Per Ardua Ad Alta

Dua bulan empat hari telah saya lalui dengan status sebagai pengangguran saat mulai menulis ini. Saya telah memutuskan untuk resign dari pekerjaan saya sebagai wartawan di harian ekonomi terbesar di Indonesia. Keputusan tersebut tentunya bukan tanpa alasan, ada hal lain yang lebih besar yang ingin saya capai dari sekadar menjalani profesi yang sudah menjadi impian saya sejak kecil.

Keputusan untuk mengundurkan diri tersebut sudah saya rancang sejak Maret 2016, dan semakin mantap sejak saya menerima pengumuman bahwa saya lulus seleksi Beasiswa Pendidikan Indonesia dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan pada 10 Juni 2016.

Melanjutkan pendidikan merupakan alasan utama saya menanggalkan profesi yang sudah saya jalani selama empat tahun tersebut. Keinginan untuk meraih gelar pendidikan lebih tinggi sebenarnya sudah saya cita-citakan sejak masih di bangku kuliah. Saya ingin menjadi doktor sebelum usia 30 tahun! Mungkin terdengar muluk, tapi itu memang pernah saya impikan dan masih menjadi hal yang tetap saya harapkan.

Keinginan untuk melanjutkan studi sudah terbersit sejak lulus kuliah S1, hanya saja masalah dana menjadi kendala utama. Alhasil, saya memilih untuk bekerja sekaligus menyalurkan hasrat terlebih dulu, demi mengumpulkan pundi-pundi berlian, hitung-hitung cari modal buat nikah kuliah.68a4d277-6602-447a-9a2c-7184b30793a8

Kemudian pada pertengahan 2014 keinginan tersebut muncul lagi, didorong oleh informasi terkait beasiswa LPDP yang saat itu mulai booming. Dengan keteguhan hati, saya pun mulai mengisi aplikasi online, mengumpulkan berkas-berkas, serta mengikuti tes TOEFL.

Kala itu, saya bermaksud untuk melanjutkan kuliah di ITB, niatnya biar tetap bisa part time menjalankan profesi saya sebagai wartawan. Hampir sebulan, saya mempersiapkan ini-itu, tapi akhirnya harus kandas jua karena saya tak sanggup menyelesaikan tiga esai yang menjadi syarat wajib mendaftar beasiswa tersebut.

Kepalang mood hancur, karena tidak bisa mengejar tenggat pendaftaran gelombang terdekat, sedikit demi sedikit mimpi untuk meraih pendidikan tinggi pun perlahan saya simpan dengan rapi kembali. Saya pun kembali ke rutinitas, menjalankan profesi sebagai jurnalis di tengah hiruk-pikuk Jakarta, ditambah dengan intensitas jalan-jalan (demi menghindari stres) yang semakin meningkat, membuat cita-cita kuliah pun menguap.

Namun, bagai petir di siang bolong keinginan saya untuk mengejar cita-cita kembali bergelora setelah mendapat kabar teman segeng saya di kantor ternyata lolos LPDP. Informasi tersebut saya dapat di tengah-tengah roadshow 10 hari ke 5 provinsi pada Oktober 2015.

Karena saya memiliki jiwa kompetitif yang cukup tinggi dan gak mau kalah, info tersebut akhirnya menjadi trigger positif yang membuat saya berpikir “dia aja bisa, masa gue enggak”, dan sejak saya itu tekad saya untuk meraih beasiswa demi masa depan yang lebih baik kembali membulat.

Sepulang dari tujuan terakhir roadshow, saya pun langsung membuka kembali portal pendaftaran online LPDP, mencatat kembali persyaratan apa saja yang harus dilengkapi, sekaligus mulai melirik esai yang harus dikerjakan. Kali ini, target saya enggak cuma ITB, tapi kuliah ke luar negeri. Aji mumpung sih, mumpung ada yang bayarin (kalau lulus).

Saya pun langsung mencari informasi terkait les persiapan IELTS test, menghubungi kampus, dan say hi kepada dosen dan dekan yang jadi target sebagai pemberi surat rekomendasi. Dan yang tidak kalah penting adalah mencari kampus yang bakal jadi tujuan belajar saya.

