Intercultural Communication: Saya Muslim, kamu?

Istilah Islamophobia mulai merebak lagi sejak kejadian 9/11 pada 2001 silam. Kala itu, banyak orang yang merasa ngeri terhadap Muslim, dan menganggap semuanya seperti teroris.

Tapi tahukah kalian, bahwa jauh sebelum istilah Islamophobia muncul karena kasus terorisme itu, saya telah terlebih dulu mengidap Kristenophobia, Katolikophobia, dan fobia terhadap agama lainnya.

Iya, dulu saya semacam anti dan takut ketika harus berinteraksi dengan orang yang beragama di luar Islam. Penyakit ini saya idap setidaknya sampai lulus SMA.

Apa pasal? Mungkin karena dulu saya kurang pergaulan. Saya dilahirkan dan tumbuh di daerah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, sehingga memiliki peluang sangat kecil untuk berinteraksi dengan orang di luar Islam.

Saya ingat, cuma punya 3 teman sekolah yang beragama di luar Islam, dua orang Kristen dan seorang Katolik, dan saya tidak akrab dengan semuanya.

Saya bingung kenapa hal bebal semacam itu bisa terjadi. Setelah dipikir-pikir tampaknya itu karena pelajaran agama yang saya dapatkan baik di sekolah maupun pengajian di rumah tidak mengarahkan saya untuk terbuka dan menerima orang-orang beragama non-Islam. (atau mungkin dulu saya kelewatan sesi ini)

Pemikiran ini muncul saat saya mengikuti sesi online course di futurelearn.com. Saat itu saya sedang mengikuti kelas tentang Intercultural Communication dari Shanghai International Studies Iniversity (SISU).intercultural

Pada salah satu sesi, para peserta kursus diminta untuk menceritakan pengalaman dari latar belakang culture yang dimiliki, culture yang dimaksud bisa merupakan kebudayaan suku bangsa, agama, orientasi seksual, hingga preferensi politik.

Karena saya merasa tidak memiliki cerita yang cukup menarik dengan latar belakang suku sebagai orang Sunda, kemudian saya menelisik dari latar belakang agama saya, dan saya teringat dengan cerita yang saya tuliskan ini.

Kisah ini sebenarnya sudah pernah saya ceritakan pada salah seorang rekan jurnalis saat kami melakukan perjalanan dinas ke Papua pada Agustus 2015. Saat itu kami mengobrol panjang lebar tentang segala hal, termasuk masalah agama, kebetulan rekan saya itu seorang Katolik.

Saya bertanya, apakah di Katolik anak-anak diajarkan tentang agama lain, misalnya Islam sehingga mereka bisa mengenal seperti apa profil agama yang tidak dianutnya? Dia jawab, iya. Katanya, setiap siswa juga diajarkan tentang Islam, sebagai salah satu bagian dari sejarah dunia.

Dari sana saya mulai berpikir dan ngeh, kalau ternyata saya (merasa) tidak pernah belajar banyak tentang Katolik, Kristen dan agama lainnya. Hal itu menimbulkan ketidaktahuan, dan ketidaktahuan menimbulkan ketakukan.

Apalagi, selama mengaji, seringnya saya dicekoki hal-hal negatif dari agama lain. Akhirnya, persepsi yang terbangun di kepala saya adalah orang-orang yang bukan Islam itu hampir pasti ‘jahat’ dan akan masuk neraka.

Saya jadi tersenyum sendiri sambil menutup muka karena malu ketika sadar ternyata pernah memiliki pemikiran banal seperti itu.

Beruntungnya, persepsi itu segera hilang setelah saya memutuskan untuk hijrah dan meninggalkan tanah kelahiran. Saya melanjutkan pendidikan di Solo. Meskipun berkuliah di universitas Islam, tetapi kesempatan saya untuk berinteraksi dengan orang dari berbagai latar belakang sangat terbuka lebar.

(Saya tidak yakin bisa mendapatkan pengalaman ini kalau memilih untuk berkuliah di Bandung)

Saya pun mulai berhubungan dan memiliki teman Kristen dan Katolik. Awalnya memang terasa canggung, tapi lama kelamaan apa yang saya pikirkan selama ini ternyata tidak terbukti. Mereka sama-sama mengasikan, menyenangkan, bahkan pada beberapa sisi mereka lebih ‘baik’ ketimbang teman-teman Islam saya.

Rasa penasaran saya akhirnya tumbuh. Saya bertanya banyak hal tentang agama mereka, bahkan menyempatkan waktu untuk mencari referensi dan membaca berbagai macam artikel tentang sejarah dan perkembangan agama hingga saat ini.

Beberapa kali saya mengikuti kegiatan mereka, ikut kegiatan sosial di Panti Asuhan Kristen, pernah masuk ke gereja saat misa paskah, dan main ke Gua Maria. Hal itu membuat saya semakin sadar bahwa banyak hal baik yang bisa ditiru dari ajaran agama lain.

Interaksi antaragama tersebut berlangsung hingga sekarang saat saya pindah ke Jakarta. Bahkan, di sini kesempatan untuk meningkatkan rasa toleransi semakin terasah, berbanding lurus dengan meluasnya jaringan interaksi yang saya miliki. Sekarang, teman Kristen dan Katolik saya sudah tidak bisa dihitung dengan jari.

Nah, kalau dihubungkan dengan materi kursus online yang saya ikuti, memang ada materi yang menyebutkan bahwa pembentukan persepsi terhadap orang lain akan terbentuk dari latar belakang kultur yang dimiliki atau istilahnya cultural bagage.

Hal itulah yang harus dijembatani dengan kemampuan berkomunikasi antarkultur, sehingga tidak akan memunculkan kesalahpahaman saat menjalin hubungan dengan orang lain, atau supaya tidak mengalami culture shock ketika datang ke tempat baru.

Bagaimana caranya supaya komunikasi antarkultur bisa terbangun dengan baik dan efektif? Nah, yang ini saya belum dapat materinya, kemungkinan akan dibahas pada sesi pekan depan. Tunggu sampai saya menyelesaikan kursus tiga pekan ke depan, baru akan saya bagikan serba-serbi lainnya terkait intercultural communication.

Atau, kalau berminat, bisa mengikuti kursusnya yang berlangsung antara 9 November-7 Desember 2015.

 

 

 

Share This:

Published by

Leave a Reply