Random Thoughts

Hai, aku menulis lagi

Hai, setelah sekian lama, akhirnya aku membulatkan tekad untuk menulis lagi. Banyak hal yang terjadi belakangan ini, di duniaku dan di dunia ini. Bahkan, pada tahun yang belum genap seperempatnya kita lewati, sudah terlalu banyak hal yang bisa membuat kita terdiam.

Diam karena tidak tahu. Tidak tahu harus berbuat apa di tengah terlalu banyaknya kabar buruk, bahkan tidak tahu apakah esok hari saat membuka mata kita masih akan melihat kehidupan.

Oh ya, sebelum lanjut menulis panjang lebar, bagi kalian atau siapa saja yang tidak sengaja membaca tulisan (yang sebagian besar adalah unek-unek) ini, aku mau minta maaf kalau sekiranya kalian pusing dan bingung membaca tulisan ini karena loncat-loncat, tidak konsisten, tidak terstruktur, atau susunan kalimat yang mungkin terbolak-balik atau bahkan tidak lengkap.

Keputusan untuk meninggalkan dunia profesional yang berhubungan dengan tulis menulis ternyata tidak berbuah baik. Niat awal yang ingin menjadikan menulis hanya sebagai hobi dan sebagai tempat pelarian, nyatanya tidak sesuai ekspektasi. Kemalasan dan kesoksibukan, malah membuatku jadi tidak menulis sama sekali. Hasilnya, sudah bisa diduga, kemampuan menulisku yang selama ini masih pas-pasan, jadinya semakin pudar. Bahkan tulisanku di Twitter saja bikin pusing sendiri kalau dibaca-baca lagi.

Nah, selain tulisanku yang semakin hancur, hal lain yang baru adalah, sekarang aku berusia 30 tahun! Yeay! Usia yang kutunggu-tunggu, karena konon hidup perempuan sebenarnya itu dimulai pada usia kepala tiga. Benar atau tidak, yang penting aku sangat semangat menjalani dekade baru dalam hidupku. Walapun tidak punya banyak rencana, tapi keinginan untuk menjadikan perjalanan hidup kali ini sebagai maraton tetap ada.

Aku selalu membayangkan momentum tersebut akan dirayakan dengan gembira, sayangnya, seperti biasanya, ekspektasi tidak selalu selaras dengan realita. Dekade baru ini ternyata harus diawali dengan langkah yang tidak mulus. Mulai dari patah hati karena menyukai orang yang terlalu baik buatku (pas nulis ini saja sambil mendengarkan playlist Broken Heart di Spotify hehe), kondisi keuangan yang sukses bikin degdegan untuk pertama kalinya dalam 6-7 tahun terakhir, hingga pendemi Covid-19 yang bikin murung seluruh bumi.

Meski demikian, aku tetap beruntung karena punya sedikit modal untuk menghadapi itu semua. Kesadaran bahwa segala hal yang terjadi di dunia dan kehidupan ini hanya sementara (anicca), membuatku tahu bahwa this too shall pass. Jadi, ya dinikmati saja setiap momentumnya sebelum akan berganti dengan momen yang lainnya. Toh, Tuhan tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya, bukan demikian?

Omong-omong soal wabah Covid-19, aku bersyukur jadi orang yang punya privilese untuk bisa menjaga diri dengan bekerja dari rumah, walaupun kegiatan itu memang sudah sering kulakukan sejak menjadi pekerja serabutan. Selain bisa bersyukur, rasanya aku jadi sangat cuek atas isu ini. Aku sengaja tidak mengikuti berita terbaru, bahkan tidak tahu berapa jumlah pasien positif, pasien sembuh dan yang meninggal karena Covid-19. Jujur, hal itu malah membuatku lebih tenang, yang penting aku tetap mematuhi protokol keamanan yang dianjurkan oleh WHO.

Kalau ikut ala-ala filsafat Stoa, kondisi dan isu terkini soal wabah Covid-19 adalah hal di luar kendali kita, jadi ya tidak perlu banyak dipikirkan, tetapi yang harus kita pastikan adalah apa-apa yang bisa kita kendalikan, yaitu seperti bagaimana kita harus menjaga sesama dengan physical distancing, rajin mencuci tangan, dan melakukan prosedur lainnya yang bisa kita lakukan.

Karena itulah, aku pun melakukan swakarantina, dan saat menulis ini hampir menyelesaikan hari ketigabelas, dan senang sekali tidak mengalami gejala-gejala yang banyak dialami pasien positif Covid-19. Selain itu, seperti blessing in disguise, swakarantina ini membikin aku kreatif dan produktif, salah satunya membuatku harus menyentuh kegiatan yang selama ini paling enggan kulakukan: memasak (nanti aku akan menulis khusus soal ini). Aku yakin, kalau tidak ada Covid-19 dan tidak perlu swakarantina, aku tidak akan pernah mendekati urusan dapur itu. Kalimat selalu ada hikmah dalam setiap kejadian, rasanya jadi sangat benar.

