Kaleidoskop 2015: Tahun Suka Cita dan Hura-Hura

Pekan lalu, editor di kantor mewanti-wanti untuk segera menyelesaikan tulisan Kaleidoskop Pariwisata 2015 sebelum libur panjang natal dan tahun baru. Dalam beberapa jam, tugas tersebut bisa saya selesaikan. Setelah itu, saya jadi terinspirasi untuk membuat kaleidoskop perjalanan hidup sepanjang tahun ini.

kaleidoskop/ka·lei·dos·kop/ /kaléidoskop/ n aneka peristiwa yang telah terjadi yang disajikan secara singkat

Jika diperlukan tak lebih dari 10 kata untuk menggambarkan tahun kambing kayu ini, maka susunan kata yang akan saya pilih adalah: Tahun Suka Cita dan Hura-hura. Ya, postingan di akun media sosial saya didominasi oleh foto liburan dan nonton konser. Foya-foya.

Pada tahun ini, usia saya genap seperempat abad. Konon, pada usia sekitaran 25 tahun orang biasanya akan menghadapi quarter life crisis. Yakni adanya titik balik dalam hidup sebelum menyambut kemapanan.

Puji Tuhan, sepanjang tahun ini saya tidak (atau belum) merasa ada krisis menghampiri yang bisa membuat langkah terasa berat atau hati bimbang memilih jalan. Yang ada, saya malah semakin yakin dan mantap pada beberapa hal yang sudah dipilih.

Selain menjadi pelaku hedonisme, beberapa hal baru yang pertama kali saya lakukan atau rasakan seumur hidup juga terjadi di tahun ini. Banyak sebab lainnya juga yang membuat saya banyak bersyukur karena mendapatkan kesempatan yang belum tentu dimiliki orang lain.kaleidoskop 2015

Januari
Awal tahun dimulai dengan perubahan status. Bukan, bukan status hubungan dari jomblo menjadi berpasangan atau menikah, tetapi status dalam pekerjaan. Setelah 1,5 tahun menjadi calon reporter, akhirnya saya pun diangkat menjadi reporter dan karyawan tetap. Alhamdulillah.

Februari
Di bulan ini, saya berkesempatan menginjakkan kaki untuk kedua dan ketiga kalinya di Malaysia. Yang paling menarik adalah saya tak hanya menjelajah Kuala Lumpur saja, tetapi Penang! Menurut saya, Penang merupakan daerah di utara Malaysia yang sangat nyaman untuk ditinggali. Saya berjanji suatu hari akan kembali lagi ke sana bersama pasangan.

Maret
Tidak ada yang spesial di bulan yang harusnya spesial ini. Sepertinya sepanjang bulan hanya dilalui dengan rutinitas pekerjaan. Ah iya! Di bulan ini, saya pertama kali berkenalan dengan dunia bawah air. Saya berkesempatan untuk ikut trial scubadiving di markasnya Possi. Sejak saat itu, saya jadi sangat tertarik untuk bisa menahan nafas lebih lama di bawah air demi menikmati surga lautan Indonesia.

April
Untuk pertama kalinya nonton The Adams secara live. Sejak saat itu, saya jadi keranjingan untuk ‘nututi’ si gitaris Saleh Husein. Makanya, bulan-bulan setelah ini banyak diisi dengan nonton konser White Shoes & The Couples Company (karena bapak anak satu itu juga jadi gitaris di WSATCC).

White Shoes and The Couples Company melakukan konser tunggal sebagai syukuran 13 tahun berkarya di dunia musik Indonesia.
White Shoes and The Couples Company melakukan konser tunggal sebagai syukuran 13 tahun berkarya di dunia musik Indonesia.

Mei
Liburan lagi… Kali ini ke Yogya dan Solo saja. Tapi tidak cuma liburan biasa, karena sekali lagi saya melakukan hal pertama dalam hidup yang sudah lama diidam-idamkan. Kali ini adalah camping di pantai Sadranan sebelum mendaki Gunung Merbabu, sekaligus mencoba action camera baru yang dibeli secara cicilan. 😀

Juni
Hal pertama dalam hidup lainnya yang terjadi pada bulan ini adalah mencoba untuk merintis bisnis, dengan merilis Adventuresia.com, toko online perlengkapan outdoor yang memiliki misi untuk mempromosikan produk-produk lokal Indonesia. Start-up yang dibangun bersama seorang rekan ini kami nilai sangat prospektif, hanya saja sampai sekarang jalan di tempat karena kurangnya konsistensi dan fokus (khususnya yang terjadi dalam diri saya).

Juli
Memutuskan untuk mengikuti program piket Lebaran dari kantor, dan dipercayai untuk menjadi bagian tim Susur Jawa yang bertugas untuk meliput pantauan lalu lintas sepanjang arus mudik dan balik Lebaran. Karena tugas ini, selama sembilan hari saya dan tiga orang rekan satu tim harus hidup di jalanan menapaki setiap kilometer jalan di Jawa.

Perjalanan dimulai di Jakarta dan berakhir di Jakarta dengan melalui rute Jakarta – Bandung – Garut – Cilacap – Kebumen – Yogyakarta – Pacitan – Ponorogo – Blitar – Lumajang – Banyuwangi – (Bali) – Probolinggo – Surabaya – Cepu – Semarang – Pekalongan – Cirebon – Jakarta!

Agustus
Salah satu impian terbesar akhirnya terwujud: menginjakan kaki di tanah Papua. Ini merupakan salah satu kesempatan yang belum tentu bisa didapatkan banyak orang. Saya beruntung bisa terlibat dalam kegiatan Ekspedisi Jurnalis ke Puncak Carstensz Pyramid (walaupun kegiatan ini tidak tergolong sukses).

