Lika-liku Perpanjangan Masa Berlaku Paspor

“Jangan terlalu membenci seseorang, barangkali orang itu yang akan menjadi jodohmu”. Istilah ini bisa menjadi kesimpulan pada saat saya berjuang memperpanjang masa berlaku paspor di Kantor Imigrasi Surakarta beberapa hari lalu.

Sebenarnya, saya sudah mencoba untuk memperpanjang paspor pada awal Februari, hanya saja percobaan pertama gagal dan saya malah berdebat cukup panas dengan petugas imigrasi yang mewawancarai saya.

Pasalnya, saat itu saya dimintai bukti kalau saya seorang karyawan swasta, misalnya dengan menunjukkan surat keterangan kerja atau kartu nama atau kartu identitas, dsb. Sebagai karyawan kontrak dan catutan, tentunya saya tidak punya hal-hal yang berhubungan dengan identitas, yang saya punya hanya surat kontrak dan pastinya surat itu tidak saya bawa-bawa kemana pun saya pergi.

Saat itu, saya masih menimpali si petugas yang berinisial JC itu dengan santai, saya bilang saya tidak bawa karena di persyaratan perpanjangan paspor yang diumumkan oleh Direktorat Jenderal Imigrasi hal itu tidak disebut, dan persyaratan untuk perpanjangan paspor HANYA paspor lama yang sudah tidak berlaku dan KTP.

View this post on Instagram

Sahabat Mido, sudah waktunya melakukan penggantian paspor? Dokumen persyaratannya gak pake ribet, yaitu: 1. KTP Elektronik 2. Paspor Lama Pastikan kamu melampirkan dokumen asli dan paspor lamanya diterbitkan di dalam negeri setelah Tahun 2009. #DitjenImigrasi #Imigrasi #PasporMudah

A post shared by Ditjen Imigrasi (@ditjen_imigrasi) on

Ketika saya bilang begitu, si petugas itu mulai menaikkan nada suaranya. “Tapi itu bukan berarti kami tidak berhak untuk meminta dokumen lainnya yang mendukung profil saudara,” katanya. Saya ikut terpancing untuk mengencangkan volume suara juga. Apalagi, petugas itu seenaknya saja memotong ketika saya mencoba menjelaskan hal ini-itu. Akhirnya, karena emosi yang sudah sampai ubun-ubun, saya pun meminta kembali dengan paksa paspor saya yang dipegangnya, dan meninggalkan ruangan dan bilang “Gila! 3 jam nunggu sia-sia, enggak ada hasilnya!” dengan setengah berteriak.

Setelah kejadian itu, saya banyak curhat di Twitter, dan ternyata kasus seperti itu tidak hanya dialami oleh saya, tetapi juga oleh beberapa pemohon paspor lainnya. Melalui diskusi di Twitter, akhirnya kami sepakat bahwa Ditjen Imigrasi tidak menginformasikan hal-hal persyaratan tambahan secara terbuka.

Ya sudah, dengan langkah gontai saya berpikir, enggak apa-apa. Lagi pula juga tidak mendesak untuk punya paspor. Saya belum ada rencana ke luar negeri juga. Namun, belakangan saya merasa siapa tau saya akan dapat kesempatan jalan-jalan ke negara antah berantah, dan sebaiknya memang sudah dipersiapkan dari sekarang.

Awalnya, saya berencana untuk memperpanjang paspor di Jakarta saja, tetapi saat melihat jadwal di aplikasi Antrian Online, tidak ada jadwal kosong untuk kantor imigrasi di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Namun, jadwal kosong banyak banget di Kantor Imigrasi Surakarta.

Akhirnya, dengan terpaksa, saya pun mereservasi jadwal di Solo (((LAGI))). Satu-satunya harapan saya kala itu adalah supaya tidak ketemu JC lagi. Saya mikirnya juga petugas imigrasi kan banyak, pasti gantian, jadi kemungkinannya kecil lah untuk ketemu dia lagi.

