Apa yang Saya Dapatkan dari Sekolah di Luar Negeri?

Semenjak menyelesaikan studi magister di Inggris dan kembali ke Indonesia, banyak rekan-rekan yang bertanya tentang pengalaman hidup di Inggris dan apa saja yang saya dapatkan selama satu tahun belajar di University of Birmingham.

Jika boleh jujur, saya merasa kebingungan untuk menjawab hal-hal tersebut. Pasalnya, saya merasa kehidupan saya di Inggris tidak begitu wow dan tidak penuh perjuangan seperti rekan-rekan yang lain. Bisa dibilang flat atau biasa-biasa saja, jadi rasanya tidak akan menarik untuk diceritakan.

Namun, rekan saya tetap memaksa agar saya bisa menceritakan apa saja yang menurut saya menarik, karena katanya tidak mungkin hidup setahun di luar negeri dan tidak mendapatkan apa-apa. Akhirnya, saya pun memutar ingatan dan mencoba mencomot apa-apa saja yang bisa didramatisasi agar jadi cerita yang menarik.

 

Sistem Pendidikan

Narasi yang selalu saya bangun adalah bahwa saya tidak mendapatkan ilmu apa-apa di bangku kuliah. Semua yang saya pelajari di kelas bisa ditemukan dengan mudah di kelas-kelas online gratisan yang tersebar di Internet. Bahkan, jika sekarang saya ditanyai hal-hal yang berkaitan dengan bidang keilmuan program magister saya, kemungkinan besar jawaban saya cuma geleng-geleng kepala. Kemudian, saya mencoba membandingkan sistem pendidikan di kampus Inggris dengan sistem pendidikan yang saya dapatkan waktu kuliah S1 di Indonesia.

Hal yang paling terasa berbeda adalah posisi dosen dan mahasiswa yang sejajar. Egaliter. Serta para akademisi yang tidak direpotkan dengan hal-hal keformalan. Dosen, mahasiswa boleh ke kelas dengan menggunakan kaos dan celana training. Saya punya dosen favorit, namanya Peter Tino, dia profesor di Intelligent Data Analysis. Sepanjang ingatan saya, dia selalu pakai kaos oblong ke kelas, dan beberapa kali menggunakan celana pendek dan sepatu trainer. Kelasnya yang berada di ruang teater selalu penuh, dan dia selalu menjelaskan materi secara sabar, runtut dan telaten.

Dosen sangat terbuka untuk diajak diskusi, bahkan mereka menyediakan waktu khusus dalam setiap pekannya agar mahasiswa bisa mengetuk pintu ruangannya dan bertanya tentang materi kuliah yang tidak dimengertinya, atau diskusi via surel juga sangat diterima. Pokoknya, atmosfir yang terbangun adalah memungkinkan mahasiswa untuk tidak segan dalam menyampaikan pendapat dan pertanyaan.

Kedua, hal lain yang mencolok adalah soal fasilitas. Ehem. Kayanya kalau ini memang tidak mudah untuk diperdebatkan. Selama kuliah di University of Birmingham, setiap mahasiswa aktif memiliki akses tidak terbatas pada jurnal-jurnal internasional. Koneksi internet yang super kencang juga menjadi nilai tambah dan memudahkan kami untuk mengakses bahan-bahan pelajaran. File sebesar apapun bisa diunduh dalam hitungan detik. Menonton video kuliah pun bebas buffering dan ini penting bagi mahasiswa seperti saya yang enggak cukup sekali dengar agar paham materi yang disampaikan. Untungnya, setiap perkuliahan di kelas direkam, sehingga semua mahasiswa bisa mengunjungi lagi penjelasan dosen jika ada yang kurang jelas setelah keluar dari kelas.

