Ada yang Tau Apa Tugas Wartawan? (Catatan Kelas Inspirasi Makassar 4)

“Anak-anak, ada yang tahu apa tugas seorang wartawan? Apa saja sih kerjanya?”

Kemudian, mereka mengangkat tangan dan ramai-ramai menjawab: “Mewawancarai, Bu!”, “Bertanya!”, “Membuat koran!”, “Baca berita”, dan jawaban lainnya yang beragam.

***

Menjelaskan sesuatu dan berbicara di depan orang banyak bisa dibilang bukan hal baru bagi saya. Sejak aktif di berbagai organisasi kemahasiswaan dan komunitas, memaksa saya untuk percaya diri dan menguasi kemampuan berbicara di depan umum.

Tetapi, entah kenapa, pada awal Maret 2016, saya merasa sangat gugup dan grogi ketika harus menghadapi banyak kepala. Ya, soalnya yang dihadapi saat itu bukan para mahasiswa atau bapak-ibu, melainkan bocah-bocah SD yang baru dibayangkan saja rasanya sudah bikin sesak nafas.

Saat itu, saya mengajukan diri untuk menjadi relawan pengajar dalam program Kelas Inspirasi Makassar 4. Tugasnya adalah memperkenalkan profesi yang saya jalani kepada anak-anak seusia SD, sehingga mereka bisa terinspirasi dan bersemangat untuk melanjutkan pendidikannya hingga jenjang tertinggi.

Jujur, ini bukan pengalaman pertama mengajar di kelas, tetapi kalau urusan menghadapi anak-anak kecil, ini merupakan tantangan yang sangat berat. Terutama, sejak dulu saya tidak pernah ‘akur’ dengan anak-anak. Entahlah, mungkin karena saya merasa ‘membenci’ mereka, para anak-anak yang memanfaatkan kepolosan mereka untuk berbuat semaunya.

Nah, karena ini kali pertama saya ikut Kelas Inspirasi, sedikit banyak membuat saya grogi dan tertekan, sehingga membutuhkan persiapan yang cukup banyak untuk menghadapi Hari Inspirasi pada Senin, 7 Maret 2016. Apalagi, saya belum memiliki bayangan materi seperti apa yang harus sampaikan mengenai profesi wartawan.

Setelah mencari ilham dan hidayah hingga ke gunung dan gua, akhirnya saya terpikir untuk membuat alat peraga yang berhubungan dengan profesi wartawan. Yang terbayang saat itu adalah dengan membuat dummy kamera, kartu identitas wartawan, buku catatan, sound recorder, dan microphone. Meskipun, dalam kenyataannya wartawan media cetak seperti saya sudah jarang menggunakan alat tersebut, dan hanya membutuhkan sejumput Blackberry untuk bekerja.

Untuk membuat alat peraga itu, saya mengambil gambar kamera DSLR, microphone dan recorder dari internet, juga membuat desain sederhana untuk kartu pers. Semua gambar tersebut saya cetak dalam kertas tebal. Selembar kertas A4 bisa digunakan untuk mencetak dua buah dummy kamera, dan untuk alat lainnya bisa disesuaikan ukurannya.

Setelah dicetak dan digunting sesuai bentuk, dummy kamera dan kartu pers saya lengkapi dengan tali, sehingga bisa digantung di leher. Sedangkan peralatan lainnya tidak perlu ditambahkan apa-apa, cukup disiapkan agar tidak tercecer.

Alat peraga profesi wartawan Kelas Inspirasi
Alat peraga profesi wartawan di Kelas Inspirasi

Dengan adanya alat peraga tersebut, saya jadi terpikir untuk membagi siswa di kelas dengan berbagai tugas, ada yang menjadi wartawan foto, penulis berita, dan pewawancara. Setelah memberikan penjelasan sedikit tentang tugas seorang wartawan di lapangan, saya akan meminta mereka untuk mempraktikannya di dalam kelas.

Sementara itu, dalam penyampaian materi, saya memulainya dengan menyajikan beberapa gambar yang berhubungan dengan tugas wartawan di lapangan, dan meminta para siswa untuk menebak apa sebenarnya profesi yang saya geluti dan akan diperkenalkan kepada mereka.