 

Nah, waktu itu saya memilih untuk datang pada jam pagi dari pukul 08.00-09.00. Namun, karena kereta Prameks dari Jogja yang saya naiki terlambat datang, akhirnya saya baru sampai ke Solo jam 9 lebih. Pas sampai, kantor imigrasi tidak seramai waktu pertama kali saya ke sana. Suasana masih lengang, petugas yang ngasih nomor antrean, juga customer service yang mengecek berkas merupakan orang-orang yang berbeda dari sebelumnya.

Saat itu antrean tidak terlalu panjang dan prosesnya cenderung lancar. Saya pun masuk ke ruangan untuk wawancara dan rekam biometrik. Dengan tatapan penuh telisik, saya lirik satu per satu meja yang terdiri dari lima booth itu. Petugas yang ada di meja nomor 1-3 seingat saya merupakan orang yang berbeda dari sebelumnya, namun meja nomor 4 membuat saya cukup curiga, saya gak bisa lihat paras petugasnya dari depan karena posisi duduk saya yang ada di samping.

Saya pun melihat nomor antrean dan menghitung-hitung kira-kira saya akan dipanggil ke meja nomor berapa. Kalau dugaan saya benar, perkiraan saya akan datang ke meja nomor 2 atau 3. Tapi, entah kenapa, orang yang ada di meja nomor 4 tidak kunjung kelar, petugasnya tampak rempong menanyakan ini-itu kepada ibu-ibu yang sepertinya akan berangkat umroh.

Tinggal 2 nomor sampai nomor antrean saya dipanggil. Kemudian nomor sebelum saya dipanggil ke meja nomor 5. Perasaan mulai bergejolak, saya curiga kalau saya akan dipanggil ke meja nomor 4. Oh ya, ibu-ibu yang bagian input data di meja tersebut saya ingat betul merupakan orang yang sama. Ketakutan saya pun terbukti, saya dipanggil ke meja nomor 4.

Jreng jreng jreng. Ternyata, petugas yang akan mewawacarai saya adalah orang yang sama yang waktu itu berdebat dengan saya! Lebih jauh lagi, ternyata doi juga masih ingat insiden yang kita alami bersama itu (ceileh). Langsung deg-degan lah. Ngeri juga kalau misalnya permohonan perpanjangan paspor saya ditolak.

Kemudian, saya pun menarik nafas panjang dan berusaha tenang. Mencoba mengendalikan suasana. Si JC juga cukup tenang saat itu, mungkin karena masih pagi, jadi suasana hati masih segar, berbanding terbalik dengan keadaan pertama kali saat kemi bertemu, yakni sudah sore banget dan termasuk antrean nomor-nomor terakhir, sehingga bisa jadi kerena lelah kami mudah terpancing emosinya.

Nah, untungnya Si JC enggak aneh-aneh, dia bilang syarat yang ditanyakan waktu itu sudah disiapkan atau belum, dan saya jawab sudah ada. Dia pun menanyakan beberapa hal tentang kerjaan saya dan identitas saya. “Tuh kan, sebenarnya cuma begini saja, kenapa waktu itu Anda sampai marah-marah?” tanyanya.

Saya jawab saja, kalau saya merasa tidak terinformasikan dengan baik tentang syarat apa saja yang harus disiapkan, dan saya bilang ternyata hal itu juga dialami oleh banyak orang. Si JC langsung bilang, hal itu memang sengaja tidak dipublikasikan ke khalayak dengan alasan keamanan. Dia juga menambahkan bahwa tugas Imigrasi bukan hanya sekadar pelayanan, tetapi juga urusan keamanan negara.

Lebih lanjut saya tanya, tapi apa salahnya diinformasikan kepada masyarakat untuk mempersiapkan dokumen lainnya yang mendukung, sehingga bisa memudahkan mereka saat memohon paspor. Menurut dia, berkas pendukung tidak sama untuk masing-masing orang, semuanya sangat personal dan tergantung profil pemohon. Jika diumumkan semuanya apa saja yang harus dipersiapkan, ditakutkan aka nada upaya manipulasi oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Sebagai contoh, jika ada orang yang sebenarnya tidak memiliki pekerjaan dan berupaya ke luar negeri untuk mencari kerja secara ilegal, dia bisa saja pura-pura bikin kartu nama atau surat keterangan kerja palsu sebagai dokumen pendukung jika persyaratan itu diumumkan. Sementara itu, seharusnya hal-hal yang melekat kepada setiap orang memang tidak perlu dipersiapkan.

