Pilah-pilih Rekan Perjalanan

Belum lama ini saya dikontak oleh salah seorang mantan rekan kerja saat saya jadi kuli tinta di Solo. Katanya ada temannya yang sedang cari narasumber untuk artikel dengan tema travelmates. Terus dia merekomendasikan saya dengan alasan saya cukup sering jalan-jalan (padahal saya kurang piknik).

Kemudian interview pun berjalan melalui aplikasi percakapan di smartphone. Wartawati yang tengah menulis untuk rubrik YOUNG di harian terbesar di Solo itu menanyakan bagaimana cara saya memilih rekan seperjalanan, dan bagaimana tipsnya supaya mendapatkan travelmates yang cocok.

Saya pun coba menjawab pertanyaan itu sesuai dengan pengalaman yang telah dilalui. Saya bilang, pemilihan travelmate biasanya ditentukan dari tujuan awal traveling. Apakah itu jenis perjalanan buat sekadar senang-senang, atau cari pengalaman baru.

10171135_10203205139591263_4970866428127798341_n

Nah, kalau sekadar buat senang-senang, biasanya saya memilih teman-teman terdekat yang sering berinteraksi sehari-hari, misalnya teman kerja atau sahabat sepermainan.

Kandidat travelmates yang diajak itu harus sudah dekat, atau sekurang-kurangnya sudah tau seperti apa sifatnya. Apakah teman itu enggak suka panas-panasan atau gampang capek, dan itu berkaitan dengan penentuan destinasi liburan.

Karena niatnya cuma senang-senang, kemana saja tujuan wisatanya sih oke-oke saja, karena untuk urusan ini yang terpenting adalah siapa travelmates-nya.

Untuk menentukan destinasi wisata pada tujuan perjalanan yang pertama, biasanya diawali dengan penentuan jadwal liburan. Setelah itu, tiap anggota perjalanan bisa mengajukan ide destinasi wisatanya. (Biasanya ada satu orang yang kasih ide terus disetuju sama yang lain, atau tetep ada diskusi dan debat terkait tujuan travelingnya).

Kebanyakan, destinasi yang disetujui semua anggota perjalanan adalah yang cocok dengan perkiraan budget awal, serta lokasi yang belum pernah dikunjungi oleh semua anggota traveling.

Setelah itu, pembagian tugas. Ada yg kebagian menyusun itinerary perjalanan, booking tiket pesawat atau moda transportasi lain, juga hotel tempat menginap.

Jika draft kasar itinerary kelar disusun, akan ada rapat atau disounding kepada semua anggota. Jika semua sudah oke, baru perhitungan budget secara rinci, sehingga semua anggota bisa menabung atau menyiapkan dana untuk sepanjang perjalanan.

Cara tersebut ditempuh supaya semua anggota perjalanan paham tempat apa saja yang bakal dikunjungi, sehingga bisa mempersiapkan diri mulai dari kostum hingga stamina, juga untuk meminimalisasi komplain saat traveling.

Sementara itu, kalau niatnya benar-benar cari pengalaman baru, saya prefer solo traveling, karena destinasi perjalanan dan kegiatan apa saja yang akan dilakukan semuanya sesuai dengan kehendak saya.

Untuk hal ini, biasanya saya sudah cari jadwal terlebih dulu juga menyusun budget dan itinerary selama perjalanan. Kalau sudah fix, saya baru menawarkan rencana tersebut ke teman-teman dekat yang kira-kira satu ‘visi’.

Semisal tidak ada yang berminat untuk ikut, saya tetap berangkat sendiri, sedangkan jika ada yang ikut, saya pastikan ajukan persyaratan. contohnya: si travel mates itu harus ikut itinerary, menyiapkan budget, dan yang paling penting jangan pernah mengeluh sepanjang perjalanan yang saya susun.

Nah, jika memang tidak ada yang ikut dari teman-teman deket, saya juga biasanya share jadwal traveling di berbagai grup atau komunitas terkait. Misalnya rencana hiking, saya akan post di grup pendaki gunung, atau rencana backpacking dishare di komunitas backpacker.

Syukur-syukur ada yang mau ikut dan itu merupakan orang baru. Setali tiga uang, selain bisa eksplore tempat baru, juga dapat bonus punya sahabat baru.

Terakhir, sebagai tips untuk mencari temen travel sih cuma satu. Yakni, cari orang yang bisa berkomitmen. komitmen terhadap itinerary sama budget yang sudah disusun.

Karena, semanja-manjanya atau serempong-rempongnya orang, jika sudah mau komit terhadap rencana perjalanan, mereka bisa ‘dikendalikan’. Kalau selama perjalanan masih ada yang aneh-aneh, ya sudah ditinggal saja dan jangan diajak lagi ada perjalanan selanjutnya. hhihi XD

Oh ya, omong-omong masalah travelmate, saya jadi inget tulisan saya dua tahun lalu. Saat itu (dan sampai saat ini) saya berharap bisa mendapatkan jodoh saat melakukan traveling 😀 Silakan buat yang iseng dan ga ada kerjaan bisa mampir juga ke tulisan ini: Jodohku, Travelmate-ku.

Happy traveling, mate!

Share This:

Published by

Leave a Reply