan trip ke Pulau Pramuka. Mengawali perjalanan dari Marina Ancol pada pagi hari dan naik boat sekitar 1 jam. Tak lama sesampainya di Pulau Pramuka, kami langsung bersiap untuk penyelaman pertama kami!

Rasa senang sekaligus deg-degan bercampur aduk, senang karena akhirnya bisa merasakan diving di tempat yang seharusnya, tapi juga deg-degan karena takut tiba-tiba ngeblank pas di dalam air dan semua teori yang sudah diajarkan mendadak lupa.

Untungnya dan pastinya, pada penyelaman pertama kami ga langsung dibiarkan begitu saja. Kami kembali mengulang pelajaran-pelajaran yang pernah kami terima selama di kolam sebelum akhirnya jalan-jalan di dalam laut. Satu hal yang agak bikin saya gak nyaman adalah rasa asin air laut, ini jelas berbeda sama air kolam yang rasa kaporit. Tapi lama-lama terbiasa juga.

Penyelaman pertama itu berhasil kami lalui selama 45 menit dengan kedalaman sekitar 12-13 meter. Rasanya bangga sekali pas saya berhasil naik ke permukaan tanpa mengalami permasalahan berarti selama di dalam laut.

Sayangnya, rasa PD itu ternyata berpengaruh ke penyelaman kedua kami. Di tengah-tengah perjalanan, tubuh saya tiba-tiba naik ke permukaan laut dan saya tidak mampu untuk mengendalikannya supaya kembali pada kedalaman di mana buddies saya tengah menyelam, sehingga saya harus terpisah dari rombongan.

Karena sudah belajar bolak-balik untuk tetap tenang, akhirnya saya terus naik dan keluar dari air untuk mencari perahu kami. Tak lama kemudian, ternyata rombongan yang lain pun sudah naik ke permukaan. Ternyata mereka memutuskan untuk naik setelah sadar saya hilang. Alhasil, penyelaman kedua cuma berlangsung selama 22 menit.

Saat itu saya cuma cengar-cengir saja karena mendapati kenyataan saya baik-baik saja, tetapi ternyata instruktur selam saya cukup panik karena kehilangan anak didiknya. Saat itu saya jadi merasa bersalah. *maafkan saya wankanwan*

Penyelaman hari itu selesai juga! Walaupun cuma beberapa menit, ternyata capeknya luar biasa. Makan siang yang sudah disediakan pun jadi berasa enak sekali. Sesudah itu, kami tepar dan memilih untuk tidur ketimbang menikmati pemandangan dan suasana di Pulau Pramuka.

Keesokannya, pagi-pagi sekali kami sudah harus sarapan dan mulai bersiap untuk sesi penyelaman hari itu. Karena boat untuk pulang ke daratan Pulau di Jawa dijadwalkan berangkat pada pukul 15.00 WIB, maka sesi penyeleman harus selesai maksimal pukul 12.30 WIB, supaya kami punya waktu untuk makan, bersih-bersih dan bersiap untuk pulang.

Pada penyelaman di hari kedua ini, puji syukur semua berjalan lancar. Kami sudah mulai menikmati keindahan bawah laut, dan tidak cuma fokus pada peralatan dan mengingat-ingat teori yang diajarkan. Setelah dua kali penyelaman di hari kedua, maka kami sudah mencapai batas minimum 4 divelog untuk mendapatkan sertifikat selam Open Water Diver. Instruktur kami memberikan beberapa masukan sebelum akhirnya kami diganjar dengan lisensi selam. Alhamdulillah!

Oh ya, pada saat kelas teori, instruktur kami pernah bertanya: “Menurut kalian, apa risiko terbesar dari kegiatan menyelam?”, secara otomatis saya jawab: “Kematian? Kecelakaan?”. Ternyata, menurutnya bukan itu jawabannya. “Ketagihan,” ujarnya berseloroh. Ah, benar juga, dan hal itu terbukti terjadi pada kami. Baru juga beberapa jam keluar dari laut, kami sudah merencanakan untuk melakukan trip ke Tulamben, Bali pada November ini.

Asyik sih, tapi dalam hati cukup meringis karena tandanya saya harus bekerja lebih keras menghasilkan uang demi ‘hobi mahal’ ini! But, after all, everything is paid off! Hahaha. Sampai jumpa dalam waktu dekat alam bawah laut!

2 thoughts on “Serba-serbi Mengawali Perjalanan Menikmati Dunia Bawah Laut

  1. Tak pikir-pikir ketertarikan kita kok sama sih mba..
    Dulu naik gunung.. terus scuba ini.. terus ke camino de santiago.. dll lah.. apakah karena kita sesama pisces? Ngaruh gitu? hahaha..

    Aku meh ngejar sertifikat neng bajo ah.. wingi bayar 1 juta buat DSD mayan juga.. kudu nyusun rencana jangka menengah berarti.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.