Dua Mata Saya; yang Kiri dan Kanan

Berawal dari migrain saya yang tiba-tiba kumat, saya merasa yakin lensa kacamata yang saya gunakan sudah tidak sesuai dengan ukuran miopi mata saya, apalagi penglihatan yang semakin mblawur juga membuat saya kehilangan autofokus saat melihat pria-pria ganteng nan bening #eh.

Pagi itu, akhirnya saya melangkahkan kaki menuju RS Jakarta untuk memeriksakan kondisi mata saya. Kenapa gak ke Eye Center seperti di Solo? Alasannya, karena lokasi Jakarta Eye Center di Menteng cukup jauh dari tempat kos-kosan saya, sedangkan RS Jakarta yang juga memiliki polimata di kawasan Semanggi jaraknya cukup terjangkau.

Resep KacamataDengan pecaya diri tingkat dewa karena mengantongi kartu asuransi dari kantor, saya pun mendaftar untuk periksa mata pada dokter spesialis mata. Prosesnya seperti biasa, menyelesaikan urusan administrasi termasuk pendaftaran dan verifikasi anggota ansuransi, mengantre, lalu dipanggil untuk menghadap Sang Dokter Mata.

Di dalam ruangannya, mata saya dites hingga empat kali. Dari cara manual, hingga yang otomatis. Pertama, saya diminta membaca huruf dan angka yang ditempel di dinding sambil menggunakan kacamata yang lensanya terus diganti hingga saya merasa cocok. Setelah itu, tekanan mata saya diukur menggunakan alat yang meniupkan embusan angin pada kedua belah mata.

Langkah ketiga, fokus mata saya diukur menggunakan alat yang seperti komputer. Saya diminta duduk menghadap alat tersebut sambil ‘mengintip’ sebuah lubang yang bergambar pemandangan berwarnah hijau dan sebuah rumah kecil beratap merah di tengahnya. Selanjutnya konsultasi langsung dengan dokter yang bersangkutan.

Pemeriksaan tersebut tak membutuhkan waktu lama, sepertinya kurang dari 10 menit, atau di kisaran tersebut. Kemudian hasilnya pun dapat kita lihat melalui resep optik yang dokter tuliskan. Dan benar saja, ukuran miopi mata saya sudah melenceng dari ukuran lensa kacamata yang saya gunakan, bertambah minus dan silindrisnya.

Setelah semua proses tersebut selesai, saya diminta datang ke kasir untuk menyelesaikan pembayaran. Saat itu, bisa dibilang akhir bulan di mana kondisi finansial agak sedikit kembang-kempis. Dengan kartu asuransi yang saya siapkan, tak ada perasaan kantong bakal terkuras. Namun, perasaan itu tak bertahan lama, setelah petugas kasir di RS Jakarta mengatakan kalau kartu asuransi yang saya gunakan tidak mengcover pemeriksaan mata.

Saat itu akhirnya saya harus merelakan uang sebesar Rp210.000 melayang, dengan rincian Rp150.000 untuk biaya konsultasi dokter dan Rp60.000 untuk biaya tindakan miopis, mungkin maksudnya biaya pemeriksaan mata tadi (padahal biasanya di Solo Eye Center, dengan tidakan yang sama, saya hanya butuh merogoh kocek sebesar Rp140.000, dengan rincian Rp60.000 untuk dokter, dan sisanya untuk obat tetes mata).

Oke baiklah, dalam hati saya mulai mengikhlaskan, toh saya benar-benar butuh pemeriksaan mata tersebut, dari pada selalu dihantui migrain yang selalu datang tiba-tiba dan pada waktu yang tidak tepat. Dengan resep kaca mata di tangan, misi saya selanjutnya adalah mengganti lensa kacamata (dan sekaligus framenya?).

Bersambung…

Share This:

Published by

Leave a Reply