Berdaya Melalui Tenun Toraja

Puluhan perempuan setengah baya menari dan bergembira meskipun gerimis menyapa tanah Toraja saat matahari mulai tergelincir ke barat pada Sabtu (20/2/2016). Mereka bersyukur dan merayakan terbentuknya Koperasi Serba Usaha Sa’dan Siangkaran melalui Pesta Tenun Sa’dan.

Koperasi perempuan pertama di Toraja tersebut diresmikan sejak pertengahan tahun lalu dan menjadi harapan baru bagi penenun perempuan di Toraja untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, sekaligus melestarikan warisan tenun leluhur yang hampir punah.

Pembentukan koperasi tersebut tanpa kesertamertaan, perlu proses yang panjang dan memakan waktu lebih dari sewindu hingga para perempuan pewaris kebudayaan tersebut sadar akan berharganya tenun Toraja.

02-21-tenun torajaMeri Pagappong, perempuan yang didaulat sebagai Ketua KSU Sa’dan Siangkaran tersebut bercerita sekitar 10 tahun yang lalu perempuan yang melanjutkan tradisi menenun di daerah To’barana, Sa’dan, Toraja Utara bisa dihitung dengan jari. Hanya perempuan-perempuan lanjut usia dan beberapa perempuan paruh baya yang masih menenun di sela-sela kegiatan mereka.

“Dulu sangat jarang perempuan yang menenun, karena proses pembuatannya membutuhkan waktu yang lama tetapi harga jualnya yang rendah,” kenangnya.

Karena itulah, tidak banyak generasi muda yang berniat untuk menenun. Apalagi, saat itu kain Toraja tersebut ternyata tidak memiliki pamor yang tinggi di kalangan masyarakatnya sendiri, mereka enggan untuk mengenakan tenun dan lebih memilih menggunakan bahan-bahan yang lebih populer dan murah.

02-21-tenun toraja 2

Potret suram tersebut akhirnya mulai menemukan cahaya, saat Yayasan Torajamelo mulai melihat fenomena menyedihkan tersebut dan mencoba untuk memperbaikinya melalui berbagai macam pelatihan yang dilakukan sejak 2008.

“Pada 2008 saya berencana menikmati masa pensiun di kampung halaman suami di Toraja, saat itu saya malah melihat banyak tenun Toraja yang tidak terurus padahal memiliki keindahan. Sejak saat itu saya tergugah untuk melestarikan tenun Toraja sambil memberdayakan para perempuan penenun,” papar Dinny Jusuf, Inisiator Torajamelo yang juga aktivis perempuan.

Dinny kemudian mulai memetakan potensi tenun yang dimiliki daerah Sa’dan, mendata siapa saja para penenun perempuan yang masih aktif dan melakukan pendekatan dan pengarahan kepada para perempuan-perempuan lainnya untuk mulai belajar menenun.

Akhirnya, mulai terbentuk beberapa kelompok penenun yang saling membantu untuk memproduksi kain-kain tenun dengan arahan dari tim Torajamelo yang memberikan masukan terkait warna-warna dan desain tenun yang sesuai dengan selera pasar. Setiap kain tenun buatan para penenun tersebut kemudian diserap oleh Torajamelo untuk dimodifikasi menjadi produk-produk fesyen yang berkualitas, bernilai tinggi dan diterima pasar internasional.

Usaha pelestarian dan peningkatan kesejahteran para penenun yang dilakukan Dinny mulai berjalan kencang dengan dukungan PT Bank Negara Indonesia (BNI) melalui program bina lingkungan. Dalam tiga tahun terakhir BNI telah mengucurkan dana hingga Rp1,5 miliar untuk membantu pengembangan komunitas perempuan penenun Toraja melalui berbagai pelatihan dan pendampingan.

“BNI telah berkolaborasi dengan Torajamelo selama tiga tahun terakhir. Kami berusaha mengembangkan budaya tenun tradisional Toraja untuk meningkatkan kesejahteraan para perempuan penenun di area pedesaan Indonesia sekaligus melestarikan seni dan budaya tenun khususnya di Tana Toraja,” ujar Corporare Secretary BNI Suhardi Petrus.

Setelah beberapa tahun melalui jalan panjang, kain tenun Toraja saat ini telah dikenal luas. Para perempuan penenun juga semakin bertambah jumlahnya dan berasal dari berbagai kalangan, tak hanya perempuan yang berumur, tetapi para generasi muda Sa’dan pun mulai mencintai warisan leluhur mereka.

Sekarang, setidaknya ada tujuh kelompok yang terdiri atas 120 perempuan yang aktif menenun. Saat ini, para penenun perempuan di Sa’dan mampu mendapatkan penghasilan sekitar Rp2 juta-Rp3 juta per bulan dengan menjual hasil tenunannya. Angka tersebut jauh lebih tinggi dari sebelumnya yang tidak berpenghasilan sama sekali.

 

*tulisan ini telah diterbitkan di Harian Bisnis Indonesia edisi Senin (22/2/2016)

Share This:

Published by

Leave a Reply