Membandingkan KTP ala Indonesia dan Inggris

Dalam beberapa tahun terakhir, memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) merupakan salah satu hal mewah di Indonesia. Banyak orang rela antre dari sebelum matahari terbit hingga Sang Surya mulai tergelincir ke barat hanya demi mendapatkan selembar kartu berukuran 5,4 cm x 8,6 cm.

Begitu pula saya, perlu menunggu hampir 1,5 tahun supaya bisa memiliki KTP lagi, setelah hilang pada pertengahan 2016 di Makassar. Namun saya beruntung bisa melewati hari-hari tanpa KTP Indonesia karena hijrah ke Inggris dan mendapatkan KTP ala Inggris (baca: Biometric Residence Permit/BRP).

Kemudian, kurang dari sepekan saat artikel ini ditulis, saya sudah kembali ke Indonesia dan baru saja mendapatkan KTP elektronik baru. Karena merasa bangga dan bahagia bisa mendapatkan barang mewah, tanpa henti-hentinya saya memamerkan dan memandangi KTP yang masih bagus itu. Saya pun jadi terpikir untuk membandingkan KTP-el Indonesia dan KTP ala Inggris yang menurut saya cukup menarik untuk dilihat.

Untuk itu, di bawah ini saya tulis perbandingan KTP ala Indonesia dan Inggris (baca: BRP Visa T4) dalam tiga aspek, yakni fisik, konten, dan prosedur rekam data dan pengambilan. 

Fisik

Secara fisik, terlihat perbedaan yang sangat menonjol antara KTP Indonesia dan Inggris, mulai dari desain dan fitur-fitur yang termuat dalan kartu tersebut. Satu-satunya hal yang sama hanya dalam ukuran, yakni ukuran standard business card: 3.5 inchi x 2 inchi.

Secara desain, KTP Indonesia didominasi oleh warna biru. Pada latar belakang bagian muka kartu tertera tulisan Kartu Tanda Penduduk dan gambar peta Indonesia dalam globe. Bagian depan memuat kolom data diri di sebelah kanan, dan foto diri berwarna di bagian kanan.

Pada bagian belakang kartu, terdapat peta Indonesai dengan warna hijau, dan di bagian kepala bertuliskan Kartu Tanda Penduduk Republik Indonesia dengan gambar Garuda Pancasila pada sebelah kirinya, sedangkan pada bagian bawah terdapat strip hologram yang membentang.

Sementara itu, untuk KTP Inggris, kartu didominasi oleh warna biru dan merah muda. Secara tata letak, foto pemilik kartu dicetak hitam putih di bagian kiri bawah dan diamankan dengan hologram, data diri ditempatkan di bagian tengah, dan terdapat logo Kerajaan Inggris di sebelah kanan.

Terdapat chip yang mengandung data biometrik pada bagian belakang kartu dilengkapi dengan beberapa data lain, dan kode-kode data registrasi di bagian bawah (cek foto untuk lebih lengkap).

Selain itu, perbedaan yang tidak bisa dilihat dengan mata adalah KTP Inggris memiliki tekstur pada kartunya yang bisa dirasakan jika kita menyentuh permukaannya, dan banyak ‘kode’ tersembunyi dalam kartunya sebagai pengaman supaya tidak rawan dipalsukan.

Konten

Seperti yang sudah kita ketahui, banyak sekali data pribadi yang termuat dalam KTP Indonesia, mulai dari nama lengkap, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, alamat, agama, status perkawinan, pekerjaan, hingga kewarganegaraan (Ini sama untuk KTP bagi warga negara asing juga).

Sementara itu, pada KTP Inggris, data diri yang termaktub hanya nama, tempat tanggal lahir, jenis kelamin, dan kewarganegaraan. Sedangkan data lainnya yang tercantum pada kartu adalah masa berlaku kartu, tipe KTP, dan catatan-catatan lainnya seperti izin bekerja dan sebagainya.

Banyaknya data yang dicantumkan dalam KTP Indonesia tidak efisien, karena ada beberapa hal yang sebenarnya tidak terlalu signifikan untuk mengidentifikasi penduduk. Misalnya yang sudah banyak dipertentangkan, yakni kolom agama dan perkawinan.

Sementara itu, pada KTP Inggris, hanya mencantumkan data-data inti, sedangkan data lainnya bisa dibaca melalu chip elektronik yang telah tertanam, sehingga tidak mudah disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.

 

Prosedur perekaman data dan pengambilan KTP

Pada waktu awal-awal sosialisasi e-KTP Indonesia, pemerintah membuka pusat-pusat perekaman data biometric di berbagai tempat seperti kampus dan tempat keramaian lainnya. Saya termasuk orang yang melakukan rekam data di kampus di Solo, meskipun saya tercatat sebagai penduduk Cianjur, Jawa Barat. Saya merasa inisiatif tersebut wajib diacungkan jempol karena pemerintah telah mempermudah masyarakat untuk urusan-urusan administrasi saat ini.

Setelah itu, setau saya perekaman data hanya bisa dilakukan di Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil kabupaten/kota, tentunya hal ini sangat tidak efisien dan efektif khususnya bagi masyarakat yang tinggalnya jauh dari pusat pemerintahan kota/kabupaten. Namun, konon sekarang perekaman data bisa dilakukan di kantor-kantor kecamatan/desa, dan saya rasa hal ini cukup melegakan.

Sementara itu, prosedur pengambilan KTP berdasarkan pengalaman saya di Cianjur, si pemilik KTP harus melakukan antre dengan memberikan berkas bukti perekaman data KTP-el, dan antreannya mengular sampai berjam-jam. Saya datang dan mengambil nomor antrean pada pukul 8 pagi kurang, dan baru bisa mendapatkan KTP sekitar pukul 11.30. Alhamdulillah waktu saya habis gara-gara menunggu dipanggil.

Adapun, perekaman data untuk KTP Inggris dilakukan di agen imigrasi berdasarkan jadwal yang telah kita pilih dan sesuaikan dengan ketersediaan waktu kita. Sementara itu, KTP bisa diambil di kantor pos atau kampus yang bisa kita pilih dan disesuaikan dengan tempat tinggal. Kartu bisa diambil kapan saja sesuai dengan waktu yang ditetapkan dari kedutaan. Hal ini lebih efisien karena kita tidak perlu antre panjang dan tidak menghabiskan waktu lama.

 

Demikianlah ulasan yang saya tulis dalam keadaan iseng, tiada maksud apapun selain untuk berbagi, dan siapa tau ada ide-ide yang bisa diambil demi perbaikan masa depan bangsa. He he.

Share This:

Published by

Leave a Reply