Oh ya, ada hal lain yang kusadari semenjak tidak pernah menulis, yakni kemampuan berkomunikasi dan artikulasi bahasaku semakin payah. Belum lagi urusan mengemukakan ide dan argumentasi, rasanya susah sekali untuk dipresentasikan. Bagaimana ceritanya mau buat buku tahun ini kalau begitu. Buktinya, saat menulis ini. Rasanya aku punya banyak ide di kepala, tetapi pada saat dieksekusi, malah tidak ada yang keluar dari kepala. Alhasil, isi tulisan ini tidak karuan dan enggak jelas apa yang dimaksudkan. Nah, daripada makin melantur, sepertinya lebih baik percobaan pertama menulis lagi ini disudahi.

Terima kasih sudah membaca ya! Tetap jaga diri dan jaga sesama, jangan lupa cuci tangan!

Daily Life

Serba-serbi Mengawali Perjalanan Menikmati Dunia Bawah Laut

Kadangkala kamu harus bersyukur jika memiliki sifat impulsif dan spontan.

"Nden, enaknya ngapain ya? Liburan ke mana gitu..."
"Hmmm... Ngambil license diving aja yuk!"
"Eh, bener juga! Ayo, ni gw cariin divecourse-nya ya"
"Sip!"

Percakapan itu tiba-tiba muncul saat saya tengah nongkrong bareng seorang teman main di Starbucks Lotte Shopping Avenue. Beberapa pekan kemudian, saya dan dia sudah mendapatkan sertifikasi Open Water Diver, alias kami sudah punya izin untuk menyelam dengan kedalaman maksimal 18 meter.

Continue reading “Serba-serbi Mengawali Perjalanan Menikmati Dunia Bawah Laut” »
Daily Life

Mengaplikasikan Tuma’ninah di 2019

Tuma’ninah: diam sejenak sebelum berpindah ke gerakan shalat selanjutnya.

Selamat datang 2019!

Ini merupakan tahun yang saya nanti-nanti, setelah melewati 2018 yang cukup terjal dan melelahkan. Mungkin hampir sama dengan sebagian orang lainnya, tahun baru artinya harapan baru. Banyak hal-hal baru yang ingin segera saya laksanakan di tahun ini. Beberapa resolusi juga sudah saya susun.

Continue reading “Mengaplikasikan Tuma’ninah di 2019” »
Random Thoughts

Menjalani Hidup Sebagai Orang Rata-rata

Saya mengawali tulisan ini setelah menutup tab-tab peramban yang berisi persyaratan pendaftaran beasiswa S3 Fulbright, halaman produk sampo kuda di tokopedia, serta beberapa akun media sosial dan halaman berita.

Beberapa hari belakangan, pikiran saya memang sedikit penuh, pun hati sedikit sesak. Ada beberapa hal yang cukup mengganggu dan membuat hidup saya menjadi tidak biasa.

Continue reading “Menjalani Hidup Sebagai Orang Rata-rata” »
Random Thoughts

Mengapa Perempuan Enggan Berkarir di Industri STEM?

Kesadaran masyarakat akan pentingnya perempuan dalam bidang sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) terus meningkat. Bahkan, minat para pelajar perempuan untuk meneruskan pendidikan pada bidang tersebut tergolong tinggi.

Hanya saja, antusiasme tersebut ternyata tidak berlanjut pada jenjang professional, dan hal ini mengindikasikan adanya masalah yang dihadapi dan perlu diselesaikan.

Continue reading “Mengapa Perempuan Enggan Berkarir di Industri STEM?” »
Data Journalism

Mencermati dan Menganalisis Infografik Ala Media Online di Indonesia

Dalam satu dekade terakhir, infografik menjadi media baru yang populer untuk mengomunikasikan informasi terhadap khalayak. Hal ini juga secara cepat diadopsi oleh media massa untuk memperkaya artikel dan berita yang dipublikasikan, fungsinya untuk menarik perhatian pembaca sekaligus memberikan ulasan yang lebih singkat dan efektif. Continue reading “Mencermati dan Menganalisis Infografik Ala Media Online di Indonesia” »

Random Thoughts

Hoaks dan Autokritik Untuk Media Massa

Beberapa hari ke belakang, di dunia Twitter yang saya ikuti ramai akan hujatan dan cibiran terhadap salah satu media online di Indonesia. Pasalnya, media tersebut dianggap menyebar berita palsu atau hoaks akibat keliru mencatut akun Twitter seseorang dan mengaitkannya dengan tersangka gerombolan penyebar hoaks yang ditangkap baru-baru ini. Hal ini menjadi ironi, mengingat media massa yang seharusnya menjadi tempat untuk memverifikasi sebuah informasi, nyatanya malah menegaskan ketidakpercayaan masyarakat terhadapnya melalui konten-konten yang tidak akurat. Untuk itu, sebaiknya media massa harus mulai berbenah jika ingin tetap menjadi sumber informasi yang valid dan dicari oleh pembaca. Continue reading “Hoaks dan Autokritik Untuk Media Massa” »