Satay Kato Yogyakarta bukan Sekadar Sate Ayam ala Taichan

Kata orang, hal yang tidak boleh dilewatkan saat mengunjungi suatu tempat adalah mencobai kulinernya. Konon, dari kuliner tradisional setempat kita bisa membaca tentang keluhuran budaya daerah tersebut. Sayangnya, bagi saya yang enggak suka kulineran, kalimat pertama pada paragraf ini selalu di-skip dengan mudah.

Meskipun demikian, beberapa kali saya tergoda untuk menyicipi makanan yang katanya sedang hits, itu pun biasanya karena bujuk rayu seorang teman. Nah, seperti beberapa pekan lalu saat saya diajak ketemuan bareng temen-temen hits Yogya, ada blogger, buzzer, sampe admin media sosial yang followernya sejumlah uang cash di dompet saya.

Kali itu, kami ketemuan ba’da magrib di Satay Kato Yogyakarta. Konon makanan berjenis sate ayam ini memang lagi hits di Jakarta dan seantero Indonesia. Pasalnya, cabangnya banyak banget dan terus bertambah hampir tiap bulan. Nah, pas sampe ke lokasi, saya langsung pesan satu porsi Satay Kato + nasi + es teh manis, maklum kelaparan setelah siangnya ikutan Women’s March Yogyakarta.

Seperti biasa, kalau saya pesen makanan, saya tidak pernah punya ekspekstasi apa-apa. Karena prinsip saya, makan hanya untuk bertahan hidup, jadi ya selama makanan bisa ditelan, itu sudah cukup bagi saya.

Tetapi, ketika si sate pertama kali hadir di meja, saya cukup terkedjoet, karena dipikir akan seperti sate ayam dengan bumbu kacang yang melimpah, tapi nyatanya bukan. Daging ayamnya polosan, dengan sambal merah yang tampaknya bisa bikin huh-hah.

Impresi pertama saat melihat sate itu membuat saya teringat dengan sate taichan yang juga konon lagi hits banget di Jakarta. Sebenarnya saya penasaran dengan sate itu, tapi semenjak balik ke Indonesia, saya tidak pernah berkesempatan untuk menjajalnya.

Kembali ke satay kato, asumsi saya, sate ayamnya bakal ga ada rasanya dan cuma pedas saja karena sambel. Tet tot! Ternyata asumsi saya salah besar. Satenya gurih juga meski tanpa sambal, dagingnya enggak alot, dan porsinya cukup mengenyangkan dengan 10 tusuk sate ayam per porsinya.

Telisik demi telisik, ternyata satay kato ini bukanlah varian dari sate taichan, malahan merupakan rival utamanya. Pembeda utama satay kato dari sate taichan ada pada bumbu saat mengolah dagingnya. Kalau sate taichan hanya menggarami dan memberikan jeruk nipis pada dagingnya, nah kalau satay kato daging ayamnya dikasih bumbu bawang putih makanya kemudian dagingnya berasa gurih banget.

Di samping itu, menurut saya, sambelnya juga enak, cocok buat yang suka makanan pedas. Makanya saya cukup senang karena ada sambel pedas yang enggak pedes banget kaya ayam geprek yang dikasih cabe lebih dari 5. Tapi, kalau memang dirasa terlalu pedas, nanti bisa disiasati sama es teh manis kok.

Oh ya, menunya sendiri sebenarnya cuma satu: yaitu satay kato ini, hanya saja dibedakan dari sambalnya, apakah mau dipisah atau dicampur. Jadi, buat yang ga doyan pedas, lebih baik sambalnya dipisah saja.

Untuk harganya, seporsi satay kato (tanpa nasi) dibanderol Rp18.000, tapi kalau kita pesan paketan yang terdiri atas seporsi satay kato + nasi + es teh manis, harganya cuma Rp20.000, jauh lebih murah ketimbang pesan satu-satu yang bisa mencapai Rp25.000.

Buat yang tertarik untuk menyantap satay kato ini, kalian bisa datang langsung ke Jl Persatuan (Jl Kaliurang KM 0.25), sebelah barat Perpustakaan Pusat UGM, atau depannya Fakultas Farmasi UGM. Jadwal bukanya sih dari jam 5 sore – 11 malam, tapi biasanya tutup lebih cepat karena satenya sudah duluan ludes. Nah, kalau misalnya takut kehabisan, kalian bisa pesen online dulu kok siangnya, start dari jam 11 sampai jam 4 sore lewat nomor WhatsApp yang ada di akun Instagram @sataykato.yogyakarta.

Sebenarnya ada satu kekurangan dari Satay Kato ini. Mereka tidak available di Go-Food! Ini tentunya menjadi petaka bagi orang yang ga suka ke luar rumah hanya untuk urusan perut, pasalnya mau enggak mau harus datang ke lokasi. Tapi katanya ada alasan ideologis kenapa kemudian mereka memutuskan untuk tidak bermitra dengan Go-Food. Yasudah, kita memang harus berkorban untuk mendapatkan yang kita inginkan, termasuk dalam urusan Satay Kato ini.

Setelah kenyang menyantap Satay Kato ini, saya pun bertemu dengan para influencer Yogya ini, dan kami berdiskusi banyak hal mulai dari algoritma terbaru Instagram, tips and trik dari beauty blogger, sampai hal-hal remeh temeh tentang Yogya dan sekitarnya. Enggak berasa, tiba-tiba sudah larut malam, dan kami pun berpamitan satu per satu. Sebenarnya ini juga menjadi indikasi kalau tempatnya enak buat nongkrong, karena selain ada meja dan kursi, disediakan juga lesehan buat yang hobi nyelonjorin kaki atau duduk bersila.

Jadi, jangan ragu buat yang pengen nyobain makanan hits kekinian dengan cita rasa yang aduhai ini. Kalau masih ragu, kalian bisa kepoin akun Instagram mereka di @sataykato.jakarta dan khusus Yogya di @sataykato.yogyakarta.

Cheers!

Share This:

2 Comments

Hans March 18, 2018 Reply

Kayaknya enak ya satenya.
Harganya juga gak mahal2 amat.
Sayang belum ada di Jayapura.
Lha sate taichan aja baru aja ada disini.
Itupun udah mahal 30rb-35rb per porsi, hahaha 😀

Nenden March 18, 2018 Reply

Wahhhh saya malah belum pernah makan sate taichan.
Ikutan franchise-nya Satay Kato aja kalau begitu, buka di Jayapura.
he he

Leave a Reply