Hilangnya Kebebasan di Freedom Institute

Satu kisah duka menghinggapi jiwa saya pekan lalu. Mulai saat itu hingga seterusnya, sepertinya saya tidak akan mendapatkan ketenangan yang sama lagi di tengah hiruk-pikuk ibu kota. Laksana, pulau yang ditinggalkan angin.

Kisah pilu itu tentang tutupnya sebuah tempat favorit di pusat Jakarta: Perpustakaan Umum Freedom Institute. Sebuah perpustakaan yang selalu berhasil memberikan saya ketenangan dan kenyamanan di tengah tekanan deadline itu ternyata sudah tidak beroperasi sejak 2 Oktober 2015.

Sialnya, Agustus-Oktober saya banyak menghabiskan waktu di luar Jakarta, sehingga berita buruk tersebut tidak segera saya ketahui. Padahal, kalau saya tahu lebih cepat, sudah pasti bakal banyak menghabiskan waktu-waktu terakhir di sana.

Pantas saja, dalam dua pekan terakhir, saya selalu coba untuk mampir di sana, tetapi selalu gagal. Pertama memang ada pengumuman perpustakaan tutup, saya pikir itu tutup reguler untuk book-shelving, yang kedua gerbang Wisma Proklamasi sudah tidak terbuka lebar seperti biasanya.freedom-3

Kali kedua itu, saya masih tetap berpikir positif bahwa Perpus Freedom memang tengah mengalami perbaikan atau penyusunan koleksi buku. Baru kali ketiga saya mulai mencari informasi sebelum ‘kecele’ lagi.

Setelah stalking akun twitter-nya @perpus_freedom dan @freedominst, baru akhirnya saya sadar kalau perpustakaan di Jl. Proklamasi 45 itu tinggal kenangan, dan sudah diumumkan sejak akhir September 2015.

Berita duka paling menghebohkan bulan ini setelah insiden penyerangan di Paris.
Berita duka paling menghebohkan bulan ini setelah insiden penyerangan di Paris.

Seakan tidak puas dengan informasi tersebut, stalking pun semakin mendalam dan merajalela demi menemukan fakta musabab tutupnya gudang ilmu itu. Berdasarkan informasi yang sudah saya himpun, Perpusatakaan Freedom Institute ditutup karena manajemen sudah tidak bisa menutupi biaya operasional bangunan, karena nilai pajak yang terus meningkat tiap tahunnya.

Kemudian, gedung Freedom Institute itu pun sudah dijual kepada mantan presiden kalian, iya SBY, dan konon akan dijadikan sebagai kantor Partai Demokrat. Namun, pengurus yayasan juga menjelaskan bahwa Perpustakaan Freedom tidak akan hilang, melainkan tutup sementara untuk pindah lokasi. (baca: Freedom Institute Akan Pindah, Bukan Mau Tutup)

Suasananya yang damai, desain interior yang nyaman, dan koleksi bukunya bisa melegakan dahaga jiwa merupakan oase yang membuat setiap orang ingin selalu kembali. Entah untuk sekadar membaca barisan kalimat di buku, menikmati suara lonceng di taman, atau hingga mengerjakan proyek-proyek penting.

Hal itulah yang membuat banyak orang kecewa atas keputusan tutup dan pindahnya Perpustakaan Freedom, termasuk saya. Apalagi, wacana untuk pindah medekati lokasi kampus tentunya membuat akses dari lokasi saya semakin jauh.

Semoga saja, kepindahan Perpus Freedom ini tidak akan diikuti oleh perpustakaan-perpustakaan independen yang mengasyikan lainnya, tetapi semoga bisa menciptakan perpustakaan-perpustakaan baru yang lebih nyaman. Aammiin.

Share This:

Published by

9 Replies to “Hilangnya Kebebasan di Freedom Institute

  1. Kenapa ga cari donatur atau bukunya diintegrate sama komunitas pecinta buku yg punya tempat utk simpan koleksinya. Saya senang main kesini juga beberapa kali, tempagnya cozy, suasananya adem, bukunya bagus bagus, terutama koleksi jurnalnya. Sayang sekali gudang ilmu independen seperti ini harus tutup.

  2. Saya ke sana pagi ini dan baru sadar kecele setelah ada satpam menyetop, menanyakan, dan memberitahukan bahwa perpustakaan sudah berganti fungsi menjadi kantor partai. What an Irony, Indonesia. You’re always this great.

  3. duh… bener2 ya.. ini berita sedih bgtsss… btw, masih ada perpustakaan yg nyaman gk y di jkt ini spt yg freedom library ini? hiks..

    1. Hi Bernie, setelah Freedom Institute Library tutup, saya langsung pindah tongkrongan ke Perpustakaan Umum Cikini, tempatnya di Taman Ismail Marzuki, samping planetarium, dekat IKJ. Tempatnya cukup luas dan terang, meskipun koleksi bukunya terbatas.

      Selain itu, kamu juga bisa coba Perpustakaan Umum Daerah Nyi Ageng Serang di HR. Rasuna Said Kav 22 C Kuningan Timur Setiabudi Jakarta Selatan. Perpustakaan ini sudah lama banget, jadi interiornya kaku dan sedikit sumpek, tapi koleksi bukunya banyak dan view di luar bagus. Buka sampai jam 8 malam.

      🙂

Leave a Reply