Ini Yang Harus Diperhatikan Sebelum Melakukan ‘Endorse Sis’

Semakin berkembangnya bisnis online di Indonesia, membuat para pelakunya giat melakukan berbagai cara untuk meningkatkan penjualan. Salah satunya dengan teknik endorsement yang telah berjalan sekitar dua tahun terakhir.

Endorsement biasanya dimaknai dengan dukungan, atau semacam rekomendasi. Dalam dunia bisnis online, biasanya para pelaku usaha melakukan upaya endorse atau mendukung tokoh masyarakat dengan memberikan barang dagangan secara cuma-cuma.

Sebagai timbal balik, tokoh masyarakat akan mengunggah foto produk tersebut di dalam akun media sosialnya, seperti Instagram maupun Twitter. Hal itu diharapkan dapat membuat para pengikutnya ikut mengenal online store yang menjual produk tersebut dan berimbas kepada peningkatan penjualan.

Strategi tersebut dinilai berpengaruh cukup signifikan, selain bisa meningkatkan brand awareness di kalangan netizen, biasanya jumlah pengikut akun online store yang melakukan endorsing juga akan bertambah. Sehingga audiens promosi produk juga akan meningkat.

Source: http://jin-entertainment.com

Nur Anreza, pemilik Taruwood produsen berbagai macam produk berbahan dasar kayu mengakui sistem endorsement melalui tokoh cukup signifikan mendongkrak penjualan. Apalagi jika si tokoh memiliki penggemar yang sesuai dengan target pasar produk.

“Biasanya teknik endorsement yang paling mudah adalah dengan meminta tokoh untuk berfoto bareng dengan produk yang kita jual, kemudian diunggah ke berbagai media sosial,” katanya.

Dengan hal tersebut, selain bisa menjaring lebih banyak audiens, juga bisa meningkatkan citra produk. Apalagi, jika tokoh yang berhasil di-endorse tersebut merupakan tokoh yang sangat berpengaruh.

Meski demikian, dia mengaku pengaruh dari cara endorsement seperti itu tidak bertahan lama. Untuk itu, dia pun mencoba untuk mengendorse tokoh dengan lebih profesional dengan tawaran metode kerja sama.

“Saya sedang mendekati beberapa tokoh supaya mereka bersedia untuk menggunakan produk di berbagai kesempatan, sehingga lingkungannya sadar dengan produk kami,” katanya.

Salah satu cara lain dari tipe endorsement adalah dengan mengangkat brand ambassador bagi suatu brand produk. Seperti yang dilakukan Keke Busana dengan menjadikan Berliana Febrianti sebagai duta.

CEO Keke Busana Rendy Saputra mengatakan para pelaku industri menengah menurutnya harus mulai bergeser dari brand endorser ke brand ambassador. Hal itu untuk mengukuhkan posisi produk di tengah kalangan masyarakat.

“Brand ambassador atau brand endorser itu sebagai kanal yang menghubungkan antara produk dan konsumen, sehingga kanalnya benar-benar harus baik supaya produk bisa diterima dengan baik,” paparnya.

Karena, tidak semua tokoh masyarakat bisa digunakan sebagai objek endorsing bagi produk-produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM). Ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar sistem promosi tersebut bisa efektif dan juga cocok dilakukan bagi para UMKM yang memiliki budget promosi terbatas.

Peneliti dan Penulis Buku Consumer 3000 Yuswohady mengatakan setidaknya ada empat tips yang harus diperhatikan agar strategi endorsment efektif dan sesuai dengan budget pelaku UMKM, yakni dengan pemilihan tokoh yang tepat, memanfaatkan personal branding, memperluas jaringan, serta meningkatkan loyalitas konsumen.

Pemilihan Tokoh

Yuswohady mengingatkan tidak semua artis bisa dipilih. Pasalnya, pemilik usaha juga harus jeli dan teliti untuk memilih image tokoh yang sesuai dengan produknya. Selain itu, juga harus dilihat profil audiensnya apakah sesuai dengan target market produk.

“Jangan asal follower-nya banyak, kemudian bisa diendorse. Percuma kalau ternyata audiensnya tidak cocok dengan barang yang dijual,” katanya.

Jika sistem endorsement yang dilakukan sekadar foto bareng dengan produknya, hal tersebut tidak berkelanjutan dan tidak tahan lama. Seharusnya ada kerja sama yang dilakukan agar para tokoh yang meng-endorse produk tersebut bisa secara berkala melakukan promosi.

Dia menambahkan, biasanya tokoh-tokoh yang peduli terhadap kemajuan UMKM di Indonesia akan dengan senang hati membantu memasarkan produk-produk tersebut tanpa harus dikenai biaya atau pun dengan bayaran yang sangat rendah.

“Sebenarnya para artis maupun selebgram memang potensial karena memiliki audiens yang sangat besar. Ketika suatu barang diterapkan pada sosok tersebut, maka awareness terhadap produk tersebut bisa didapatkan,” katanya.

