Beneran Mau Nikah, nih? Yakin 100%?

Percakapan kami berawal di sebuah kafe berkonsep jadul di bilangan Cikini. Mulanya sekadar saling sapa karena harus menyelesaikan beberapa tugas menjelang tenggat. Tak banyak yang diobrolkan dan sebab berkutat dengan layar laptop masing-masing.

“Menikah itu penting, tapi tidak harus,” katanya sambil berseloroh di tengah-tengah keseriusannya menulis artikel.

Entah ada angin apa, tiba-tiba dia bisa mengeluarkan kalimat yang kedengarannya penuh makna tersebut. Mungkin kepulan asap rokok yang menggumpal di ruangan agak panas itu membuat mesin pikirnya sedikit macet.

Atau, bisa jadi sebenarnya itu merupakan ungkapan dari lubuk hatinya yang paling dalam. Akumulasi dari perhitungan dan perasaannya setelah lebih dari tujuh tahun berpacaran tetapi tak kunjung dinikahi.

Sepenggal kalimat itu berhasil menghentikan sementara aktivitas kami masing-masing. Saya memandang wajahnya sekilas, mencari apakah ada raut usil di air mukanya. Ternyata tidak, giliran dahi saya yang mengernyit saat mencoba mengartikan maksudnya, dan sesaat kemudian saya mengamini ucapan itu.

Naolito/Deviantart
Naolito/Deviantart

 

Beberapa belas menit selanjutnya, kami berdua telah menyelesaikan tugas masing-masing. Obrolan pun akhirnya dibuka langsung membahas topik yang sudah lompat dari mulutnya.

Saya bilang, kalau saya sepakat dengan pendapatnya. Menikah memang penting bahkan sangat penting. Apalagi bagi Muslim, menikah merupakan salah satu sunnah rasul yang sebisa mungkin diteladani.

Selain katanya untuk menyempurnakan sebagian iman, menikah juga merupakan kebutuhan rohani dan jasmani. Untuk melengkapi segala kekurangan diri dan memproduksi keturunan.

Lantas, apakah manusia benar-benar harus menikah? Bukankah jika tujuannya hanya untuk mendapatkan teman saat menjalani hidup dan mendapatkan keturunan, hal itu bisa didapatkan tanpa harus menikah?

Sampai pada poin itu dan hingga saat ini, saya belum benar-benar menemukan alasan yang kuat tentang mengapa manusia harus menikah. Hal itu juga yang mungkin memengaruhi saya sehingga agak malas-malasan berburu jodoh.

Obrolan kami ternyata semakin memanas, hingga akhirnya memutuskan untuk berpindah lokasi dan mencari udara segar. Lesehan di Taman Ismail Marzuki menjadi pilihan kami untuk melanjutkan pembicaraan.

Di antara sepoi angin yang berhembus, teman saya angkat bicara. Dia berpendapat bahwa sepenting-pentingnya menikah, manusia masih bisa memilih ya atau tidak. Tentunya, setiap pilihan tersebut harus diambil dengan pertimbangan yang matang.

Jika memilih untuk menikah, harus dipastikan itu telah dipilih dengan kesadaran 100%. Bukan didasarkan karena dorongan keluarga, misalnya, atau karena merasa berkompetisi dengan rekan-rekan seangkatan yang satu per satu sudah dipajang di pelaminan.

Begitu pula bagi yang memutuskan untuk tidak menikah. Harus digarisbawahi kalau pilihan ini sebaiknya diambil bukan karena terpaksa atau karena tidak laku. Kalau dalam hati masih ada perasaan ingin menikah, sudah pasti pilihan ini akan menjadi sumber kegalauan hingga akhir hayat.

Sambil menikmati segelas es teh manis, saya jadi teringat suatu ketika sekitar lima atau enam tahun yang lalu. Saat sedang galau memikirkan masalah pernikahan ini, saya iseng bertanya melalui twitter kepada Gus Mus tentang topik yang tampaknya menjadi persoalan paling besar di abad ini.