“Kami tidak hanya melindungi keamanan negara, tetapi juga kemanan pemohon paspor. Jadi kami harus bisa memastikan orang tersebut mengajukan paspor untuk kepentingan yang baik,” imbuhnya.

Ketika dijelaskan seperti itu, saya manggut-manggut saja. Cukup masuk akal menurutku. Tapi sayangnya, memang tidak semua orang bisa paham hal-hal seperti ini, makanya tak heran banyak yang protes dan komplain, serta merasa ‘dijebak’ dan tidak terinformasikan dengan baik.

Setelah diskusi tersebut, akhirnya si JC menerima permohonan perpanjangan paspor saya, lalu mengambil foto dan sidik jari saya. Namun sayang, ketika saya meminta paspor yang 24 halaman, dia bilang sudah tidak tersedia, sekarang semuanya 48 halaman. Padahal, paspor lama saya 24 halaman dan enggak habis-habis.

Kemudian, saya diberi kertas untuk panduan pembayaran dan pengambilan paspor. Kebetulan, di depan Kantor Imigrasi Surakarta ada mobil Pos, sehingga saya bisa bayar langsung di sana. Biaya untuk perpanjangan paspor 48 halaman sebesar Rp300.000, dan biaya administrasi/pelayanan sebesar Rp55.000, sehingga total yang harus dibayar sebesar Rp355.000.

http://www.imigrasi.go.id/index.php/layanan-publik/paspor-biasa#masa-berlaku-dan-biaya

Setelah melakukan pembayaran, paspor akan jadi dalam tiga hari kerja, dan bisa diambil mulai hari kerja keempat setelah pembayaran. Sebagai ilustrasi, jika saya melakukan permohonan dan pembayaran pada hari Jumat, maka paspor saya sudah selesai pada hari Rabu pekan depan, dan bisa diambil mulai Kamis.

Untuk pengambilan paspor, pemohon bisa datang langsung tanpa perlu mengambil antrean. Nanti bisa langsung menghadap customer service yang khusus untuk pengambilan paspor dengan membawa bukti tanda pengambilan (dari petugas wawancara) ditambah dengan bukti pembayaran dari kantor pos.

Kebetulan saya tidak akan bisa mengambil paspor secara langsung karena harus kembali ke Jakarta, maka saya meminta tolong teman saya yang ada di Solo untuk mengambilkannya. Untuk itu, saya harus membuat surat kuasa bermaterai yang menyatakan bahwa saya memberikan kuasa kepada teman saya untuk melakukan pengambilan paspor.

View this post on Instagram

Sapa aja yg boleh ambil paspor yang uda selesai dan syaratnya, cekidot..

A post shared by Kantor Imigrasi Surakarta (@kanimsurakarta) on

Nah, demikianlah curhatan panjang lebar tentang perjuangan saya memperpanjang masa berlaku paspor. Jika diringkas, sebenarnya proses perpanjangan paspor itu cukup sederhana kawan-kawan:

  1. Pastikan mendapatkan antrean secara online (cari kantor imigrasi yang memiliki jadwal kosong banyak, Solo contohnya).
  2. Siapkan KTP dan paspor lama yang sudah tidak berlaku. Fotokopi masing-masing satu rangkap. (KTP dikopi seukuran A4, dan paspor dikopi bagian depan dan belakang – biasanya tukang fotokopi yang berada di Kawasan kantor Imigrasi sudah hapal).
  3. Siapkan dokumen pendukung lainnya yang mungkin akan ditanyakan oleh petugas (ini sangat random, tapi untuk yang di KTP-nya tercatat sebagai karyawan swasta, sebaiknya siapkan surat keterangan kerja, bisa juga ditambah dengan undangan jika tujuan ke luar negeri untuk menghadiri event tertentu, bisa juga keterangan dan rencana perjalanan jika hendak berlibur).
  4. Datang ke kantor imigrasi sesuai jadwal yang telah direservasi di aplikasi antrean online. Kemudian datangi petugas yang memberi nomor antrean pengecekan berkas, nanti juga akan diberi formulir untuk diisi. Jadi, sebaiknya sediakan juga pulpen dengan tinta hitam.
  5. Tunggu hingga nomor antrean dipanggil untuk menghadap customer service. Nanti di sana akan diberi map untuk menyimpan semua dokumen yang dibutuhkan, sekaligus diberi antrean untuk wawancara dan rekam biometrik. Oh ya, di bagian ini, akan diperiksa kelengkapan berkas, kalau ada yang kurang biasanya diminta untuk dilengkapi dulu.
  6. Wawancara dan rekam biometrik. Pastikan jawab semua pertanyaan yang diajukan dengan percaya diri, jangan terpancing emosi seperti yang saya lakukan pertama kali.
  7. Bayar dan tunggu hingga paspor selesai. Pada struk bukti permohonan paspor nanti akan ada keterangan berapa lama paspor jadi dan berapa biaya yang harus dibayar.
  8. Selesai!

