Saatnya Sulawesi Selatan Move On dari Sekadar Hasil Alam

Sulawesi Selatan merupakan daerah yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional. Berdasarkan data Bank Indonesia pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada 2015 mencapai 7,15%, sedangkan dalam lima tahun terakhir rata-rata pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan sebesar 7,9%.

Namun, prestasi yang membanggakan tersebut terancam akan tergusur dalam dua tahun ke depan jika Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan tidak kreatif dalam menghasilkan pendapatan lainnya sebagai alternatif dari dua sektor unggulan yakni pertambangan dan penggalian, serta pertanian.

Dua sektor unggulan tersebut selama ini berkontribusi besar dalam menghasilkan dua komoditas andalan yang menjadi penopang kinerja ekspor, yakni nikel dan kakao. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, harga dua komoditas tersebut tercatat terus menurun dan secara langsung menyeret nilai total ekspor.

image source: balkaneu.com
image source: balkaneu.com

 

Harga komoditas yang fluktuatif dan cenderung terus merosot dalam setahun terakhir, serta merosotnya volume produksi karena kondisi alam yang tidak mendukung musim tanam dan musim panen, kemudian membuat komoditas tambang dan agribisnis tidak bisa lagi dijadikan sebagai pegangan.

“Selama ini Sulsel hanya bergantung pada alam dan apa adanya atau natural growth. Kalau begini terus kemungkinan besar dalam dua tahun pertumbuhan Sulsel akan berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Ekonom Kementerian Keuangan Hamid Paddu belum lama ini.

Hamid mengingatkan meskipun pertumbuhan ekonomi Sulawesi Selatan pada tahun lalu masih di atas rata-rata, tetapi jika dilihat tren pertumbuhan sejak 2010, maka akan terlihat adanya perlambatan yang diprediksi akan terus berlanjut jika tidak segera diantisipasi.

Dia menilai, untuk mengatasi tren perlambatan tersebut pemerintah harus terus menggiatkan industrialisasi pengolahan komoditas dengan memanfaatkan teknologi yang mampu menghasilkan produk olahan secara efisien. Sektor pengolahan ini juga terbukti mampu menahan perlambatan sehingga ekonomi tidak jatuh lebih dalam.

“Akar masalah di Sulawesi Selatan itu bukan tentang ekonomi global dan turunnya harga komoditas, tetapi belum adanya sentuhan teknologi untuk mengejar pertumbuhan,” katanya.

Dendi Ramdani, Head of Industry and Regional Research PT Bank Mandiri Tbk., juga menilai pemberdayaan komoditas unggulan dan industrialisasi berbasis sumber daya lokal tak hanya menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi juga sebagai strategi yang bisa diimplementasikan dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean.

Dia mengatakan hilirisasi komoditas potensial berfungsi untuk memberikan nilai tambah kepada komoditas-komoditas yang harganya terus menurun. “Pertanian merupakan potensi Sulsel, tetapi nilai terus menurun sehingga diperlukan added value lewat industri pengolahan,” katanya.

Sektor industri pengolahan di Sulawesi Selatan tercatat mengalami percepatan pertumbuhan. Pada kuartal IV/2015, industri pengolahan tumbuh 9,02% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, sedangkan pada kuartal sebelumnya hanya tumbuh sebesar 4,35%.

Pertumbuhan tersebut dinilai masih belum maksimal, karena masih banyak potensi yang belum tersentuh industri pengolahan, seperti potensi hasil laut berupa udang, cakalang, dan bandeng. Adapun, empat pabrik pengolahan rumput laut diwacanakan dibangun pada tahun ini.

Sementara itu, pada tahun lalu nilai ekspor Sulsel mencapai US$1,4 miliar atau turun sebesar 19,38% jika dibandingkan dengan perolehan sepanjang 2014 yang mencapai nilai US$1,74 miliar. Padahal, pemerintah provinsi menargetkan pertumbuhan ekspor hingga 3 kali lipat pada 2018 atau mencapai US$4,5 miliar.

Share This:

Published by

Leave a Reply