Gracias y Adiós Birmingham!

Pada tanggal ini – 13 September – tepat setahun yang lalu, saya melakukan salah satu lompatan tertinggi dalam hidup. Saya harus terbang mengelilingi separuh bumi demi melanjutkan studi, menimba ilmu hingga negeri yang tak pernah sekalipun mampir di mimpi.

Saya masih bisa mengingat dengan jelas bagaimana perasaan saya saat pertama kali melangkahkan kaki keluar dari pesawat di Birmingham Internasional Airport. Masih lekat dalam kenangan bagaimana bau kamar di 11A Exeter Road saat pertama kali saya masuki dan kemudian menjadi tempat saya berlindung hingga 365 hari kemudian.

Meskipun perlu diakui bahwa perjalanan hidup di Inggris tidak bisa dibilang sebagai tahun terbaik dalam hidup saya, banyak hal baru yang menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan saat bertahan hidup di negeri orang. Mulai dari jetlag dan gegar budaya, hingga hal remeh-temeh yang mampu membuat saya merenung dan ingin pulang. Namun, hal itu mengantarkan saya pada rasa bersyukur, karena sadar bahwa tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan yang sama.

Saya memiliki keluarga baru di sini. Orang-orang yang awalnya sama sekali tidak pernah terbayang untuk bisa mengenal mereka, akhirnya menjadi yang paling dekat. Menjadi tempat untuk berkeluh kesah, mencurahkan hati, hingga menjadi partner untuk menertawakan hal-hal receh sambil mengunyah pizza, atau menjadi tandem yang kompak saat membicarakan keburukan orang lain. 😀

Di sini, saya juga bisa bertemu dan mengenal banyak orang, dari China hingga Uruguay, dari New York hingga Karachi. Belajar aksen British yang kedengarannya seksi tetapi nyatanya susah dipahami. Belajar Bahasa Mandarin karena mayoritas orang yang ditemui di kampus berasal dari Negeri Tirai Bambu, meskipun hasilnya hanya bisa berucap Ni Hao dan Xiexie.

Salah satu hal lain yang membuat saya terus bersyukur, dan terus berterima kasih kepada Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) Kementerian Keuangan adalah kesempatan yang saya miliki untuk melebarkan sayap dan memanjangkan kaki. Melangkah lebih jauh untuk menjelajahi tempat-tempat baru di muka bumi, atau istilah singkatnya adalah ‘plesiran’. Toh, saya merasa tidak ada yang salah dengan berjalan-jalan, bahkan melakukan perjalanan membuat pikiran kita semakin terbuka, dan mengasah rasa empati.

Oh ya, jangan terlewat untuk mengenang bagaimana manis-pahitnya menjalani kehidupan sebagai ‘International Student’, supaya tidak dicap sebagai mahasiswa yang hanya menghambur-hamburkan duit negara. Tidak bisa disangkal, bahwa belajar dengan tempo yang cepat dan materi yang sangat padat merupakan hal yang berat. Terutama bagi saya, mahasiswa Computer Science yang sama sekali tidak ‘menjiwai’ sebagai computer scientiest membuat semua modul kuliah seperti momok yang menakutkan.

Saya sempat stres pada tiga bulan pertama kuliah karena tidak paham dengan apa yang dijelaskan dosen di depan kelas. Hampir depresi karena merasa mengambil mata kuliah yang kurang cocok dengan kemampuan saya. Tidak kuasa mengerjakan tugas dengan baik dan hanya mendapat skor 10 dari 100. Terpaksa tidak tidur, tidak mandi, dan harus menginap di perpustakaan beberapa malam demi menyelesaikan tugas tepat sesuai tenggat. Bahkan saya tidak lulus saat ujian akhir dan harus mengulang beberapa mata kuliah, tetapi juga bisa mendapatkan nilai tinggi untuk mini-project senilai 30 kredit.

Pada pengujung masa perkuliahan, tidak nyenyak tidur selama tiga bulan saat musim mengerjakan proyek akhir dan disertasi adalah hal yang lumrah. Bahkan saya sampai merasa ingin segera pulang ke Indonesia saja dan melewatkan pengerjaan disertasi yang menyedot semua harapan dan optimisme. Namun, akhirnya segala susah payah itu bisa tertebus pada saat ribuan kata yang telah ditulis secara hati-hati demi tidak terindikasi plagiarisme oleh Turnitin berhasil diunggah ke Canvas sebelum deadline.

Maka jangan heran jika banyak teman-teman kalian (termasuk saya) dengan sengaja memamerkan cover disertasinya di berbagai media sosial. Bukan berarti mereka sombong atau congkak, tetapi karena hal tersebut bisa jadi menjadi sebagian kecil penawar lelahnya berjuang mati-matian demi menuntaskan kewajiban sebagai mahasiswa.

Sekarang, setelah semuanya proses belajar tuntas dan seluruh kewajiban tunai, tanggung jawab yang lebih besar sudah menanti. Kembali ke tanah air, mengabdi dan menciptakan perubahan yang baik bagi pertiwi merupakan hal paling ideal bagi para Awardee. Tetapi, bak rahasia umum, hal tersebut masih jauh panggang dari api. Para mahasiswa lulusan luar negeri masih kedapatan kesulitan mencari kerja, bahkan harus ‘mengemis’ demi mendapatkan pekerjaan ala kadarnya hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tetapi, saya selalu optimistis bahwa semua pasti ada jalannya, entah harus pilih jalan setapak, jalan memutar, atau lewat jalan tol.

Lantas, apa yang akan saya lakukan setelah lulus dan menggandeng gelar M.Sc.? Pulang ke Indonesia merupakan jawaban pasti, baru setelah sampai di tanah air pertanyaan ‘Mau ngapain’ menjadi hal yang menarik untuk dikupas. Jika bisa dirinci, saya punya rencana A hingga Z, mulai dari lanjut Ph.D hingga kursus menjahit dan les Bahasa Mandarin, dari keinginan membangun bisnis sendiri, atau menjadi istri. Semuanya masih perlu diperhitungkan matang-matang.

Yang jelas, di detik-detik terakhir menuju kepulangan ke Indonesia, saya semakin sentimental dan merasa belum puas, belum rela untuk meninggalkan kehidupan saya di Birmingham. Setiap sudut kampus, setiap sudut kota sekarang rasanya semakin indah dipandang mata, semakin memberikan kesan yang mendalam dan tidak ingin dengan mudah dilupakan.

Tapi jika saya berpikir lagi, ternyata saya tetap tidak sabar untuk kembali ke Indonesia. Bertemu dan berkumpul lagi dengan keluarga, mengunjungi teman-teman lama, bertukar cerita dan menebus momen-momen yang terlewatkan selama saya di Britania Raya. Dan pastinya saya sudah kangen berat dengan tahu gimbal, pecel kediri, nasi kucing angkringan, dan pecel ayam plus kol goreng.

Indonesia, tunggu saya kembali.

 

Share This:

Published by

2 Replies to “Gracias y Adiós Birmingham!

Leave a Reply