Menghirup Sejuknya Udara di Gunung Padang

Awalnya, kami berencana untuk mencapai puncak Gunung Padang saat matahari baru mulai menyingsing, atau sekitar pukul 05.00 seusai salat subuh.

Tapi, ketika saya terbangun pada pukul 04.00, seluruh ruangan sangat gelap, tanpa setitik cahaya. Hal yang sama saya lihat di luar rumah. Ternyata waktu itu PLN iseng mematikan listrik.

Akhirnya, kami memutuskan untuk menunda perjalanan, pasalnya hujan masih deras mengguyur, dan kami tidak memiliki peralatan penerangan untuk menuju ke atas. Kami pun melanjutkan tidur.

Hingga akhirnya sekitar pukul 05.30 semuanya sudah terbangun dan melaksanakan ibada salat subuh, serta bersiap-siap untuk mendaki ratusan anak tangga.

Pada pukul 06.00, kami sudah sampai ke loket tiket Gunung Padang yang ditempuh hanya dalam waktu 3 menit berjalan kaki. Ternyata, loket masih tutup, dan baru buka 08.00.

imageKarena tak mau menyia-nyiakan waktu, kami tetap nekat naik sambil bicara ke salah satu warga kalau kami akan bayar setelah turun (sampai nyatanya kami tidak membayar sama sekali hehehe).

Sebelum mulai pendakian, pengunjung disuguhi dua opsi rute yang bisa dipilih. Apakah akan memilih jalur yang cepat dengan sekitar >150 anak tangga, tapi terjal, atau pilih jalur yang landai tapi lebih jauh dan lama dengan meniti >350 anak tangga.

Kami pun memilih jalur landai, santai saja pikir kami. Toh sudah tidak ada yang dikejar. Mentari pun sudah naik sambil malu-malu tertutup awan dan gerimis.

Setelah berjalan sekitar 20-30 menit melewati anak tangga yang masih kelihatan baru dan diplester (dulu waktu pertama kali saya kemari saat kelas 1 SMA, tangganya hanya berupa batuan dan sangat curam), akhirnya kami sampai ke bukit yang penuh bebatuan megalitikum.

Karena kami merupakan ‘pengunjung’ gelap, maka tidak ada pemandu yang membantu kami menjelaskan perihal peninggalan purba tersebut. Akhirnya kami hanya menerka-nerka sambil menikmati kesejukan udara pagi yang sangat sulit kami dapatkan di Jakarta.

Saat ini, di puncak bukit sana, sudah ada beberapa fasilitas yang disediakan bagi pengunjung. Mulai dari warung dan gazebo tingkat dua yang bisa digunakan untuk berkemah (?), atau berkumpul bersama rombongan. Di sekeliling area juga tampak rapi dengan dijaga pagar yang berbaris.

Setelah puas berkeliling, mengamati batuan, berteduh dari gerimis dan tentunya berselfie ria, kami memutuskan untuk turun gunung sekitar pukul 08.00, demi mengejar waktu agar sampai ke Ibu Kota tidak terlalu larut.

Setelah sampai di pemukiman, kami sempat sarapan di salah satu warung makan. Harga makanannya relatif mahal, bahkan lebih mahal dari warteg Gang Buaya tempat saya ngekos.

Untuk satu porsi nasi sayur dan telor ceplok, saya harus merogoh kocek Rp13.000, padahal di warung Leha cukup Rp9.000. Tapi tak apa, toh kami maklum jarak dari kota (untuk membeli kebutuhan pangan) sangat jauh, itung-itung mengganti ongkos transport daripada kami harus makan di Cianjur kota.

Setelah kembali sampai di homestay, kami pun bergegas dan bersiap-siap untuk pulang. Secara bergiliran kami mandi dan packing.

Sekitar pukul 10.00 kami sudah siap untuk pulang. Satu-satunya transportasi yang bisa kami gunakan adalah ojek, yang kebetulan salah satu ojek dari 4 ojek yang kami tumpangi adalah pemilik homestay.

Kami dipatok masing-masing Rp50.000 untuk ongkos mencapai tempat di mana ada angkot berada. Yaitu daerah Bedahan, Warung Kondang, Cianjur. Berasa mahal? Jangan dulu menyimpulkan, setelah melalui perjalanan sekitar 1 jam, pasti Anda merasa nilai tersebut malah terlalu murah.

Iya, untuk mencapai angkutan umum terdekat dari Gunung Padang, kita harus melalui jalan yang panjang, sekitar 4 kali jalang Gunung Padang-Lampegan. Enaknya sih, kalau ke Gunung Padang memang naik kereta PP, tapi kebetulan waktu itu kami tidak kebagian tiket.

Dari Bedahan, kami naik angkot warna abu-abu pink di mana saya lupa nomornya. Kami menuju Rancagoong dengan waktu tempuh sekitar 45 menit dan ongkos Rp7.000 per orang.

Kami sampai Rancagoong sekitar pukul 11.45, lalu melanjutkan perjalanan ke Kampung Rambutan menggunakan Bus Marita dengan ongkos Rp30.000 per orang karena lewat jalur Jonggol (kalau lewat Puncak Rp25.000).

Ya, setelah bertemu lagi dengan macet yang menguras waktu kami di kawasan Cilengsi hingga Jakarta, akhirnya kami sampai lagi di Ibu Kota pada Magrib, dan tak terasa akhir pekan yang singkat dan menyenangkan kami pun berakhir.

Sampai jumpa lagi di akhir pekan yang menyenangkan lainnya!

Share This:

Published by

Leave a Reply