Personal Branding

Dia mengatakan jika sistem endorsement yang dilakukan dengan konsep kerja sama, biasanya membutuhkan dana yang tidak sedikit, karena dilakukan secara profesional serta membutuhkan kontrak.

Jika pelaku UMKM belum sanggup untuk mengontrak tokoh tertentu, mereka bisa memanfaatkan personal branding, atau menjadikan pemilik usaha sebagai tokoh yang mempromosikan produknya sendiri.

Untuk itu para pemilik usaha harus memiliki kemampuan berinteraksi dengan audiens, baik melalui dunia maya maupun dalam dunia nyata. Juga aktif terlibat dalam berbagai kegiatan kewirausahaan.

Agar banyak audiens yang tertarik, pemilik usaha juga harus memiliki konsep yang jelas, sehingga dalam praktik personal branding dia bisa memiliki daya tarik tersendiri. Hal itu bisa dilakukan dengan rajin memberikan informasi bermanfaat yang berkaitan dengan produk.

Memperluas Jaringan

Selain itu, pemilik usaha juga bisa memanfaatkan jaringan yang dimilikinya. Misalnya dengan bergabung dengan komunitas wirausaha dan mendekati para tokoh yang meman peduli dengan UMKM.

“Pelaku usaha juga bisa memanfaatkan jaringan yang telah terbentuk, misalnya dengan mendekati kenalan yang lumayan berpengaruh di media sosial, dan menawarkan konsep kerja sama yang akan dilakukan,” katanya.

Para pelaku usaha juga bisa saling mempromosikan produk-produk yang berada dalam jaringan komunitasnya. Sehingga jumlah audiens dari masing-masing produk yang sudah eksis bisa ikut bertambah.

Di sisi lain, salah satu konsep yang tengah berkembang di dunia online shop saat ini adalah strategi shoutout for shoutout (SFS). Sistemnya berupa barter promosi, atau online shop saling bekerja sama untuk mempromosikan produk-produknya satu sama lain.

Tujuannya, tidak jauh beda dengan endorse melalui artis atau selebgram, yakni menambah followers dan meningkatkan penjualan. Karena mereka yakin, semakin banyak pengikut semakin besar juga potensi konsumen.

Loyalitas Konsumen

Tak hanya memanfaatkan kehadiran para tokoh, pelaku usaha juga bisa memanfaatkan para konsumennya. Misalnya, dengan memberikan promo khusus jika kustomer ikut mempromosikan produk yang dia beli.

Dengan cara tersebut, meskipun jumlah pengikut masing-masing konsumen tidak sebanyak para tokoh, tapi kekuatan viral juga akan berpengaruh. Lama-kelamaan fungsinya akan sama seperti teknik pemasaran dari mulut ke mulut atau word of mouth.

“Hal itu tentu saja harus dibarengi dengan kualitas produk yang baik, sehingga orang tidak mengendorse barang hanya karena menginginkan potongan harga, melainkan karena mereka memang menyukai produk tersebut,” paparnya.

Jika konsumen sudah mau merekomendasikan produk yang dia beli tanpa iming-iming apa pun, itu artinya konsumen sudah masuk pada fase advocates.

Tipe konsumen advocates adalah mereka yang sudah puas atau sangat puas dengan jasa atau layanan yang diberikan sehingga akan berusaha menceritakan dan merekomendasikan kepada pihak lain.

Untuk itu, para pelaku usaha juga harus peka terhadap tipe advocates ini, karena bisa menjadi ujung tombak promosi produk dan bisa diajak bersinergi.

Pakar Marketing Indonesia Hermawan Kertajaya juga mengatakan saat ini para pelaku usaha sudah mulai merangkul para advocates. Sehingga konsumen tak sekadar menggunakan dan mempromosikan produk, tetapi juga melakukan pembelaan terhadap produknya.

“Pelaku usaha harus melihat pada advocates sebagai marketing independen, mereka biasanya objektif dan akan melakukan pembelaan jika produk yang menurutnya bagus tidak mendapatkan respons yang baik dari konsumen lainnya,” paparnya.

Menurutnya, konsep ini berlaku tak hanya di dunia online, tetapi juga di dunia nyata. Biasanya juga lebih efektif dibandingkan sekadar iklan di berbagai media.

Untuk itu, para pelaku usaha harus bijak memanfaatkan loyalitas konsumen dan berbagai strategi marketing, dengan terus memperhatikan kualitas produk dan memberikan pelayanan sebaik mungkin.

“Poin utamanya tetap pada bagaimana pelaku usaha mengelola produknya. Segencar apa pun promosi dilakukan, jika produknya tidak berkualitas, lama-lama konsumen akan menjauh bahkan memberikan rekomendasi yang buruk,” katanya.

Share This:

Published by

Leave a Reply