Memanfaatkan Teknologi untuk Berwisata

Tren berwisata, setiap tahunnya diprediksi akan terus tumbuh, dilihat dari antusiasme masyarakat yang telah menjadikan wisata sebagai kebutuhan.

Kuartal terakhir 2014, The Nielsen Global merilis data hasil survei terkait penggunaan dana cadangan bagi masyarakat Indonesia. Pada kuartal III/2014, sebanyak 41% responden mengatakan mereka siap menggunakan dana mereka untuk berlibur atau berwisata, jumlah tersebut tumbuh 3% dibandingkan dengan kuartal sebelumnya.

Hal itu mengindikasikan masyarakat Indonesia telah memprioritaskan berwisata sebagai kebutuhan utama di atas berinvestasi pada saham dan reksadana atau membeli produk teknologi terbaru.

Selain karena meningkatnya pendapatan yang mendorong peningkatan gaya hidup, tren berwisata juga didukung dengan teknologi yang mempermudah untuk memenuhi perlengkapan dalam melakukan perjalanan.

Cukup duduk di depan komputer, atau berselancar melalui gadget, masyarakat bisa dengan bebas memilih destinasi, memesan tiket transportasi pulang pergi, juga menyiapkan akomodasi di tempat wisata tujuan.

Geliat pemanfaatan internet untuk memenuhi kebutuhan rohani tersebut sudah mulai terasa dalam beberapa tahun terakhir, dan akan semakin pesat pada tahun-tahun ke depan.

Apalagi, mayoritas biro perjalanan telah melihat peluang yang sangat besar tersebut dan mulai mengakomodasi perilaku para generasi Y yang lebih efisien dan senang mengeksplorasi dan memenuhi kebutuhan sesuai keinginan pribadi masing-masing.

Ketua Badan Promosi Pariwisata Indonesia Wiryanti Sukamdani juga telah menetapkan untuk menyasar tiga golongan utama dalam mempromosikan pariwisata Indonesia, yaitu perempuan, anak muda dan netizen.

Netizen atau masyarakat pengguna internet dinilai memiliki dampak yang signifikan terhadap pertumbuhan industri pariwisata dalam negeri. Selain memiliki tingkat konsumsi yang cukup tinggi, netizen juga cenderung mudah menyebarkan informasi, sehingga bisa dimanfaatkan untuk membantu promosi Indonesia melalui dunia maya.

“Tren tahun depan pemesanan tiket dan industri pariwisata dengan memanfaatkan teknologi informasi akan terus berkembang,” katanya.

Tak hanya itu, BPPI juga telah menyiapkan materi promosi khusus untuk menarik lebih banyak netizen dari seluruh dunia agar memutuskan datang ke Indonesia dan menyebarkan informasi yang baik tentang Indonesia.

Pemanfaatan teknologi tersebut, menurutnya harus didukung dengan paket wisata yang menarik dan berbeda dari paket wisata konvensional. “Dengan berkembangya OTA, pemasaran pariwisata Indonesia jadi lebih luas karena bisa menjangkau semua kalangan di setiap wilayah.”

141211034023_visit indonesia

Ketua Asosiasi E-Commerce Indonesia Bidang Travel Hans Tjandra menjelaskan saat ini pengembangan bisnis travel tengah mengincar millenial generation yang merupakan potensi pasar yang akan tumbuh seiring bergesernya tren pemesanan hotel, tiket dan paket wisata.

“Bisnis e-commerce di Indonesia akan berkontribusi signifikan dalam lima tahun ke depan dan mulai bergeliat pada 2017. Saat itu generasi Y yang saat ini belum memiliki penhasilan karena masih kuliah, akan sudah memiliki pekerjaan dan lebih banyak berbelanja untuk berpergian,” paparnya.

Nielsen juga merilis, kelompok masyarakat yang disebut sebagai millenial travelers tersebut pada saat ini tercatat sekitar 1,75 miliar jiwa di seluruh dunia, dan 64 juta jiwa di antaranya berada di Indonesia.

Sementara itu, pengguna internet di seluruh dunia pada 2015 diprediksi mencapai 100 juta jiwa, dan 30% di antaranya merupakan pasar yang cocok untuk pemasaran travel secara online karena memanfaatkan internet lebih dari 3 jam per hari.

“Potensi pasarnya sangat besar untuk mengembangkan bisnis travel dengan e-commerce, di mana para millenial generation sudah akrab dengan perangkat mobile dan transaksi online,” paparnya.

Dengan potensi tersebut, pria yang juga Vice President E-Commerce Panorama Group menjelaskan perusahaannya telah banyak melakukan investasi demi membangun sistem yang akan siap menjelang musim panen e-commerce.

Dalam lima tahun sejak rilis bookpanorama.com pada 2012, Panorama Group mengalokasikan investasi hingga US$10 juta untuk biaya pembangunan dan pengelolaan sistem reservasi hotel dan tiket.

Sementara itu, Direktur Bayu Buana Agustinus Pake Seko mengatakan pertumbuhan transaksi melalui e-commerce sudah mulai terlihat, dan dalam tiga tahun ke depan diprediksi akan mendominasi penjualan tiket dan hotel.

“Trennya meningkat tajam, terutama untuk penjualan tiket dan hotel, sedangkan paket tur mayoritas masih menggunakan jasa offline,” katanya.

Setali tiga uang, ide gencarnya pemanfaatan teknologi informasi juga menjadi prioritas pembangunan pariwisata di tangan Menteri Pariwisata Kabinet Kerja Arief Yahya.

Mantan Direktur Utama PT Telekomunikasi Indonesia Tbk. itu mengatakan perbaikan infrastruktur TIK termasuk penyediaan koneksi internet di tempat-tempat wisata, serta promosi pariwisata secara digital dapat meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara yang ditarget mencapai 20 juta dalam lima tahun ke depan.

“Kalau memperbaiki infrastruktur fisik, setidaknya butuh 6 tahun, sedangkan infrastruktur ICT pukul 16.00 juga bisa selesai,” paparnya saat blusukan ke Kawasan Kota Tua akhir Oktober, dan benar saja, selang beberapa hari Kawasan Taman Fatahillah telah dilengkapi oleh wifi yang dapat diakses secara gratis oleh siapa saja.

Menurutnya, dengan perbaikan infrastruktur TIK, di antaranya ketersediaan koneksi internet akan lebih banyak menarik turis asing. Pasalnya, mayoritas orang luar tidak akan datang ke suatu tempat jika belum ada jaminan mereka akan terhubung secara global.

Tersirat, industri pariwisata dalam negeri berharap laju pertumbuhan dapat berbanding lurus dengan kecanggihan teknologi informasi yang terus berkembang pesat.

Tentu saja, hal itu tanpa mengesampingkan kebutuhan terhadap perbaikan infrastruktur, konektivitas, pengembangan destinasi pariwisata dan sumber daya manusia yang saat ini masih memiliki banyak kelemahan.

*versi lain dari tulisan ini dimuat di sebuah majalah internal perusahaan

Share This:

Published by

3 Replies to “Memanfaatkan Teknologi untuk Berwisata

    1. wuiihhh.. ngeri bro kalo jadi ghostwriter, takut hantu ane. haaha
      kagak, itu proyek tulisan majalah dari kantor, bro.
      ampun. jangan dilaporin. ahahaha

Leave a Reply