143159_large
foto: Arif Julianto/Okezone

Beberapa hal lainnya juga sudah terbayang dalam benak saya, tentang apa yang harus saya lakukan untuk ‘menaklukan’ para bocah dan untuk mengendalikan kelas. Materi ice breaking yang diperkenalkan saat briefing volunteer Kelas Inspirasi Makassar sedikit banyak bisa ikut membantu dalam hal ini.

Hari Inspirasi yang dinantikan pun akhirnya datang. Dengan semangat ’45, saya dan rekan-rekan relawan lainnya sampai ke MI Al-Hidayah lebih cepat dibanding para guru dan muridnya. Sebelum mulai mengajar di kelas, kami mengawali kegiatan pagi di pagi yang cerah itu dengan upacara bendera.

Kurang dari sejam kemudian, ‘peperangan’ pun dimulai! Saya kebagian mengajar pertama kali di kelas 3. Karena siswa di kelas ini masih cukup kecil-kecil, mereka terbilang cukup mudah untuk ditundukan. (Puji Tuhan!). Tetapi, rasa syukur tersebut tidak berlangsung lama, karena tantangan semakin meningkat sejalan dengan semakin tingginya kelas yang saya ajar.

Secara keseluruhan, anak-anak di MI Al-Hidayah cukup antusias mendengarkan materi yang saya sampaikan, apalagi setelah alat peraga saya keluarkan dan dibagikan kepada mereka. Banyak yang berebut untuk mendapatkan peran sebagai fotografer, juga pewawancara.

Sebelum mereka praktik menjadi wartawan, mereka saya berikan penjelasan secara singkat bahwa tugas wartawan itu mencari informasi, mewawancarai orang terkenal, serta menulis berita. Mereka saya minta untuk berlatih mengajukan pertanyaan, apapun, dengan menunjuk salah satu rekan mereka untuk maju ke depan dan berpura-pura menjadi tokoh idola mereka. (Ada yang jadi Rio Hariyanto, Evan Dimas, hingga Jokowi!).

Setelah beberapa orang mengajukan pertanyaan, akhirnya semua anak saya minta maju ke depan dan berperan sesuai dengan alat peraganya. Saya pun meminta salah satu rekan relawan pengajar yang saat itu sedang tidak bertugas untuk menjadi narasumber dan diwawancarai para wartawan ‘cilik’.

Setelah beberapa menit mereka mengerubungi narasumber dan mengajukan berbagai pertanyaan, kelas pun hampir selesai. Saya meminta mereka untuk kembali duduk di bangkunya masing-masing, dan menceritakan pengalaman mereka menjadi seorang wartawan. Ada yang bilang sulit, pertanyaannya tidak dijawab, menyenangkan, dsb.

_KIM4i

Dan, jatah waktu 25 menit pun habis tak terasa! Ya, mengajar anak-anak SD memang sangat-sangat-sangat melelahkan. Kita harus bisa kreatif demi menarik perhatian mereka dan memastikan materi yang diberikan sampai kepada mereka dengan mudah. Apalagi, ada beberapa kelas yang memaksa saya untuk berteriak-teriak hanya supaya diperhatikan. Hvft.

Meskipun demikian, saya merasakan banyak pengalaman baru dalam menghadapi para generasi penerus bangsa itu, dan rasa hormat saya kepada orang-orang yang mengabdikan dirinya menjadi pendidikan dan pengajar semakin tinggi. Selain itu, harapan kepada pendidikan yang berkualitas bagi semua masyarakat juga semakin besar.

Benar kata Anies Baswedan, kita harus ambil bagian untuk melunasi janji kemerdekaan dengan ikut mencerdaskan kehidupan bangsa. Ikut andil dalam kegiatan seperti Kelas Inspirasi ini hanya sebagian kecil dari peran yang bisa diambil. Masih banyak cara lain yang bisa dilakukan untuk ikut mendorong perbaikan pendidikan di Indonesia.

Terima kasih banyak atas kesempatan dan pengalamannya Kelas Inspirasi Makassar 4.

Sehari Mengajar Selamanya Menginspirasi”

 

Share This:

Published by

Leave a Reply