Perjalanan Panjang ke Gunung Padang

“Ayo cepet lari, keretanya sudah ada!”

Adegan lari dari Stasiun Bogor ke Stasiun Paledang mengawali perjalanan liburan kami ke situs megalitikum Gunung Padang pada akhir pekan terakhir di November.

Berawal dari rencana jalan-jalan yang telah dicetuskan sekitar 1 bulan lamanya, akhirnya waktu yang dinanti datang juga. Saya, bersama tiga rekan kerja memutuskan untuk menengok peninggalan peradaban yang berada di kawasan Cianjur, tempat lahir saya.

Kami memilih untuk menjangkau tempat tersebut menggunakan KA Pangrango, jurusan Paledang-Lampegan yang berangkat pada pukul 13.25 WIB dengan harga tiket sebesar Rp35.000 per orang.

Kami terpaksa berlarian, karena ngaret dari jadwal semula yang seharusnya berangkat dari Stasiun Karet ke Stasiun Bogor pada pukul 10.45 WIB, supaya sempat beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan.image

Nyatanya, kami baru benar-benar jalan sekitar pukul 11.30 WIB dan sampai sekitar pukul 13.05 WIB di Stasiun Bogor, karena takut ketinggalan kereta, akhirnya adegan lari pun harus terjadi, karena jarak dari Stasiun Bogor ke Stasiun Lampegan membutuhkan waktu sekitar 10 menit dengan berjalan.

Tapi beruntung, toh akhirnya kami tetap bisa duduk manis di kereta api yang akan mengantarkan kami ke tujuan untuk melepas penat setelah menjalani rutinitas di Ibu Kota.

Berbagai pemandangan yang menyejukkan dapat didapati sepanjang jalur rel yang dilintasi, seperti aliran sungai dan hamparan sawah hijau dengan latar belakang perbukitan.

Sekitar 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai ke Stasiun Lampegan – Cibeber, tepat setelah melewati terowongan yang konon merupakan terowongan kereta api pertama yang dibangun pada zaman Belanda.

Dari Stasiun Lampegan, kami melanjutkan perjalanan menggunakan jasa ojek yang kebetulan saat itu banyak didapati di sana. Dengan tarif Rp35.000 per motor, akhirnya kami sampai di kawasan Gunung Padang setelah menempuh perjalanan sekitar 20 menit melewati hamparan kebun teh.

Kami pun diturunkan di daerah pemukiman yang paling dekat dengan jalur pendakian ke Gunung Padang (bukan di dekat pintu gerbang awal). Karena hujan, kami memutuskan untuk mencari penginapan, dan kami mendapatkan tempat beristirahat berupa kamar dengan tarif Rp150.000 untuk 4 orang hasil menawar dari awalnya Rp200.000 (di kampung bawah, tarifnya Rp25.000/orang).

Kami pun memutuskan untuk beristirahat dan tidak berkegiatan apapun di luar karena hujan, padahal di kampung bawah tengah digelar pementasan wayang kulit dalam rangka Festival Gunung Padang.

Sebisa mungkin, kami bergegas untuk tidur awal waktu, dengan harapan dapat bangun lebih pagi dan mengejar matahari terbit di puncak Gunung Padang.

Lampu kamar kemudian dimatikan, setelah kami semua menyelesaikan artikel untuk deadline esok harinya, supaya kegiatan pada Minggu tidak terganggu.

Bersambung

Share This:

5 Comments

aRai December 8, 2014 Reply

Asa aneh.. di cianjur aya wayang kulit… kuduna mah wayang golek nyak

Wayang kulitna pake basa sunda apa jawa? Kabayang nu melong arolohok mun make bahasa jawa mah… aheu aheu

Nenden December 9, 2014 Reply

ya ampuun, baru sadar kalo typo.
kelamaan di Solo nih, jadi ingetnya wayang kulit terus.
heheh, makasih koreksinya 🙂

Dinihari November 22, 2015 Reply

nden, jadinya ini turunnya di lampegan ya? bukan Cibeber? lier euy yang bener cibeber atau lampegan atau ini adalah dua lokasi yang sama? wkwkwk

Nenden November 23, 2015 Reply

Nama stasiunnya Lampegan, Lokasinya di Cibeber. Semacam Stasisun UI/Pocin yang lokasinya di Depok.

Bobby Edinbur January 2, 2016 Reply

festival gunung padang pas kemarin itu tanggal brp?

Leave a Reply