PDKT dengan Pete-Pete dan Kota Angin Mamiri

Sudah hampir sepekan saya tinggal di Makassar, mengawali kehidupan baru di tahun yang baru. Selama itu juga, saya belum merasakan ada perkembangan yang berarti dalam urusan penjelajahan kota.

Sehari-hari hanya dihabiskan melalui rute kos-kosan di Jl Baji Ampe ke kantor yang berlokasi di Ruko Mal GTC Tanjung Bunga, naik pete-pete 05 disambung pete-pete khusus ke Tanjung dari Arif Rate. Tarifnya flat, Rp5.000 jauh-dekat, tidak seperti angkot di Jakarta yang memberlakukan tarif progresif.

Seluas mata memandang, mayoritas jalanan di Makassar dipenuhi oleh pete-pete atau angkutan umum berwarna biru muda, disusul oleh becak bermotor (bentor) dan becak bertenaga manusia. Beberapa kali juga lihat Bus Rapid Transit (BRT) Trans Mamminasata alias Transjakartanya Makassar melintas.

Karena jalur pete-pete sangat banyak, membuat saya agak kesulitan untuk menghapal dan mengetahui pete-pete mana yang digunakan untuk mencapai lokasi tertentu. Apalagi, tidak ada artikel atau aplikasi yang bisa memudahkan para pendatang baru mengambil keputusan dalam hal pemilihan rute pete-pete.

Pete-pete 05 / Tribunnews

Sebenarnya, saya sangat tertarik dengan Trans Mamminasata yang mulai beroperasi sejak pertengahan 2015 itu. Namun, ketertarikan saya langsung sirna saat rekan-rekan kerja bilang jam datangnya bus tidak bisa diprediksi, karena armada yang beroperasi masih berjumlah hitungan jari.

Keragu-raguan bertambah saat saya melongok langsung kondisi halte yang ada di dekat kampus Universitas Negeri Makassar. Desain haltenya seperti halte Transjakarta generasi pertama, tetapi tidak terlihat ada petugasnya. Saya menduga jalur BRT yang melintasi halte tersebut memang belum beroperasi. *harus dicek lebih lanjut*

Trans Mamminasata / Jawa Pos

***
Kemudian, pada akhir pekan pertama hidup di Makassar saya putuskan untuk keluar dari jalur. Saya coba datangi dua kampus yang paling tersohor, Universitas Negeri Makassar dan Universitas Hasanuddin. Kedua kampus tersebut lokasinya berjauhan, UNM berada di tengah kota Makassar, sedangkan Unhas agak di pinggiran mendekati Kabupaten Maros.

Karena belum tahu rute pete-pete ke UNM, akhirnya dari Jl Cenderawasih saya memutuskan untuk mencoba naik Taksi Bosowa, itung-itung mencoba taksi a la Makassar. Tarif buka pintunya Rp6.000, dan argonya bergerak cukup cepat. Butuh waktu sekitar 15 menit untuk sampai ke lokasi dengan tarif sekitar Rp25.000.

Saat pertama melangkah ke dalam kampus, kesan pertama yang dirasakan adalah gersang dan panas, tetapi hal itu sedikit teralihkan dengan adanya gedung utama yang menjulang dengan desain yang unik dan diberi nama Gedung Phinisi.

Gedung Phinisi UNM / skyscrapercity.com

Karena panas, saya tak banyak menghabiskan waktu di sana, sehingga memutuskan untuk menuju ke Unhas. Setelah bertanya pada Hilda, alumnus Universitas Muhammadiyah Makassar, saya menggunakan pete-pete 07 yang bisa mengantarkan langsung ke Unhas. Dan benar seperti dugaan saya, lokasinya sangat jauuuuuh, dibutuhkan waktu lebih dari 30 menit untuk mencapainya.

Untungnya, rasa capek karena lokasi yang jauh itu terobati dengan rimbunya pepohonan di sekitar kampus. Kampus Unhas sedikit banyak mengingatkan saya pada Kampus Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS) Solo. Karena wilayahnya luas, banyak pete-pete yang masuk ke area kampus untuk mengantarkan mahasiswa.

Salah satu ruas jalan di Unhas
Salah satu ruas jalan di Unhas

Sebenarnya, ada misi terselubung selain sowan ke Unhas, yakni saya terobsesi untuk mengunjungi perpustakaan Kata Kerja yang dikelola penulis yang tengah ngehits karena karya-karyanya: M. Aan Mansyur.

Kata Kerja memang berlokasi tak jauh dari kampus Unhas, di BTN Wessabe Blok C no.64. Setelah keluar lewat Pintu II, saya langsung menyeberang jalan menuju jalan bergapura yang bertuliskan Kompleks Wessabe.

Supaya bisa mencapai perpustakaan tersebut, harus berjalan kaki sekitar 5-10 menit. Sayangnya, ketika saya sampai, tempatnya tampak sunyi dan tidak berpenghuni meskipun ada banyak sepatu dan dua motor terparkir di depannya. Saya coba mengetuk pintu yang tertutup rapat, tetapi tidak ada jawaban. Dengan hati gundah gulana, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Kebetulan saat itu mendung sudah menggelayut seolah meberikan sinyal supaya saya lekas pergi.

Pintu utama Kata Kerja
Pintu utama Kata Kerja

Untuk kembali ke Jl Baji Ampe, saya cukup naik pete-pete 05 yang biasa saya tumpangi saat akan pergi ke kantor. Pete-pete itu memang bertujuan akhir ke Unhas dan kembali ke daerah Jl Cenderawasih dekat kosan.

Sepanjang perjalanan pulang, saya merenung. Tampaknya saya butuh sepeda sebagai pengganti sepeda motor yang gagal dikirimkan ke Makassar, supaya saya bisa bebas menjelajah. Memang daya jelajah sepeda terbatas, setidaknya bisa membantu saya bepergian ke lokasi dengan radius 6 km-an.

Karena pikiran itu, akhirnya saya memutuskan untuk turun di Stadion Andi Mattalatta/Mattoangin, lokasi yang tiap hari saya lewati kalau akan pergi ke kantor. Pasalnya, saya melihat banyak yang berjualan sepeda bekas di sana. Dengan harapan bisa membawa pulang sepeda seharga Rp300.000-an, saya pun mulai mendatangi para penjual sepeda.

Penjual sepeda bekas / Kontan

Setelah bertanya ke lima penjual sepeda, saya hanya tersenyum getir. Karena sepeda-sepeda di sana dijual dengan harga paling murah Rp400.000-an bahkan hingga jutaan untuk sepeda-sepeda merek ternama meskipun kondisinya sudah tidak begitu baik. Harga tersebut di luar anggaran, mana pula uang di rekening sudah tipis.

Akhirnya, saya memutuskan pulang tanpa membawa hasil sambil  berjalan kaki dengan menempuh jarak sekitar 1,3 km. Cuaca saat itu mendung dan gerimis tipis. Hujan deras tumpah setelah sampai ke kos-kosan. Sepertinya, penjelajahan Makassar harus dilanjutkan esok hari.

Baji Ampe, 9 Januari 2016

 

Target selanjutnya: mengunjungi mal-mal di Makassar, sekaligus mencari perpustakaan/taman baca umum yang nyaman untuk disinggahi.

Share This:

Published by

Leave a Reply