Sejak November-Desember saya pun mulai ikut les privat persiapan IELTS, karena berencana ikut tes pada awal tahun. Saya cukup bersemangat menggali ilmu baru untuk menaklukkan IELTS, lantaran sadar bahwa kemampuan Bahasa Inggris saya pas-pasan. Tetapi, semangat dan rencana yang telah disusun itu akhirnya hanya rencana, pasalnya saya mendapat tugas ‘dadakan’ ditempatkan di Makassar selama 6 bulan.

Saya sempat shock ketika mendapat kabar tersebut di awal Desember. Tak ingin kehilangan waktu, kemudian saya mengatur jadwal untuk pergi ke Solo, mengurus semua urusan yang berhubungan dengan kampus seperti translasi ijazah dan transkrip, serta minta reference letter untuk pendaftaran kampus, dan surat rekomendasi untuk LPDP. Semuanya saya dapatkan dari dosen-dosen S1 Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Jujur, saya sempat bingung dan cukup down saat itu, karena saya harus menghetikan les privat (padahal baru beberapa pertemuan dan harus bayar penuh), dan kemungkinan besar menunda pendaftaran beasiswa LPDP, hingga menunda kuliah hingga tahun depan.

Namun, setelah menjalankan tugas di Makassar, saya malah merasa bahwa Tuhan sudah memudahkan langkah saya. Selama bertugas di sana, saya malah bisa mengikuti kelas persiapan IELTS dengan tenang (karena biayanya lebih murah), juga belajar lebih khusyuk (karena belum punya banyak teman yang sering jadi pengganggu), serta lokasi tes substansi yang cukup menguntungkan karena peserta beasiswa LPDP di Makassar tidak setumpah di Jawa.

Bisa dibilang, saya menjadi seorang sprinter saat mengikuti tahapan beasiswa LPDP ini. Hanya dalam waktu sekitar dua bulan, saya bisa menyelesaikan semua berkas dan prosedur yang dipersyaratkan, dan sekitar enam bulan hingga saya memulai perkuliah di program magister. Hal itu sangat singkat jika dibandingkan dengan pengalaman teman-teman saya yang lain yang membutuhkan waktu hingga satu tahun.

Selama jadi sprinter itu, saya enggak bisa menjalani kehidupan dengan tenang. Hampir tiap hari terus kepikiran tentang pendaftaran beasiswa, harap-harap cemas menunggu surat penerimaan dari kampus, belajar tips dan trik Bahasa Inggris tiap malam, mengurangi hobi nongkrong dan foya-foya, bahkan harus menahan diri untuk tidak jalan-jalan, padahal Sulawesi Selatan itu surga banget buat para traveler!

Tetapi, seperti judul tulisan saya ini: Per Ardua Ad Alta, through efforts to high things (yang juga merupakan motto kampus baru saya), untuk mencapai hal yang tinggi termasuk mewujudkan mimpi, memang diperlukan usaha keras. Dan usaha yang saya lakukan selama ini belum apa-apa jika dibandingkan dengan usaha teman-teman lain yang sekarang sudah sukses dalam segala hal.

Setelah beberapa bulan H2C, akhirnya masa depan saya pun tampak terbuka lebar, dan kesibukan-kesibukan lainnya pun mulai bermunculan sebagai rangkaian konsekuensi dari keputusan-keputusan yang telah saya ambil sebelumnya. Oh ya, tanggung jawab saya pun semakin bertambah setelah ini, saya harus ‘mengembalikan’ dana beasiswa yang saya dapat dari uang pajak masyarakat tersebut dengan memberikan kontribusi terhadap kemajuan Indonesia.

bpi

Semoga, dengan terwujudnya salah satu resolusi tahun ini bisa menjadi pemicu untuk menggapai mimpi yang lebih besar lagi, dan mengantarkan saya untuk menjadi manusia yang sukses, yakni yang bermanfaat banyak bagi masyarakat luas. Doakan juga supaya studi saya lancar, karena lulus beasiswa ini baru langkah awal untuk menghadapi tantangan yang lebih besar di masa depan.

See you on top!

Share This:

Published by

3 Replies to “Per Ardua Ad Alta

Leave a Reply