Semoga beruntung!

Cheers.

11 Comments

Dobelden March 26, 2018 Reply

Kalo paspor masih aktif apakah syarat perpanjangan sama? Juga skr alamat di paspor beda dengan e-ktp hiks

Nenden March 26, 2018 Reply

1. Paspor aktif tidak perlu diperpanjang atuh, emangnya mau jadi berapa meter?
2. Alamat KTP dan paspor berbeda tidak bermasalah. Alamat pasporku di Boyolali, KTPku Cianjur kok. hehehe

Farhan March 26, 2018 Reply

Sugan teh aya twist deui pas nu kadua kali di solo 😀

Nenden March 27, 2018 Reply

Sebenarnya ada Beh, yakni kartu ATM keblokir pas mau bayar. tapi rasanya itu tidak relevan, jadi ga usahlah diceritakan kepada khalayak. hahaha

MT March 27, 2018 Reply

Drama banget ya. Tapi aku baca sampai titik terakhir. Buat skrip iklan imigrasi menurutku keren ini. 😊

Hm…, jadi ingat kalau aku belum perpanjang masa berlaku PP. Dan lupa juga kutaruh di mana itu PP 🤔

Nenden March 27, 2018 Reply

Skrip iklan macam apa Kang MT? haahaha

Dwi Wahyu Gangsar Rizqi March 29, 2018 Reply

moco kalimat pembuka “Jangan terlalu membenci seseorang, barangkali orang itu yang akan menjadi jodohmu” tak kiro kiro we berjodoh karo sing jogo, ternyata sing jogo mbokdhe mbokdhe
😂😂

Nenden April 2, 2018 Reply

wkwkwk. yo berjodoh kan artinya banyak coy, termasuk ketemu lagi yo jenenge berjodoh

agi pranoto April 13, 2018 Reply

hahaha mba nenden, saya juga paling males urusan perpanjang paspor. soalnya kadang-kadang pertanyaannya ga masuk akal, nyiapin dokumennya ‘diada-adain’ terus overall ribet aja, males.

sebenernya kalo pegawainya informatif dan emang paham kaidah-kaidah pelayanan publik mba nenden pun pasti ngga akan bete. cuma sebagai orang yang pengalaman banget ribet di imigrasi (“ini fotokopinya formatnya salah” “anda ke luar negeri mau ngapain?”) yaaa lesson learned besok-besok kalo pegawai ada yang ngegas laporin aja ke atasannya. (padahal kalo diawal dia ngga meninggi mungkin kitanya juga biasa aja. namanya capek ngantri 3 jam, dikiranya orang ga ada keperluan lain apa selain urus paspor???)

tapi emang kok sempet kan buat pegawai freelance dkk (musisi terutama) mau bikin paspor disuruh bikin institusi penjamin. untung diprotes. negara ini emang aneh, warga negara sendiri dicurigai tapi warga asing masuk ke indonesia mudah banget.

Nenden April 13, 2018 Reply

iya bener. huhuhu. kamu pengertian sekali.
Andai petugas imigrasi seperti kamuu…. :3

Nila May 31, 2018 Reply

Untungnya aku baca ini ya. Ternyata di Pemalang juga gitu prosedurnya, jadi sudah persiapan. 😁

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.