Selain itu, akses perpustakaan kampus yang 24 jam merupakan berlian di antara tumpukan emas. Saya selalu bangga menceritakan bagaimana saya selalu menginap di perpustakaan kampus, bahkan punya rekor menghabiskan waktu lebih dari 48 jam nonstop di perpustakaan untuk menyelesaikan tugas yang dikejar tenggat. Selama bergadang di perpustakaan pun saya tidak pernah sendirian, karena banyak mahasiswa lain yang juga memaksimalkan fasilitas kampus ini.

Selanjutnya, menurut saya, konsep pendidikan di Inggris lebih menjunjung tinggi pemahaman ketimbang teknis dan hasil akhir. Hal ini dibuktikan dengan bagaimana perlakuan departemen saya (School of Computer Science) terhadap tugas akhir/disertasi. Sepengetahuan saya, mereka tidak menuntut mahasiswa untuk menyelesaikan proyeknya dengan sukses. Maksudnya, selama mahasiswa bisa mendapatkan sesuatu yang bisa dipahami saat mengerjakan tugas akhirnya, itu sudah cukup. Tapi dengan catatan, nilai yang didapatkan akan sekadarnya.

Saya jadi ingat waktu project inspection, saat itu saya mempresentasikan kemajuan tugas akhir yang saya kerjakan dalam 1,5 bulan. Dosen ‘penguji’ saya menyatakan bahwa proyek saya cukup ambisius untuk diselesaikan dalam waktu yang singkat. Dia bilang, bukan berarti mematahkan semangat saya, tetapi semuanya memang harus realistis. Dia melanjutkan, jika memang kemudian saya tidak berhasil menyelesaikan proyek saya tepat waktu, saya cukup menjelaskan dalam laporan saya kenapa kemudian saya tidak dapat menyelesaikannya, kendala apa saja yang saya dapatkan, dan bagaimana menurut saya hal tersebut bisa diantisipasi. Intinya, laporan proyek itu harus memuat hal-hal apa yang saya dapatkan, meskipun hasil akhirnya tidak sesuai dengan yang diharapkan. Tapi, untungnya saya bisa menyelesaikan proyek tugas akhir dengan hasil yang cukup memuaskan.

Bahkan, pada saat demo and presentation (ini tahap akhir sebelum submit laporan dan penilaian atau semacam sidang tesis kalau di Indonesia), dosen penguji saya tidak menguji dengan pertanyaan-pertanyaan yang intimidatif, mereka malah mengajak berdiskusi tentang apa yang saya temukan, dan memberikan saya masukan tentang apa yang sebaiknya saya lakukan agar nilai saya lebih maksimal. Ujiannya pun tidak dilakukan di kelas dan disidang seperti terdakwa, melainkan kami (saya dan dua dosen penguji) sama-sama duduk di satu meja di communal room.

Kehidupan Sehari-hari

Kalau berbicara tentang kehidupan sehari-hari, terutama bagi muslim yang tinggal di negara ‘kafir’, Birmingham tidak memberikan pengalaman yang dramatis. Pasalnya, 44% dari populasinya adalah imigran dan 21% dari total penduduknya merupakan muslim. Hal itu membuat fasilitas untuk muslim dengan mudah ditemukan. Ada masjid, tempat salat di tempat-tempat umum, bahkan makanan halal pun banyak dijajakan. Ya, jadi memang tidak menantang hidup di Birmingham, tidak seperti orang-orang yang tinggal di kota yang populasi muslimnya benar-benar minoritas.

Meskipun demikian, tinggal di luar negeri membuat saya dapat berinteraksi dengan berbagai macam manusia yang berasal dari berbagai belahan dunia. Hal ini membuat pengetahuan saya bertambah dan pemahaman saya terhadap berbagai hal sedikit banyak berubah. Saya memiliki teman dari China hingga Urugay, dari Karachi hingga New York. Saya berkesempatan untuk berinteraksi dan berdiskusi dengan orang ateis, agnostik, komunis(?), dan lain-lain. Pokoknya semua jenis manusia yang tidak bisa ditemukan di Indonesia bisa di temukan di benua biru. Dari hasil interaksi itu, saya belajar untuk tidak mudah melabeli orang dengan prasangka, karena misalnya orang-orang ateis yang pernah saya anggap biadab, nyatanya mereka sangat peduli pada lingkungan, orang agnostik yang awalnya saya duga bajingan yang tidak beragama, nyatanya lebih relijius dan peduli terhadap sesamanya. Saya jadi melihat dunia tidak hanya hitam dan putih.

