Mengapa Perempuan Enggan Berkarir di Industri STEM?

Kesadaran masyarakat akan pentingnya perempuan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) terus meningkat. Bahkan, minat para pelajar perempuan untuk meneruskan pendidikan pada bidang tersebut tergolong tinggi.

Hanya saja, antusiasme tersebut ternyata tidak berlanjut pada jenjang professional, dan hal ini mengindikasikan adanya masalah yang dihadapi dan perlu diselesaikan.

Dalam laporan A Complex Formula: Girls and Women in Science, Technology, Engineering, and Mathematics in Asia yang dirilis UNESCO dan Korean women’s Development Institute pada 2015 menyebutkan bahwa jumlah mahasiswa perempuan di bidang STEM bisa dibilang cukup banyak dan mendominasi.

Beberapa di antaranya adalah jumlah mahasiswa perempuan di bidang farmasi mencapai 88 persen, biologi 80,7 persen, kedokteran 73 persen, kimia 66,8 persen, matematika 57,7 persen, dan fisika 38,9 persen. Sayangnya, tingginya minat pada bidang STEM di tataran pendidikan tersebut tidak berlanjut ke jenjang karir dan pekerjaan.

Dalam studi yang dirilis Microsoft Eropa, ditemukan bahwa ketertarikan perempuan atas STEM anjlok pada usia 15 tahun disebabkan oleh empat hal: stereotip jenis kelamin, sedikitnya panutan perempuan, adanya tekanan dari teman bermain, serta kurangnya dorongan orangtua maupun guru.

Sementara itu, dalam penelitian UNESCO di Indonesia tercatat jumlah peneliti perempuan di bidang STEM hanya 31 persen sementara laki-laki mencapai 69 persen. Lebih lanjut, hasil studi Microsoft Asia pada 2017 menemukan bahwa hanya 20 persen perempuan di dunia yang memilih bekerja di industri STEM. Padahal, dengan meningkatnya peran perempuan dalam industri STEM bisa ikut menekan tingginya kesenjangan gender di dunia kerja yang masih terjadi di Indonesia.

Tantangan untuk menyeimbangkan waktu dan peran antara dunia domestik dan profesional menjadi salah satu isu utama yang melatari adanya kelangkaan perempuan dalam industri professional STEM. Selain itu, masalah kurangnya dukungan dari perusahaan bagi perempuan untuk mengembangkan karir juga menjadi faktor lainnya.

Untuk itu, perlu adanya andil dari berbagai pemangku kepentingan untuk menghilangkan hambatan-hambatan tersebut. Masyarakat, akademisi hingga penentu kebijakan di pemerintahan dan bisnis perlu duduk bersama untuk merumuskan sebuah langkah awal yang bisa diambil untuk mulai menyelesaikan masalah ini.

Pemerintah bisa mengambil peran dengan memberikan ruang dan regulasi yang baik kepada dunia bisnis dalam mendukung keterlibatan perempuan di dunia industri STEM. Sementara itu, pelaku bisnis juga harus memberikan kesempatan yang sama bagi perempuan untuk mengisi posisi strategis dalam perusahaan, serta memberikan peraturan dan kebijakan kerja yang properempuan.

2 Comments

ruangpegawai July 31, 2018 Reply

Menurut kami, faktor keluarga sangat berperan di sini.

Nenden July 31, 2018 Reply

Keluarga juga menjadi salah satu penyebabnya, hal ini muncul karena stereotip terhadap terhadap profesi tertentu. Selain itu, perempuan dianggap memiliki tanggung jawab lebih untuk mengurus keluarga ketimbang suami, sehingga pada satu titik mereka harus memilih untuk melanjutkan karir atau mengurus keluarga.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.