Saya dan Buku-buku

Bisa dibilang, saya bukan seorang pecandu buku, bahkan lebih condong sebagai orang yang sangat malas membaca buku. Tapi, saya sangat menggilai cerita-cerita pendek dan sajak-sajak.

Namun, tidak semua cerita pendek dan sajak saya baca, karena saya termasuk orang yang pemilih dalam urusan siapa yang menghasilkan karya. Terlebih lagi, saya orangnya cocok-cocokan, dan hanya mau meneruskan membaca saat paragraf pertama dari sebuah tulisan terasa klop dan sesuai selera.

Saya memang bukan pecandu buku, tapi saya suka jika diajak belanja buku. Mengoleksi buku-buku yang masih dilapisi segel plastik hingga berdebu. Tanpa tahu kapan buku-buku itu akan disentuh dan diajak bercumbu.

Saya dengan bangga mendeklarasikan diri sebagai pembaca cerita pendek, karena rekor saya mengkhatamkan sebuah novel tebal bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan, novel-novel tersebut biasanya karam sebelum saya berlabuh di halaman terakhir.

Hanya beberapa novel yang berhasil tandas saya baca, dan biasanya ada udang di balik batu. Kalau bukan gengsi karena hampir semua orang membaca novel itu, pasti karena saya ingin mencari perhatian seseorang.buku

Saya masih ingat saat pertama kali membaca sebuah novel dengan tebal lebih dari 300 halaman. Saat itu saya masih siswa SMP, dan membaca buku Harry Potter and The Goblet of Fire. Saya mau-maunya membaca itu karena si pemilik buku merupakan gebetan saya, dan saya jadikan modus supaya ada bahan pembicaraan.

Setelah itu, beberapa tahun kemudian saya baru baca buku tebal lagi, yakni Ayat-ayat Cinta. Saat itu saya sudah duduk di bangku SMA dan termasuk dalam pelajar aktivis masjid (puji Tuhan!). Ya, saya baca pun karena memang ‘disuruh’ sama lingkungan sekitar.

Ketika masuk  kuliah, saya termasuk sebagai mahasiswa yang aktif. Bukan aktivis sih, tetapi sering bergaul sama mereka yang hobinya baca buku-buku tebal tentang filsafat, politik dan sejarah. Berulang kali saya mencoba untuk mencicipi bacaan mereka, berkali-kali juga saya tersedak.

Ajaibnya, dalam dua tahun terakhir setelah saya bekerja, nafsu saya untuk membaca akhirnya melonjak. Mungkin si hasrat muncul karena malu. Malu karena saya hidup di lingkungan yang membutuhkan literasi tingkat tinggi.

Akhirnya, saya pun rutin membaca buku. Diawali dengan membaca kumpulan-kumpulan cerita pendek, novel-novel tipis yang ringan, hingga akhirnya saya mampu membaca novel tebal dan novel ‘berat’ dengan tingkat ketebalan sedang.

Selama cukup aktif membaca, saya kemudian sampai pada kesimpulan tentang klasifikasi buku bacaan versi saya. Setidaknya ada empat macam buku di dunia ini yang saya golongkan berdasarkan kenyamanan dalam waktu dan tempat untuk membaca.

Pertama, buku yang menduduki kasta tertinggi adalah buku yang cocok dibaca di mana pun dan kapan pun. Kedua, buku yang asyik dibaca saat di perjalanan. Ketiga dan keempat berturut-turut adalah buku yang enak dibaca di tempat tidur, serta buku yang harus dibaca di toilet.

Perlu diperhatikan, meskipun ada buku yang berada di kasta paling rendah yakni cuma sanggup saya baca di toilet, bukan berarti buku tersebut tak bermutu. Melainkan, kemampuan saya untuk mencerna maksud dan isi buku itu memang belum sampai, dan hanya bisa saya baca saat berkontemplasi di toilet.

Belakang, saya baru merasa menyesal kenapa tidak dari dulu saya mulai mencoba melahap buku-buku, kalau iya mungkin sekarang saya agak sedikit pintar. Tetapi, tak apa. Sekarang sadar saja saya sudah bersyukur, semoga appetite for reading bisa bertahan selamanya dan bisa dikelola dengan baik. Syukur-syukur bisa mengilhami saya supaya bisa ikut membuat karya.

Selamat membaca!

Share This:

Published by

2 Replies to “Saya dan Buku-buku

  1. Kalau saya baca novel tebal paling karangannya Dan Brown saja mbak, 5 judul yang kebanyakan udah diangkat di layar lebar sudah saya libas semua. Justru buku – buku pendek tentang agama atau motivasi karya Ippho Santosa dan Jamil Azzaini atau terjemahan seperti 8 to be great malah terlunta – lunta entah sampai dimana bacanya 😛

Leave a Reply