Semua Hal Tentang Jurnalisme Data

Data journalism is a journalism speciality reflecting the increased role that numerical data is used in the production and distribution of information in the digital era. It reflects the increased interaction between content producers (journalist) and several other fields such as design, computer science and statistics. (Wikipedia)

Data-driven Journalism merupakan frasa yang sempat menggelitik jiwa saya pada 2012, saat pertama kali mendengar istilah itu karena seorang kawan mengirimkan link terkait Google yang memberikan beasiswa untuk salah satu cabang dari jurnalistik yang semakin moncer di era digital ini (Data Journalism Scholarship from Google – sekarang sudah ganti jadi Google News Lab Fellowship).

Tampaknya teman saya tersebut cukup memahami saya, karena saya memiliki ketertarikan yang sangat dalam terhadap dunia jurnalistik serta memiliki background di dunia perkomputasian. Ya, data-driven journalism bagaikan ramuan yang sangat cocok bagi minat dan latar belakang pendidikan saya.

Sesungguhnya saya sangat tertarik untuk mengikuti program yang kalau tidak salah (berarti benar) diselenggarakan di Hong Kong tersebut. Namun, karena saat itu saya masih jadi wartawan magang di salah satu harian umum terbesar di Soloraya, maka kesempatan tersebut saya lewatkan begitu saja dan lebih memilih mengasah skill saya di dunia profesional.

images: http://technologytank.org/2013/03/04/all-about-data-journalism/

Semakin lama, gelegar jurnalisme data tersebut semakin terasa di Indonesia, di mana perusahaan-perusahaan media mulai memoles kontennya dengan berbagai macam data dan informasi (biasanya ditampilkan dengan bentuk infografis), sehingga tidak melulu menyajikan berita sekadar teks yang monoton kepada pembaca.

Sebenarnya, selama berkarir sebagai jurnalis di koran ekonomi (terbesar di Indonesia) secara tidak langsung saya telah mengaplikasikan prinsip-prinsip jurnalisme data, yakni mendapatkan data (dan mengolahnya), memahami data, dan mengomunikasikannya kepada pembaca melalui artikel.

Karena, untuk menulis sebuah artikel di koran ekonomi dan bisnis, Si Wartawan minimal harus bisa ‘mendapatkan angka’. Dari angka tersebut baru bisa diolah untuk dicari sudut berita yang paling menarik. Misalnya saja, ketika akan menulis kinerja perusahaan terbuka, kita harus bisa mendapatkan informasi teraktual (misalnya) tentang jumlah pendapatan perusahaan tersebut pada periode waktu tertentu, dan harus dibandingkan dengan kinerja sebelumnya dalam kurun waktu minimal dua tahun ke belakang untuk melihat tren yang terjadi.

Cukup sederhana kalau dilihat, iya sederhana kalau kita hanya ingin menulis tentang kinerja satu perusahaan dengan satu parameter saja. Kekacauan pikiran baru mulai terasa kalau sudah harus melakukan ritual yang bernama ‘rekap emiten’, yakni merekapitulasi semua kinerja perusahaan terbuka yang terdaftar di bursa efek (di mana jumlah terakhir yang saya ikut ada sebanyak 500-an perusahaan) dan membandingkannya dengan kinerja masing-masing perusahaan, masing-masing industri, atau masing-masing konglomerasi selama lima tahun terakhir. *TAMAT*

Ya demikianlah jika mengolah semua data secara manual, alhasil kepala pasti ngebul. Nah, oleh karena itu, kenapa jurnalisme data menggandeng bidang ilmu komputer dan statistik? Fungsinya adalah untuk memudahkan kerja jurnalis, serta untuk mendapatkan ‘hasil’ yang lebih presisi dengan bantuan algoritma, teori statistika, rumus dan perangkat lunak.

Sebenarnya cakupan jurnalisme data sangat luas, dan banyak hal yang bisa diulik terkait ‘bidang ini’, saya jadi merasa tertantang untuk tercebur lebih dalam mempelajari hal tersebut. Misalnya saja, jurnalisme data secara langsung berhubungan dengan intelligent data analysis, data visualisation (termasuk infografis), dan pastinya juga berhubungan dengan konsep-konsep jurnalistik sendiri, serta secara teknis terkait pada masalah komputasi/pemrograman.

Meskipun ada beberapa mata kuliah yang sedang saya ambil berhubungan dengan hal-hal yang saya sebut di atas, saya tetap perlu mendalami ‘jurnalisme data’-nya secara otodidak karena hal itu tidak dipelajari di program magister Computer Science (yaiyalah).

Oleh sebab itulah, kenapa saya menulis curhatan ini adalah sebagai langkah awal untuk mulai fokus belajar jurnalisme data. Saya akan banyak berbagi sumber untuk belajar jurnalisme data mulai dari prinsip, teknik, sejarah dan evolusi, hingga perangkat yang bisa digunakan dalam mengolah data. Pokoknya semua hal yang berhubungan dengan jurnalisme data/data journalism akan saya dokumentasikan di bawah kategori Data Journalism.

Jadi buat teman-teman semua yang tertarik untuk ikut mempelajari dan mendalami jurnalisme data, jangan segan-segan untuk memanfaatkan semua sumber yang saya bagikan di sini. Terima kasih 🙂

Share This:

Published by

2 Replies to “Semua Hal Tentang Jurnalisme Data

Leave a Reply