Jakarta Surga Dunia?

Beberapa orang pernah bertanya kepada saya: “Nenden, kamu betah tinggal di Jakarta?”, dan tanpa pikir panjang saya jawab dengan tegas: “Betah, sangat betah!”.

Mungkin banyak orang yang kebingungan dengan jawaban yang saya lontarkan tersebut, karena selama ini Ibu Kota seringkali diasosiasikan dengan neraka, bahkan katanya lebih kejam dari pada ibu tiri.

Namun, bagi yang membutuhkan penjelasan lebih dari jawaban saya, video besutan Kementerian Pariwisata ini bisa jadi salah satu jawabannya.

Bagi saya, tinggal dan hidup di Jakarta artinya memiliki kesempatan yang besar untuk mengembangkan dan menaikan level diri. Di sini, saya bisa melebarkan jaringan seluas yang saya inginkan. Di sini, saya bisa mendapatkan akses pada apa pun yang saya mau.

Di Jakarta, semua pilihan tersedia. Tak hanya hitam atau putih, ada abu-abu, biru, jingga hingga pelangi, dan saya bebas merdeka untuk memilih salah satu, salah dua atau salah banyak dari semuanya. Di Jakarta juga, banyak peluang-peluang terhampar yang belum tentu bisa saya dapatkan di tempat lain.

“Lantas, bagaimana dengan kemacetan? Bagaimana dengan potensi banjir tahunan? Bagaimana dengan polusi dan kesumpekan? Tahan dengan itu semua?”

Sebelum saya memutuskan untuk hijrah ke sini, saya sudah paham dengan semua risiko tersebut, dan setiap saya menentukan pilihan artinya saya harus menerima sepaket dengan semua konsekuensi, termasuk hal-hal negatif yang disebutkan dan yang tidak terlihat.

Jadi, saya sudah ikhlas dan siap dengan semua anggapan-anggapan miring yang sering jadi momok bagi orang lain, bagi orang-orang yang menganggap Ibu Kota sebagai ibu tiri.

Toh, nyatanya sekarang saya tambah bahagia hidup di sini, bahkan pada beberapa bagian saya merasa lebih mencintai Jakarta daripada Solo, bahkan Cianjur yang menjadi kampung halaman saya.

Tetapi, saya juga punya keyakinan, tidak mungkin selamanya saya hidup di Jakarta, suatu saat saya akan pindah lagi ke tempat lain, menuruti sifat manusiawi saya yang tidak pernah merasa puas.

Mungkin saya akan menjajah kota lain yang bisa memberikan peluang pengembangan diri lebih besar dari Jakarta. New York, London, atau Mars? Tidak ada yang pernah tahu kesempatan apa yang akan lewat di depan mata.

Namun, pada akhirnya, saya bertekad untuk kembali ke ribaan tanah kelahiran: Cianjur. Untuk berkarya dan mendorong pembangunan di Kota Santri itu. Untuk terlibat aktif dan berkontribusi positif di tanah tatar Pasundan itu.

Sing sabar nya Cianjur, dina wancina simkuring bakal ngariung sabilulungan deui.

Share This:

Published by

1 Reply to “Jakarta Surga Dunia?

Leave a Reply