Sebelumnya, saya juga menjadi salah satu saksi konser tunggal White Shoes and The Couples Company yang bertajuk Konser di Cikini dari baris paling depan *bangga*.

September
Konser termegah dan yang paling ditunggu-tunggu tahun ini datang juga. Setelah 15 tahun, akhirnya Bon Jovi kembali datang ke Indonesia. Selain sukses memberikan hiburan bagi para fans-nya, konser ini juga sukses membuat kantong saya kering kerontang.

DSCN0122

Ah iya, salah satu gol dalam urusan model rambut akhirnya tercapai! Setelah bertahun-tahun menjalani waktu dengan rambut pendek, akhirnya pada bulan ini kepala saya bisa bernafas lebih lega karena pelontos! Yak! Terima kasih event Shave for Hope yang membuat impian saya memiliki kepala botak bisa terealisasi 😀

Oktober
Setelah direncanakan berbulan-bulan, keinginan untuk melakukan kunjungan ke beberapa kota dalam sekali perjalanan terlaksana juga. Roadshow dengan durasi 10 hari mengantarkan saya untuk mengunjungi Yogyakarta – Solo – Semarang – Surabaya – Manado – Makassar – Toraja. Perjalanan ini juga menjadi penutup euforia jalan-jalan sepanjang tahun.

Pada bulan yang sama, saya pun menikmati hentakan musik dari konser band metal favorit: Helloween. Setelah menonton konser ini, saya bertekad ini akan menjadi konser terakhir yang saya saksikan di tahun ini (dengan alasan pengetatan moneter setelah roadshow).

November
Karena sudah bertekad untuk berpuasa dan menjauhkan diri dari segala kegiatan keduniawian dan hedonisme (jalan-jalan, nonton konser, karaoke dan nongkrong di kafe) setidaknya selama enam bulan, saya mulai mencari kegiatan lain supaya tidak membusuk di kosan. Akhirnya, saya mulai mengikuti berbagai kursus online gratis.

Selain bisa berhemat karena tidak perlu keluar uang untuk menghabiskan waktu, pengetahuan dan wawasan saya pun bisa bertambah. Karena itu, saya mulai berkenalan dengan website penyedia kursus seperti futurelearn.com, coursera.org, edX.org, juga TED.com.

Pada bulan ini, saya juga berhasil menyelesaikan pembacaan novel berbahasa Inggris yang pertama dalam hidup saya. Ini salah satu prestasi pribadi yang menurut saya patut diacungi jempol. Pertama, karena sebenarnya buka seorang pecandu novel, dan kedua karena kemampuan Bahasa Inggris saya masih cetek.

Desember

Bulan terakhir di 2015 diisi dengan misi terbaru seumur hidup: membuat dan panen kefir sendiri. Pembuatan minuman probiotik ini disebabkan oleh provokasi seorang rekan di media sosial yang bilang bahwa Kefir memiliki sejuta manfaat. Dengan niat untuk menyembuhkan konstipasi yang sudah lama saya derita, akhirnya saya mulai memfermentasi susu murni dengan sedikit jamur kefir, dan BERHASIL! (tulisan tentang ini akan segera dipublish)

Akhir tahun juga diwarnai dengan kabar yang cukup mengejutkan, bahwa mulai awal tahun depan saya harus bertugas di luar kota selama enam bulan, tepatnya di Makassar, Sulawesi Selatan. Mengejutkan karena sebelumnya saya diberitahu kalau saya tidak akan mendapatkan tugas penempatan di luar kota. Meskipun demikian, saya tetap bahagia karena berarti tantangan dan pengalaman baru sudah di depan mata!

etsy.com
etsy.com

***

Setelah melihat kembali pencapaian apa saja yang saya dapat pada 2015, rasa-rasanya saya sudah siap untuk menerima hal-hal baru yang lebih menantang. Tetapi, sudah bukan lagi tantangan dalam hal foya-foya (karena menurut saya untuk urusan ini saya sudah khatam), melainkan untuk hal-hal yang lebih serius.

Mungkin pada tahun depan sudah saatnya saya mengejar cita-cita yang lebih besar demi masa depan yang lebih baik. Mulai berkarya dan menghasilkan lebih banyak uang melalui bisnis maupun investasi. Pasalnya hingga saat ini saya sama sekali tidak punya uang tabungan. Maklum, saya bukan tipe orang yang sayang sama duit, dan lebih tergoda untuk menghabiskannya demi pengalaman baru ketimbang menyimpannya demi masa depan.

Namun, seringkali kita perlu melangkah dari zona nyaman bukan? Untuk itu, saya mencoba membuat resolusi tahun baru yang lebih ‘serius’. Tiga target utama yang ingin saya capai di 2016 adalah: melanjutkan kuliah, menerbitkan satu judul buku, dan memiliki bisnis yang menghasilkan duit. Semoga target-target tersebut tak hanya jadi wacana dan bisa tergapai satu-persatu dalam 12 bulan ke depan. Tolong aminkan doa saya ini.

Di sisi lain, saya juga berharap semoga kondisi perekonomian global dan Indonesia pada 2016 bisa membaik, daya beli masyarakat semakin meningkat karena turunnya harga komoditas dan barang konsumsi lainnya, khususnya harga rumah 😀

BTW, Selamat tinggal 2015, sampai jumpa 2016!

Semoga kedamaian dan kebahagiaan terus menyelimuti seluruh muka bumi.

Share This:

Published by

1 Reply to “Kaleidoskop 2015: Tahun Suka Cita dan Hura-Hura

Leave a Reply