Hujan Bulan Juni yang berakhir di Bulan Juli

1493449_10207159730460272_564519307759963215_o

Setelah satu bulan, akhirnya saya berhasil menyelesaikan novel termutakhir karya salah satu sastrawan favorit saya: Sapardi Djoko Damono. Waktu yang tergolong lama untuk tulisan yang hanya setebal 133 halaman.

Pasalnya, saya merasa kurang sreg dengan cerita dan gaya penulisan SDD yang terlalu modern. Iya, karena itu jauh berbeda dari bayangan dan ekspektasi saya atas buku yang berjudul sama dengan puisi yang selalu dikutip orang tiap bulan keenam masehi.

Terlepas dari itu, saya banyak belajar dari tulisan SDD kali ini, ada banyak kosa kata baru, sedikit banyak tentang dunia akademis, sejarah suku bangsa dan problemanya di Indonesia, sampai pada salah satu urusan paling pelik di usia 20-an: JODOH.

Sepanjang pembacaan buku yang mayoritas 90% dilakukan di toilet itu, saya menerka-nerka ke arah mana cerita ini dibawa, hingga judul Hujan Bulan Juni bisa nangkring di cover buku. Dan, pertanyaan itu memang hanya bisa terjawab di akhir cerita.

Sebenarnya ide cerita buku ini sangat sederhana, menceritakan tentang kisah cinta Sarwono si pria Jawa dengan Pingkan perempuan blasteran Jawa-Manado. Dengan latar belakang dunia akademis, di mana Sarwono merupakan seorang Antropolog Universitas Indonesia, dan Pingkan seorang lulusan Bahasa dan Kebudayaan Jepang yang juga asisten peneliti.

Mereka berdua sebenarnya telah mulai memadu kasih sejak duduk di bangku kuliah, namun kejelasan cintanya tersebut terhadang oleh perbedaan suku dan agama, yang membuat Sarwono maupun Pingkan merasa naik-turun terhadap cinta mereka.

Kemudian Pingkan pergi untuk belajar di Jepang, dan Sarwono tergerus rindu, hingga penyakit yang lama dipendamnya kambuh.

Di situ juga diceritakan kalau Sarwono seorang yang rajin menulis dan mengirimkan puisinya ke media massa, dia juga seorang pecinta musik Jazz, sehingga banyak nama musisi dan judul lagu jazz yang dicatut dalam kisah ini.

IMHO, saya merasa tidak banyak yang menarik dalam buku ini, kecuali tentang kisah Putri Pingkan dan Matindas, yang diceritakan secara tersirat di buku ini.

Oh ya, salah satu kutipan yang paling saya sukai di buku ini adalah: “Jakarta itu cinta yang tak hapus oleh hujan tak lekang oleh panas. Jakarta itu kasih sayang”.

Selain itu, saya juga cukup bahagia karena memiliki buku yang dibubuhi tanda tangan penulis dan penyair kelahiran Solo ini.

11537589_10207008461118633_7243382017581243500_o

Kalau saya boleh menilai dari kacamata awam yang tak paham sastra ini, buku ini saya beri nilai 6,5 dari skala 10. Semoga saya tidak kapok, dan masih bisa menikmati karya SDD lainnya, selain puisi-puisinya yang dimusikalisasi dan dinyanyikan oleh Ari-Reda.

Share This:

Published by

Leave a Reply