Menjalani Hidup Sebagai Orang Rata-rata

Saya mengawali tulisan ini setelah menutup tab-tab peramban yang berisi persyaratan pendaftaran beasiswa S3 Fulbright, halaman produk sampo kuda di tokopedia, serta beberapa akun media sosial dan halaman berita.

Beberapa hari belakangan, pikiran saya memang sedikit penuh, pun hati sedikit sesak. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu dan membuat hidup saya menjadi tidak biasa.

Setelah bertahun-tahun mendeklarasikan diri sebagai orang yang cuek, akhirnya saya harus mengakui bahwa saya cukup sensitif dan beberapa kali mengambil hati perkataan orang lain. Meskipun jika dibandingkan secara keseluruhan, masih tetap didominasi oleh sikap masa bodoh saya.

Sampai pada akhirnya, beberapa pekan lalu, mata saya terbuka ketika seseorang bilang kalau hidup saya hanya rata-rata. Average, katanya. Saya dibilang tidak pernah berani mengambil risiko. Termasuk jatuh cinta, ujarnya.

Sejak mendengar itu, saya mencoba membuka semua memori saya. Apakah benar hidup saya hanya rata-rata? Apakah benar saya tidak pernah mengambil risiko? Ternyata benar. Dan hal itu memang sudah saya pilih dengan sadar.

Lantas, kenapa saya harus terhenyak ketika dilabeli sebagai orang rata-rata, yang biasa-biasa saja tanpa prestasi yang wow? Padahal dulu saya cukup bangga dengan melabeli diri saya sebagai orang yang enggak ngoyo. Masalahnya, yang bilang begitu bukan orang sekadar lewat, tapi orang yang jalan-jalan mulu di pikiranku dalam lima pekan berturut-turut. Ha ha 🙁

Terlepas dari siapa yang ngomong, sepertinya saat itu kondisi kesehatanku juga sedang tidak terlalu baik. Sejak beberapa bulan terakhir, tuntutan harus kerja 18 jam sehari, hampir tidak pernah piknik, tidak sempat menulis untuk diri sendiri dan jarang berinteraksi dengan orang baru membuat saya agak sedikit jeglek.

Atau bisa dibilang, saya terlalu ngoyo belakangan ini, berbeda 180 derajat dengan kehidupan saya yang biasanya woles berasa di pantai. Tak salah kalau gaya hidup ini yang memicu saya menjadi orang yang berbeda, dan belakangan bikin saya kehilangan arah dan makna hidup. #halah

Iya, saya malah merasa mendapatkan another quarter life crisis. Saya jadi enggak tahu mau ngapain lagi di dunia ini, merasa sudah enggak punya keinginan apa-apa lagi. Rasanya hidup itu hampa, mungkin benar apa kata orang: bagai sayur kurang garam jika hidup tanpa cinta.

Syukurlah, drama hidup rata-rata ini kemudian berhasil mengarahkan saya kembali ke jalan yang ‘benar’. Setelah menjalani hari-hari yang kelabu, yang kemudian memaksa saya untuk jalan-jalan tipis-tipis, akhirnya saya menemukan kembali sedikit hidayah. Saya berhasil mundur ke belakang, dan melihat apa sebenarnya yang terjadi dalam hidup saya akhir-akhir ini.

Lantas, saya pun mulai melihat kembali apa-apa yang telah saya lalui, dan hal tersebut berhasil membangkitkan bagian diri saya yang banyak maunya. Iya, saya memang orang yang banyak maunya tapi enggak pernah ngoyo untuk mewujudkan semua. 

Sekarang, saya sudah kembali. Bucket-list sudah terisi penuh: lanjut kuliah S3, travelling naik transsiberia, nulis buku, main ukulele sampai ngalahin genjrengan pengamen, kursus bahasa Spanyol, belajar banyak tentang feminisme dan jurnalisme, dan hal lainnya sudah berderet untuk dilakukan.

Jika menilik lagi ke belakang, hidup woles tanpa target yang muluk-muluk dan tak menghamba pada kesempurnaan memberi saya beberapa keuntungan – dan membuat saya mengorbankan beberapa hal lainnya. Kalau boleh didaftar, mungkin ini adalah kelebihan dan kekurangan dari menjalani hidup yang rata-rata.

Plus:

  • Cenderung bebas dari depresi (tidak merasa tertekan dengan keadaan yang tidak ideal)
  • Lebih menikmati hidup (YOLO and seize the day, cenderung memprioritaskan apa-apa yang membuatnya bahagia pada hari itu)

Minus:

  • Jarang punya prestasi/kisah yang inspiratif dan bisa dibanggakan
  • Susah untuk di-notice sama senpay hahaha

Meskipun selama ini saya menjalani hidup sebagai orang rata-rata, nyatanya saya bahagia. Bahagia karena bisa punya kehidupan dan banyak waktu untuk mengerjakan banyak hal lain untuk masyarakat, bukan sekadar terfokus untuk mengejar apa yang saya inginkan. Dan itu merupakan sebuah prestasi bagai saya.

Saya curhat seperti ini bukan berarti nyinyirin orang yang hidupnya penuh dengan target, serta selalu ingin menjadi yang terbaik dan sempurna. Malahan saya sangat kagum dengan mereka, dan kadang-kadang juga ingin punya hidup seperti itu. Tapi ya itu cuma kadang-kadang, kalau melihat tekanannya juga mundur teratur.

Iya, iya. Sekali lagi saya akui memang belum pernah mengambil risiko yang besar, sehingga saya belum pernah mengalami kegagalan yang bikin hidup berubah atau sukses sesukses-suksesnya orang hingga bisa bikin buku dari pengalaman hidup tersebut.

Tapi jangan sedih, saya punya tujuan, semua hal yang saya pilih dengan sadar sudah ditakar baik-buruknya, sudah diukur urgensinya untuk hidup saya dan masyarakat lainnya. Sama seperti halnya kenapa saya enggan menikah dan bahkan malas untuk jatuh cinta. (Eh tapi kayanya menarik juga sih ini jatuh cinta, mari kita coba~)

Oleh karena itu kawan-kawan, marilah kita bersama-sama menjalani kehidupan dengan keyakinan masing-masing. Tapi perlu diingat, semua hal yang berlebihan itu tidak baik. Jadi jangan terlalu woles, tapi juga jangan terlalu ngoyo. Yang sedang-sedang saja, secukupnya. Toh tak ada salahnya menjalani hidup yang rata-rata.

Yang paling penting, hidup sehat, bahagia dan bermanfaatlah untuk banyak orang. Mari memulai hidup baru!

Cianjur, 15 September 2019
malam minggu menjelang tengah malam
di tengah pertandingan Watford vs Manchester United

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.