Saya juga jadi mempertanyakan kembali apa-apa yang pernah saya yakini. Pertanyaan-pertanyaan tentang Islam yang dilontarkan oleh rekan-rekan saya pun membuat saya harus belajar lagi, dan memaksa saya membaca banyak referensi demi menemukan jawabannya. Hal ini rasanya tidak akan pernah saya lakukan jika saya hanya tinggal di Indonesia, karena saya sudah merasa puas dengan Islam dan keilmuannya yang saya pelajari selama ini dan tidak akan ada orang yang bertanya mengenai hal itu.

Di sisi lain, kemajuan peradaban di luar negeri juga berhasil membuat saya mengimplemetasikan kebiasaan-kebiasaan baik, seperti malu untuk membuang sampah sembarangan, menaati peraturan lalu lintas, menghargai privasi orang lain, membawa tas belanja sendiri untuk meminimalisasi penggunaan kantong plastik, tidak segan mengucapkan maaf dan terima kasih, dan selalu mencoba menekan jumlah sampah makanan dengan mengambil makanan secukupnya dan menghabiskan semua yang ada di piring.

Mungkin banyak anggapan bahwa orang yang pulang dari sekolah di luar negeri akan menjadi liberal dan lebih banyak mengeluh dan mencerca saat kembali ke Indonesia, karena menemukan cuaca yang lebih panas, jalanan yang macet, tingkat polusi yang tinggi, hingga budaya antre yang sangat kacau. Tidak bisa dipungkiri, saya pun merasakan hal tersebut dan sempat ‘jet lag’ atau ‘reverse culture shock’, tapi bagi saya yang memang belajar untuk tidak mengeluh sejak lama, melihat hal tersebut bukan sebuah masalah, tapi malah menjadi tantangan agar saya bisa berkontribusi untuk memecahkan hal tersebut.

Saya juga yakin, tujuan LPDP mengirimkan banyak mahasiswa ke luar negeri bukan hanya untuk agar kami pintar karena belajar dan mendapatkan kualitas pendidikan yang lebih baik, tetapi agar kami bisa lebih berempati dan melihat masalah dari akarnya, serta berusaha untuk memecahkannya. Menurut hemat saya, akan sangat berbeda seseorang yang melihat permasalah di Indonesia dari dalam Indonesia, dan melihat Indonesia dari luar Indonesia. Perbedaan perspektif itulah yang kemudian diharapkan dapat dikolaborasikan untuk membangun Indonesia menjadi negeri dan bangsa yang lebih baik di masa depan.

Jadi, kurang lebih itulah apa-apa yang saya dapatkan selama kuliah di Inggris, ya sebenarnya masih banyak yang lainnya juga, tapi rasanya yang bagian itu cukup ditinggal di Birmingham saja dan tidak perlu diceritakan ke banyak orang ;).

Demikian.

Yogyakarta, 24 Februari 2018

 

2 Comments

tiaralaksmi February 25, 2018 Reply

Di balik ke atheisan, agnostikan dan orientasi nya, mereka berbuat baik karena hal itu adalah yang wajar dan seharusnya dilakukan, bukan untuk mengharap pahala ataupun mengharap …..ya gitu dehhh

Nenden February 25, 2018 Reply

ahahahay, bener nih, dan mereka jadinya cenderung lebih tulus dan ikhlas, ketimbang orang-orang yang perhitungan soal pahala dan imbalan :p

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.