Mencari Alasan Kenapa Surga Diciptakan

​”Setelah puluhan tahun kau menunggu, kini kau telah berjalan ke surga. Ketika hampir tiba, ketika kutanyakan ‘kenapa surga diciptakan?’ kau hanya bisa diam. Untuk apa kau berjalan? Kau juga tidak tahu. Dasar manusia!”

Kisah dalam novel ini berawal dari kematian Rante Ralla, seorang pemimpin adat di Desa Kete’. Kematian tersebut bisa dibilang membawa banyak persoalan bagi keluarga yang ditinggalkan, khususnya Allu Ralla yang merupakan keturunannya.

Malang tidak bisa ditolak, lahir sebagai keturunan bangsawan, maka saat mati pun harus memiliki tempat tertinggi, dengan upacara kematian paling sempurna. Mengorbankan puluhan kerbau dan ratusan babi, yang diharapkan bisa menjadi tunggangan dan pengiring saat berjalan ke puya. Ke surga.

Untuk merayakan kematian tersebut, sudah pasti memerlukan dana yang sangat besar. Hal itulah yang membuat Allu Ralla dan keluarganya susah, karena Rante tidak meninggalkan harta yang banyak. Sebagai mahasiswa di Makassar, dan telah terpapar modernitas, Allu berinisiatif untuk menguburkan ayahnya di Makassar, tanpa adat. Lebih hemat, tidak perlu menghamburkan uang banyak.

Namun, ide tersebut ditolak mentah-mentah oleh keluarga Ralla. Mereka menganggap hal itu bisa mencoreng nama baik mereka sebagai bangsawan. Selain itu, mereka yakin tanpa adanya upacara kematian maka Rante Ralla tidak akan pernah sampai ke puya.

Menghadapi banyak problema, membuat Allu harus putar otak demi mempertahankan ide-nya, atau mencari uang untuk mengupacarakan ayahnya. Dari sini, kisahnya berlanjut hingga polemik dengan perusahaan tambang yang ingin menguasai tanah warisan keluarga Ralla, hingga kisah asmara Allu dan intrik picik yang mengantarkan Desa Kete’ harus ‘diadzab’ oleh para leluhur di puya.

Hal yang paling kentara adalah novel ini memiliki latar kebudayaan Toraja yang sangat kuat, tentang adat Rambu Solo: pesta kematian — yang selama ini menjadi daya tarik utama Tana Toraja –, serta bagaimana kritik terhadap budaya leluhur itu muncul di zaman modern.CYMERA_20160323_075104[1]

Entah beruntung atau malah sebaliknya, sebelum membaca novel ini, saya sudah dua kali menyambangi Toraja, sehingga kepala saya bisa dengan jelas menggambarkan bagaimana setting tempat dan ritual yang dideskripsikan si penulis.

Secara keseluruhan, saya menyukai novel ini karena ide cerita yang diangkat, serta gaya bahasa yang digunakan sangat beragam seiring dengan penokohan yang dihidupkan. Bagaimana gaya bahasa dan pilihan kata yang digunakan saat Allu Ralla ambil bagian, berbeda dengan saat Maria Ralla ditampilkan. Melalui novel ini, saya pun ‘dipaksa’ untuk mempelajari tradisi setempat.

Meski demikian, kesalahan-kesalahan minor yang hadir di buku cetakan pertama ini cukup bikin badmood, seperti beberapa typo yang saya temukan, kesalahan penulisan nama, serta ada dua kata yang sama saling berdampingan.

Misalnya saja, di buku tertulis Boni, padahal yang dimaksud Bumi. Juga, saat kisah Maria yang sedang berjalan menuju puya, tertulis: “Aku berjalan, aku segera menemui Ambe dan memulai penantian kedatangan Allu.” (hal. 204). eharusnya, bukan Allu yang tertulis di situ, melainkan Bumi yang merupakan kekasih Maria di passiliran.

Selain itu, hal lainnya yang cukup mengganggu saya adalah kesan penulis yang ingin tampak pintar dengan menyisipkan info-info yang kurang relevan dan terlalu jauh. Misalnya, saat Allu tengah memimpin rapat keluarga tentang pelaksanaan rambu solo untuk ayahnya, penulis memaksa untuk menyisipkan info tentang Operasi Overlord tahun 1944.

“Saya memutuskan membayar kesalahan saya pada Ambe, pada Indo, dan pada Maria, adik saya. Kesalahan kecil kadang harus dibayar dengan hal besar. Misalnya, 6 Juni 1944, Operasi Overlord bisa menjatuhkan Jerman hanya kesalahan kecil Hitler; ia tertidur dan tidak mengetahui ketibaan sekutu di Pantai Normandia, waktu itu.” (hal. 120).

Di balik itu semua, tidak membuat saya surut untuk membuka peluang mengidolai penulis muda asal Sulawesi Selatan ini. Apalagi, modalnya yang cukup besar dengan pernah menjadi penulis cerpen terbaik Kompas 2014, dan Asean Young Writers Award 2014.

Oh ya, belum lama ini Faisal juga baru saja meluncurkan novel terbarunya yang berjudul Pertanyaan Kepada Kenangan, sepertinya cukup sayang jika dilewatkan. Terus berkarya generasi baru sastra Indonesia!

Puya ke Puya
Faisal Oddang
Cetakan Pertama, Oktober 2015.
Kepustakaan Populer Gramedia
xii+218 halaman.
ISBN-13: 9789799109507

Share This:

Published by

Leave a Reply