Saya tanya, bagaimana hukumnya bila seseorang memutuskan untuk tidak menikah? Gus Mus membalas mention saya, dan menulis: “Tidak apa-apa, yang penting tidak mengingkari hal tersebut sebagai sunah rasul.”

Sejak membaca penjelasan itu, dan mencari referensi lainnya, saya sedikit lega, karena ternyata hukum menikah itu sebenarnya tidak wajib, tapi sunah atau mubah. Itu berarti kewajiban saya sebagai muslim tidak bertambah.

Bukan, bukan berarti saya tidak setuju akan pernikahan dan tidak akan menikah. Hanya saja, sampai sekarang saya belum menemukan urgensi menikah untuk hidup saya. Toh hidup saya sekarang saya bahagia, bisa memenuhi kebutuhan pribadi saya sendiri, dan tidak terburu-buru untuk melepaskan hasrat biologis.

Menurut hemat saya, urusan menikah jangan sekali pun dijadikan sebagai sebuah beban yang membuat hati risau. Perlu dicamkan, menikah atau tidak menikah itu bukan urusan paling genting di dunia ini. Teman ngobrol saya mengangguk dengan mantap, mengiyakan pendapat saya.

Ada rasa sedikit miris kalau melihat rekan-rekan seumuran saya menggalau karena tak kunjung menemukan pasangan hidup. Mereka bilang sudah bosan ditanya kapan nikah atau diinterogasi pacarnya mana, dan segala jenis pertanyaan wajib lainnya yang biasanya diajukan saat Lebaran.

Padahal, daripada hanya menggalau, mendingan melakukan sesuatu yang lebih bermanfaat. Misalnya bersosialiasi, aktif dalam berbagai kegiatan dan komunitas sosial, pergi ke majlis taklim, atau nonton konser rame-rame. Siapa tahu saja, dari sana mereka bisa ketemu jodoh.

Namun, di sisi lain, saya mengacungkan dua jempol bagi rekan-rekan saya yang sudah mantap dan memutuskan untuk menikah. Saya nilai mereka merupakan orang yang pemberani. Berani untuk memasuki fase kehidupan baru, di mana segala kesenangan saat masih bujang tidak akan bisa ditemukan lagi.

Bisa jadi mereka memang sedang mencoba untuk menaklukan tantangan baru, melepaskan diri dari zona nyaman yang sudah mereka rasakan ketika hidup tanpa beban, dan sekarang berusaha naik level dengan menciptakan keluarga yang bahagia.

Nah, untuk bagian ini saya mengaku merasa seperti jadi pecundang. Saya belum berani mengalahkan ketakutan saya terhadap berbagai bayangan negatif yang muncul di kepala saya. Saat memikirkan pernikahan, yang terbayang adalah saya harus hidup dengan orang yang sama hingga akhir hayat. Ah sepertinya akan membosankan!

Dua jam telah berlalu, lesehan semakin ramai. Banyak anak muda yang nongkrong dan mengobrol dengan seru. Suara perbincangan kami sudah tidak sejelas waktu pertama kali duduk di alas spanduk. Kami rasa sudah waktunya mengakhiri pembicaraan absurd yang sedikit bermakna malam itu.

Tidak ada kesimpulan akhir yang kami ambil dari obrolan tersebut, tetapi ada satu hal yang hampir pasti, yaitu kalau kami ditanya kapan nikah, jawabannya hanya satu: “kapan-kapan” sambil menyunggingkan senyum paling manis yang kami punyai.

Share This:

Published by

2 Replies to “Beneran Mau Nikah, nih? Yakin 100%?

  1. “Lantas, apakah manusia benar-benar harus menikah? Bukankah jika tujuannya hanya untuk mendapatkan teman saat menjalani hidup dan mendapatkan keturunan, hal itu bisa didapatkan tanpa harus menikah?” yoo jelas to yaa.. kalo mendapatkan keturunan itu kawin. #ups

    faktor menikah juga bisa dari lingkungan dan pergaulan.

Leave a Reply